Susanto (44), Dukuh Ngelorejo, di Wonosari, Gunungkidul memanfaatkan galon bekas untuk menanam padi di pekarangan seluas 10 m2. Begini kisahnya yang menginspirasi.
"Saya ingin mengedukasi masyarakat dengan biaya semurah-murahnya bisa menanam, khususnya padi. Contoh, saya punya lahan 10 m2 dengan estimasi 1.000 galon. Nah dengan kalkulasi misal beli sawah 10 m2 kan Rp 15-20 juta. Tapi dengan galon Rp 2 juta, dan tanah beli katakanlah Rp 1 juta kan sangat terjangkau sekali," ujar Susanto kepada detikJogja, Senin (29/6/2026).
Susanto mengaku terinspirasi dari unggahan Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih yang menanam menggunakan galon di rumah dinasnya. Sejak itu dia mulai mencari galon bekas untuk bercocok tanam di lahan 10m2 yang terbengkalai miliknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam waktu empat bulan, Santo Mboso sapaannya, bisa mengumpulkan 1200 galon bekas. Namun, hanya 840 galon yang bisa tertampung di lahan miliknya.
"Galon itu lalu diberi tanah dan benih padi Ciherang, padi sisa itu. Untuk mulai menanam padi di galon itu akhir bulan Maret 2026," ucapnya.
Dukuh Ngelorejo, Gunungkidul, Susanto saat mencari galon untuk media tanam padi. Foto: dok. pribadi/Susanto |
Perawatan padi di galon itu pun hemat air karena tak selalu disiram. Terkait hasilnya, Santo mengaku satu galon bisa menghasilkan sekitar satu ons (100 gram di Indonesia) gabah. Artinya dengan 840 galon yang dimilikinya, diperkirakan Susanto bisa mendapatkan 84 kg gabah.
"Sebagian sudah panen, kemarin sama Bu Bupati yang memanen. Kalau jumlahnya kira-kira satu galon 1 ons, tapi ini mau saya sampling lagi jumlahnya. Untuk hasil panennya kemarin bagus, mungkin karena kontrol pupuk baik, pencegahan hama juga berlangsung dengan baik," ucapnya.
Kini aksi Santo bercocok tanam dengan galon itu mulai dilirik warganya. Banyak warganya kini tertarik menanam sayur dengan media tanam galon bekas.
"Warga mulai tertarik menanam sayuran pakai galon, tidak apa-apa. Karena yang penting mereka sudah memanfaatkannya jadi lahan produktif, apalagi di Gunungkidul banyak lahan atau pekarangan tidak produktif," katanya.
Tak Perlu 'Macul'
Penampakan ratusan galon disulap jadi media tanam padi milik Dukuh Ngelorejo, Gari, Wonosari, Gunungkidul, Susanto. Foto: dok. Dukuh Ngelorejo Susanto |
Menanam padi dengan menggunakan galon ternyata memiliki banyak keuntungan. Salah satunya, warga tak perlu mencangkul atau membajak sawah.
"Menanam padi pakai galon ini banyak keuntungannya, seperti perawatannya mudah karena tinggal disiram air saja. Nah, yang paling penting tidak perlu macul dan membajak tanah," katanya.
Selain itu, keuntungan menanam padi menggunakan galon bisa Santo pantau langsung. Pasalnya Santo hanya memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai lokasi penanaman padi menggunakan galon bekas.
"Terus bisa dipantau langsung karena kan lokasinya ada di pekarangan. Jadi kalau ada serangan burung pipit bisa langsung digusah (dihalau)," ucapnya.
Meski Santo akui tanaman padi di galon miliknya belum panen semua. Namun kembali lagi, Santo hanya ingin menunjukkan bahwa dengan biaya minim semua orang bisa menanam padi di pekarangan rumah.
"Kalau sekarang belum panen lagi, karena ada yang ditanam tidak bersamaan juga kan. Pokoknya yang penting warga jadi tahu kalau menanam padi atau lainnya tidak perlu biaya tinggi dan bisa dilakukan di rumah," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di detikJogja. Baca selengkapnya di sini.


