Pukul tujuh pagi, saat sebagian orang baru memulai harinya, Heru Haerudin (33) sudah lebih dulu melangkah keluar rumahnya di Sapan Gudang, Desa Tegalluar, Kabupaten Bandung, untuk berangkat kerja. Celana pendek dan sandal jepit menjadi teman setia.
Baju kerja ia lipat rapi di dalam tas, dibungkus plastik. Bahkan sejak di dalam rumah, banjir selutut orang dewasa sudah menantinya di lantai bawah.
Dari halaman rumahnya, jalanan berubah seperti danau. Air menggenang luas, menutupi jalan dan sawah di sekitarnya. Heru kemudian berjalan pelan, membelah air bersama warga lain yang juga berangkat kerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesekali ia berhenti, mencari tumpangan dari mobil besar yang melintas. Jika beruntung, ia bisa menumpang sebentar. Jika tidak, ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Perjalanan menuju titik kering memakan waktu hingga hampir satu jam. Jarak yang sebenarnya hanya sekitar dua kilometer terasa jauh karena harus ditempuh di dalam air.
Setelah sampai di area yang tidak tergenang air, Heru melanjutkan perjalanan dengan ojek atau berjalan lagi menuju tempat ia menitipkan motor di rumah saudaranya di bilangan Rancabolang. Dari sana, barulah ia benar-benar "berangkat kerja" seperti orang kebanyakan. Berganti pakaian dan sandal, menyalakan motor untuk bergabung dengan ratusan pengendara lainnya di lalu lintas padat.
Jika di kondisi normal ia bisa tiba di kantor dalam satu jam dengan mengendarai motor dari depan rumah, kali ini, waktu satu jam sudah dihabiskan hanya untuk melintasi banjir. Ia kemudian tiba di kantor sebelum pukul sepuluh di kantornya di kawasan Setrasari, Sukajadi, seperti biasanya.
Jalanan kota tidak banyak berubah. Namun, rutinitas Heru sudah terkuras sejak pagi.
"Ya kadang ada sih perasaan kalau melihat teman itu, enak ya. Kalau sedang banjir begini mereka enggak usah repot-repot. Tetap normal aja seperti biasa. Sementara saya mah lebih heboh, harus lewatin banjir dulu. Jadi lebih riweuh lah persiapan untuk berangkat kerjanya," ungkap Heru saat dihubungi detikJabar, Kamis (16/4/2026).
Menjelang sore, sekitar pukul enam, ia akan bersiap pulang. Perjalanan kembali mengulang pola yang sama, hanya saja suasana lalu lintas tidak sepadat pagi hari. Ia akan turun di Rancabolang, menaruh motornya, memesan ojek online, lalu berjalan lagi menembus genangan air menuju rumah.
"Enaknya kalau lewat magrib itu jalanan udah enggak terlalu ramai sih. Cuma ya masih harus lewatin banjir, untungnya ada penerangan jalan. Kadang ketemu sama yang lagi dorong motor, atau yang sama-sama cari tumpangan. Ada juga warga yang lagi cari ikan (di air banjir) jam segitu mah," paparnya seraya tertawa.
Genangan air yang menggenangi rumah Heru di Sapan, Kabupaten Bandung Foto: Dok. Heru Haerudin |
Sesampainya di rumah, ia pun tidak benar-benar terbebas dari air. Lantai bawah masih terendam. Sehari-harinya di saat banjir melanda, ia dan lima anggota keluarganya bertahan di lantai dua.
Aktivitas sehari-hari menyesuaikan keadaan. Bahkan untuk memasak, ia harus turun ke dapur dengan kaki terendam air.
"Masak juga ya di dapur sambil banjir-banjiran aja, sambil terendam air," jelasnya.
Hidup Berdampingan dengan Banjir
Banjir bukan hal baru bagi Heru. Ia yang sejak kecil sudah tinggal di rumah tersebut merasa banjir telah menjadi tamu rutin yang bisa mampir ke depan pintu rumahnya kapan saja. Terutama jika musim hujan melanda.
"Dalam setahun itu, banjir besar seperti sekarang bisa muncul dua sampai tiga kali. Kalau banjir-banjir kecil se-mata kaki gitu mah, udah sering banget. Sudah biasa lah," terangnya.
Ia bahkan mengingat momen ketika putri presiden kedua Indonesia kala itu, Titiek Soeharto, mengunjungi kawasan dekat rumahnya yang tengah dilanda banjir. Tahun demi tahun berselang, kepala negara dan kepada daerah silih berganti, banjir yang kala itu ditinjau masih juga menjadi momok yang menghantui hingga saat ini.
"Keluarga juga sudah puluhan tahun tinggal rumah itu. Selama itu ya banjirnya tetap saja, dari dulu seperti ini. Jadi seperti memang sudah benar-benar hidup berdampingan dengan banjir," katanya.
Alih-alih membaik, ia merasa dari tahun ke tahun air banjir justru semakin tinggi. Air lebih cepat naik, dan surut lebih lama. Beberapa kali rumahnya direnovasi untuk ditinggikan permukaan lantainya. Namun, banjir tetap saja berhasil masuk. Tahun ini, ia menilai, banjir semakin parah.
"Dulu tuh banjir di lantai bawah rumah paling merendam satu anak tangga. Sekarang, air naik sampai anak tangga ketiga. Berarti kan genangannya semakin dalam. Padahal rumah tuh sudah pernah ditinggikan. Surutnya juga bisa lama banget, bisa lebih dari lima hari bahkan dua minggu," jelasnya.
Genangan air yang menggenangi rumah Heru di Sapan, Kabupaten Bandung Foto: Dok. Heru Haerudin |
Jika sudah lewat satu minggu, Heru memaparkan, masalah lain mulai berdatangan. Selain hati yang semakin dongkol, penyakit kulit pun bisa merebak.
"Kalau surutnya lama itu biasanya mulai pada gatal-gatal. Itu sudah kaya penyakit rutin. Bahkan di posko-posko banjir itu sudah ada obat-obatnya untuk penyakit kulit. Biasanya warga yang baru pindah mengontrak di sini yang kena. Warga lama mah kadang sudah enggak ngerasa, mungkin sudah imun," ujarnya tertawa.
Heru mengatakan ia dan keluarga sudah cukup terbiasa dengan keadaan tersebut. Banyak hal yang membuat mereka tetap merasa nyaman tinggal di rumah yang sudah menaungi kehidupan mereka selama puluhan tahun.
Dalam kondisi banjir parah, biasanya para tetangganya mulai mengungsi di rumah saudara dan kerabat. Ada juga yang memilih tinggal di masjid terdekat. Sementara Heru dan keluarganya termasuk yang setia bertahan.
"Sempat sih beberapa kali menginap di rumah teman atau menginap di kantor. Tapi tetap saja, lebih enak bela-belain pulang ke rumah, karena lebih nyaman. Namanya rumah sendiri kan," katanya.
Berharap Keadaan Berubah
Ia yang sudah menyaksikan tempat tinggalnya dihantam air berkali-kali, merasa tidak banyak perubahan yang dilakukan pemerintah. Meski beberapa kali ia melihat petugas menormalisasi sungai, namun hal tersebut belum berdampak nyata.
"Ini kan sudah lama banget ya banjirnya, dari tahun 90-an juga sudah banjir. Beberapa kali ganti kepala daerah tapi kok kayak enggak ada perhatian khusus. Inginnya sih segera dibuat danau buatan untuk menampung air, atau sungai rutin lebih rutin dikeruk, atau apalah. Setidaknya kalau ada banjir pun, airnya tidak sampai terlalu tinggi," harapnya.
Tinggal di kawasan rendah cekungan Bandung, ia mengaku sudah sangat menyadari resiko banjir yang sewaktu-waktu mengintai. Ia pun tidak berharap banjir hilang sepenuhnya. Setidaknya, air tidak sampai menyulitkan aktivitas dan bisa surut lebih cepat.
"Ya Sapan kan memang lokasinya di cekungannya banget ya. Air mungkin bakal tumpah ke sana semua. Minimal kalau banjir pun, besok paginya bisa segera surut. Kalau satu, dua hari, mungkin warga masih bisa terima. Jangan sampai berhari-hari apalagi sampai dua minggu. Orang sudah keburu kesal," keluhnya.
"Saya jadi suka bertanya-tanya. Selain karena (banjir) memang sudah ketetapan Allah, tapi apa sih yang salah. Apa yang bisa dilakukan orang-orang agar masalah banjir ini bisa segera teratasi," tutupnya.
(yum/yum)












































