Mendung yang menggantung di langit Bandung tak lagi sekadar pertanda hujan bagi warga Sapan. Ia telah berubah menjadi sinyal yang penuh kecemasan, apakah hari itu akan berlalu biasa saja, atau kembali menghadirkan banjir yang memutus aktivitas dan harapan.
Wilayah Sapan memang seperti berada di simpul masalah. Tiga aliran sungai yakni Citarik, Cikeruh, dan Citarum bertemu dan sewaktu-waktu meluap, 'menenggelamkan' jalanan, permukiman, hingga akses vital yang menghubungkan Kabupaten Bandung dengan Kota Bandung.
Ketika air naik, titik-titik seperti Jalan Cagak Sapan, kawasan industri, hingga jalur perbatasan menuju Gedebage ikut lumpuh. Dampaknya menjalar ke ruas-ruas lain seperti Baleendah-Bojongsoang, Banjaran-Dayeuhkolot, hingga Majalaya-Cicalengka dan Rancaekek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi warga, ini bukan sekadar banjir. Ini adalah rutinitas yang melelahkan.
Mentari Ziyadatul Khairi (18), mahasiswa asal Pacet, merasakannya langsung. Setiap kali hujan turun, perjalanan menuju kampusnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah menjadi ketidakpastian.
"Jalanan menuju kampus suka tergenang banjir dibeberapa titik dan genangannya lumayan dalam hingga tidak bisa dilalui kendaraan roda dua. β Kalau banjir suka memutar cari jalan yang bisa dilalui kendaraan roda dua. pakai jalur alternatif KCIC, meskipun sebenernya ada beberapa titik yang banjir juga tetapi masih bisa dilalui oleh roda dua," kata Mentari belum lama ini.
Dalam kondisi tertentu, ia tak punya pilihan selain menerobos genangan. Namun risiko selalu mengintai.
"Jika airnya tidak terlalu dalam terpaksa menerobos banjir kalau pun air nya dalam ikut menginap di kos temen," ujarnya.
Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat hujan deras mengguyur sepulang kuliah. Air yang awalnya dangkal tiba-tiba meninggi dan arusnya menguat.
"Pernah waktu itu pulang ngampus hujan besar dan air sudah mulai naik ke jalanan tetapi tetap menerobos karna sudah setengah perjalanan sampai pada akhirnya air semakin tinggi dan sempat minggir dulu karna kalo memaksakan takut terbawa arus, akhirnya warga sekitar bantu buat dorong dorong motor dan jalan ke gang gang kecil, ini paling parah karna lihat langsung kejadiannya di depan mata banyak pohon sampai tumbang dan air sangat deras di jalanan," ungkapnya.
Sejak itu, Mentari tak pernah lepas dari ponsel untuk memantau kondisi banjir melalui grup WhatsApp dan media sosial. Namun, rasa jenuh tak bisa lagi disembunyikan.
"Jujur bosen karena gak jarang juga masuk kelas telat dikarenakan muter-muter cari jalan yang gak banjir," ujarnya.
Perjalanan Bisa Berjam-jam
Keluhan serupa datang dari Salma Fitri Khoirrunnisa (21), mahasiswa asal Majalaya. Perjalanan yang biasanya hanya 30 menit, bisa berubah menjadi lebih dari satu jam saat banjir melanda.
"Jujur kesel banget apalagi kalo banjirnya tuh sampe yang gak bisa dilewatin, karena kayak biasanya dari rumah ke kampus cuma 30 menitan ini bisa lebih dari sejam dan jadinya awalnya tuh pakian udah rapih, pake sepatu di tengah jalan harus ngelinting celana, harus pake sendal dulu, kali gak bawa malah harus nyeker dan ga jarang udah nerobos ternyata dalem banget dan ujung-ujungnya puter arah dan itu teh ngabisin tenaga dan waktu banget," terang Salma.
Rasa khawatir juga menghantui, terlebih saat harus berkendara sendirian.
"Apalagi aku cewe dan nyetir motor sendiri, suka takut tiba-tiba mogokkatau kalau malamm takut banget karena gelap dan sepi," tambahnya.
Jika kondisi terlalu parah, Salma memilih jalur lain yang lebih jauh demi menghindari banjir.
"Kalau pulang uadah banjir dan udah feeling suka lebih milih muter jalan ke Buahdua (Rancaekek) karena biasanya kalau Sapan cukup dalem Rancaekek ga terlalu dalam banjir," ujarnya.
Menurutnya, banjir yang terjadi pekan ini menjadi salah satu yang terparah sejak ia mulai kuliah pada 2023.
"Jujur rasanya sapan mahh tiapp musim hujan udah pasti banjir, tapi rasanyaa ini paling parah soalnya bener-bener ketutup jalan, bahkan jalan alternatif pun beberapa terdapat genangan banjir, jadi males banget kemana mana apalagi aku nyetir motor sendiri," ujarnya.
Rasa lelah dan frustrasi pun memuncak. Ia menilai persoalan ini tak kunjung menemukan solusi nyata.
"Jujur lebih ke capek, kayak mau nyalahin pemerintah jugaa da gak ada perubahan tetep saja gini lagi, gini lagi dan kalu lihat juga kayak di tiap sungai suka banyak sampah, berarti ini juga kan karena SDM yang kurang mengerti dan aware juga. Harapannya, banjir ini emang masalah yang krusial jadi tolong diprioritaskan cara penanggulangannya," tuturnya.
Baik Mentari maupun Salma menyuarakan harapan yang sama, bahwa banjir di Sapan tak lagi dianggap sebagai hal biasa. Mereka menginginkan langkah nyata, mulai dari pembenahan drainase hingga perbaikan jalur alternatif yang aman dan layak dilalui.
Di tengah genangan yang datang berulang, satu hal yang terus tersisa adalah harapan agar suatu hari nanti, mendung di langit Bandung kembali menjadi sekadar pertanda hujan, bukan ancaman yang menghantui perjalanan hidup mereka.
