Sebentar lagi Umat Muslim akan menghadapi hari-hari yang paling dicintai oleh Allah subhanallahu ta'ala. Jika di bulan Ramadan ada di 10 hari terakhir, maka di bulan Dzulhijjah ada 10 hari awal yang di hari itu setiap amalan akan dilipatgandakan ganjarannya.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alahi wa sallam :
مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هذه الأَيَّامِ - يعني أيام العشر - قالوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ الله ؟ قال وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ الله إَلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذلك بِشَيْءٍ
"Tidak ada hari yang amalannya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini - yakni sepuluh hari bulan Dzulhijjah -, lalu para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah ?" jawab Nabi: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan mengorbankan jiwa dan hartanya lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apapun darinya".1
Tentunya dalam menghadapi hari-hari yang dicintai Allah tersebut, seorang muslim harus membekali diri dengan ilmu.
Lalu bagaimana kita menghadapi musim-musim ketaatan ini ?
Pertama, Bertaubat.
Karena ketaatan mesti disambut dengan kebersihan, dan kebersihan bisa membuka pintu Taufik dari Allah subhanahu wa ta'ala, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ ٥ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ٦ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ٧
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah". (al-lail [92]: 5-7)
Syaikh as-Sa'di rahimahullah berkata:
"Kami memudahkan segala urusannya, kami jadikan segala kebaikan ringan baginya, juga tidak berat untuknya meninggalkan segala keburukan".2
Kedua, Tekad yang kuat untuk memanfaatkan waktu guna taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik". (Al-Ankabut [29]: 69)
Ketiga, Meninggalkan kemaksiatan.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
وَمِنْهَا تَعْسِيْرُ أُمُوْرِهِ عَلَيْهِ. فَلاَ يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلاَّ يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُوْنَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ وهذَا كَمَا أَنَّ مَن اتَّقَى اللهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
"Dan diantara akibat buruk maksiat adalah, Allah subhanahu wa ta'ala mempersulit segala urusannya, tidaklah dia menghadapi sesuatu kecuali mendapatinya dalam keadaan terkunci dan sulit untuk dibuka, hal itu sebagaimana orang yang bertakwa senantiasa diberikan kemudahan oleh Allah dalam urusan-urusannya".3
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤
"Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". (Ath-Thalaq [65]: 4).
(yum/yum)