Banjir Sapan dan Kisah Perjalanan 2 Mahasiswa Jadi Penuh Drama

Wisma Putra - detikJabar
Senin, 27 Apr 2026 08:30 WIB
Banjir rendam Jalan Raya Sapan, Kabupaten Bandung (Foto: Wisma Putra)
Bandung -

Mendung yang menggantung di langit Bandung tak lagi sekadar pertanda hujan bagi warga Sapan. Ia telah berubah menjadi sinyal yang penuh kecemasan, apakah hari itu akan berlalu biasa saja, atau kembali menghadirkan banjir yang memutus aktivitas dan harapan.

Wilayah Sapan memang seperti berada di simpul masalah. Tiga aliran sungai yakni Citarik, Cikeruh, dan Citarum bertemu dan sewaktu-waktu meluap, 'menenggelamkan' jalanan, permukiman, hingga akses vital yang menghubungkan Kabupaten Bandung dengan Kota Bandung.

Ketika air naik, titik-titik seperti Jalan Cagak Sapan, kawasan industri, hingga jalur perbatasan menuju Gedebage ikut lumpuh. Dampaknya menjalar ke ruas-ruas lain seperti Baleendah-Bojongsoang, Banjaran-Dayeuhkolot, hingga Majalaya-Cicalengka dan Rancaekek.

Bagi warga, ini bukan sekadar banjir. Ini adalah rutinitas yang melelahkan.

Mentari Ziyadatul Khairi (18), mahasiswa asal Pacet, merasakannya langsung. Setiap kali hujan turun, perjalanan menuju kampusnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah menjadi ketidakpastian.

"Jalanan menuju kampus suka tergenang banjir dibeberapa titik dan genangannya lumayan dalam hingga tidak bisa dilalui kendaraan roda dua. ⁠Kalau banjir suka memutar cari jalan yang bisa dilalui kendaraan roda dua. pakai jalur alternatif KCIC, meskipun sebenernya ada beberapa titik yang banjir juga tetapi masih bisa dilalui oleh roda dua," kata Mentari belum lama ini.

Dalam kondisi tertentu, ia tak punya pilihan selain menerobos genangan. Namun risiko selalu mengintai.

"Jika airnya tidak terlalu dalam terpaksa menerobos banjir kalau pun air nya dalam ikut menginap di kos temen," ujarnya.

Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat hujan deras mengguyur sepulang kuliah. Air yang awalnya dangkal tiba-tiba meninggi dan arusnya menguat.

"Pernah waktu itu pulang ngampus hujan besar dan air sudah mulai naik ke jalanan tetapi tetap menerobos karna sudah setengah perjalanan sampai pada akhirnya air semakin tinggi dan sempat minggir dulu karna kalo memaksakan takut terbawa arus, akhirnya warga sekitar bantu buat dorong dorong motor dan jalan ke gang gang kecil, ini paling parah karna lihat langsung kejadiannya di depan mata banyak pohon sampai tumbang dan air sangat deras di jalanan," ungkapnya.

Sejak itu, Mentari tak pernah lepas dari ponsel untuk memantau kondisi banjir melalui grup WhatsApp dan media sosial. Namun, rasa jenuh tak bisa lagi disembunyikan.

"Jujur bosen karena gak jarang juga masuk kelas telat dikarenakan muter-muter cari jalan yang gak banjir," ujarnya.




(dir/dir)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork