Konsep Unik Kantin di Majalengka: Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya

Konsep Unik Kantin di Majalengka: Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Minggu, 26 Jul 2026 12:00 WIB
Warung Mimi Encas Majalengka.
Warung Mimi Encas Majalengka. (Foto: Istimewa)
Majalengka -

Sebuah kantin dengan konsep tak biasa hadir di Jalan Raya Rajagaluh-Sukahaji, Desa Salagedang, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka. Di tempat ini, pengunjung dipersilakan makan sepuasnya dan membayar seikhlasnya.

Kantin tersebut diberi nama Warung Mimi Encas. "Warung Mimi Encas itu makan sepuasnya, bayar seikhlasnya. Terus kalau pun perlu ada kembalian, kembaliannya ambil sendiri. Jadi bebas di situ," kata pemilik Warung Mimi, Ateng Sutisna kepada detikJabar, Sabtu (25/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Warung Mimi Encas berbagi menu disajikan. Menu masakan rumahan seperti sayur asam, ikan asin, tempe, tahu, telur, ayam hingga ikan yang berganti setiap hari disajikan di tempat ini. Bahkan ke depan, menu khas Majalengka juga akan lebih banyak dihadirkan sebagai ciri khas tempat tersebut.

"Ke depannya warung ini akan menonjolkan masakan lokal Majalengka. Kalau hampas di sini sudah mulai ada. Nanti akan ada pencok katel, yang khas-khas Majalengka itulah," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Sejak di buka, kantin tersebut kini selalu ramai. Pada hari biasa, jumlah pengunjung mencapai sekitar 500 orang per hari. Sementara saat akhir pekan, pengunjung bisa menembus 1.500 orang.

Untuk melayani pengunjung sebanyak itu, dapur Warung Mimi Encas menghabiskan sekitar 80 kilogram beras setiap hari. Angka itu meningkat menjadi sekitar 150 kilogram saat Sabtu dan Minggu.

"Kalau hari biasa sekitar 500 orang. Hari libur bisa sampai 1.500 orang," ucapnya.

Ateng mengaku konsep makan seikhlasnya sebenarnya belum menghasilkan keuntungan. Operasional masih ditopang dari hasil panen sawah miliknya untuk kebutuhan beras, sementara sebagian tenaga kerja berasal dari keluarga yang menjadi relawan.

"Kalau untuk makan sepuasnya bayar seikhlasnya itu masih minus. Minusnya hanya tenaga kerja sama beras. Beras dari sawah saya, tenaga kerjanya banyak saudara yang jadi relawan," jelasnya.

Warung Mimi Encas Majalengka.Warung Mimi Encas Majalengka. Foto: Istimewa

Selain itu, pihaknya kini melengkapi kawasan tersebut dengan konsep warung jujur, yakni penjualan minuman dan makanan ringan dengan harga yang telah ditentukan, namun pembayaran tetap mengandalkan kejujuran pembeli.

Menurut Ateng, konsep itu justru mulai memberikan hasil. Dalam waktu kurang dari satu bulan, keuntungan dari warung jujur telah disalurkan menjadi santunan untuk anak yatim hingga mencapai sekitar Rp10 juta.

"Sekarang belum sampai satu bulan, kita bisa nyumbang untuk anak yatim itu bisa sampai Rp10 juta dari kantin itu," ungkapnya.

Selain menjadi tempat makan, lokasi ini juga berkembang menjadi ruang berkumpul berbagai komunitas hingga tempat warga menyampaikan aspirasi.

Adapun ide tempat tersebut hadir bermula dari tingginya antusiasme masyarakat saat kegiatan buka puasa dan sahur bersama pada Ramadan lalu. Setelah Lebaran, konsep makan sepuasnya dengan pembayaran sukarela pun mulai diterapkan.

"Jadi tempat ini memang saya ingin menampung barangkali masyarakat ada aspirasi atau apa. Daripada saya ngumpulin orang atau datang keliling, walaupun sekarang juga masih keliling cuma belum terkover semua. Saya mencoba membuat tempat ini menjadi tempat penyampaian aspirasi," ujar Ateng yang juga kini menjabat anggota DPR RI.

"Dan ternyata, dimulai waktu bulan puasa, adanya kegiatan buka dan saur bareng, itu peminatnya banyak. Nah, setelah Lebaran, kita (baru) buka Warung Mimi Encas," ucapnya.

Menurutnya, konsep tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Berbagai komunitas, mulai dari seniman, pegiat bonsai, komunitas perikanan hingga kelompok pencinta musik tradisional rutin memanfaatkan tempat tersebut untuk berkumpul.

Di lokasi itu juga disediakan sebuah buku yang dapat diisi pengunjung untuk menyampaikan berbagai masukan. Aspirasi yang berkaitan dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya kemudian diteruskan dalam rapat bersama kementerian terkait, sementara aspirasi di bidang lain disampaikan kepada rekan-rekannya di DPR.

"Alhamdulillah bisa menjaring informasi yang terjadi di masyarakat," ujarnya.

Ke depan, kawasan tersebut juga akan dikembangkan menjadi sentra UMKM. Pedagang kecil akan diberi ruang untuk berjualan sehingga pengunjung memiliki lebih banyak pilihan, sementara konsep makan seikhlasnya tetap dipertahankan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Tak hanya menawarkan tempat makan, tempat tersebut juga dilengkapi gazebo, area terbuka, dan lapangan yang dapat digunakan untuk pertemuan maupun kegiatan komunitas. Bahkan, pengelola berencana membangun area edukasi pertanian berupa sawah mini, kolam ikan, hingga peternakan kecil sebagai sarana belajar bagi anak-anak.

Sementara itu, salah seorang pengunjung, Babam Arturrahman mengaku, sengaja datang bersama teman-temannya setelah penasaran dengan konsep makan sepuasnya yang hanya dibayar seikhlasnya.

"(Datang ke sini?) Penasaran. Alhamdulillah bisa ngelihat sendiri warga antusias datang ke tempat ini," kata Babam.

Keberadaan warung tersebut cukup membantu, terutama karena lokasinya berada di jalur wisata. Pengunjung yang selesai berwisata bisa beristirahat sekaligus menikmati hidangan dengan biaya yang terjangkau.

"Ya, sangat membantu. Ya inilah mungkin bisa dibilang untuk wisatawan kunjungan terakhir lah ke sini. Barangkali yang udah dari wisata yang lain yang ada di Rajagaluh, akhirnya bisa mampir ke sini untuk bisa makan bareng sama keluarga. Mumpung di sini tempatnya juga enak lah untuk family," ujar Babam.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads