Menjaga pola hidup sehat adalah kewajiban jika kamu menginginkan badan yang bugar, terutama dalam menjaga pola makan. Rata-rata penyakit datang dari pola makan yang tidak sehat dan impulsif.
Sering kali, orang-orang yang abai terhadap asupan nutrisi justru memicu berbagai penyakit berbahaya bersarang di tubuhnya.
Keinginan seseorang untuk berdiet juga menjadi dorongan kuat untuk menjaga pola makan. Maka dari itu, berbagai metode diperlukan untuk mencapai target tersebut, salah satunya Intermittent Fasting (IF).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IF dapat didefinisikan sebagai istilah umum untuk beberapa pola makan yang membatasi kalori secara berkala. Tren gaya hidup sehat menjadikan IF semakin dikenal, terutama bagi mereka yang berniat menurunkan berat badan. Namun sebelum memulai, pastikan kamu mengetahui seluk-beluknya secara menyeluruh. detikJabar merangkum beberapa informasi penting yang perlu kamu ketahui.
Jenis-Jenis Intermittent Fasting
Intermittent Fasting mencakup beberapa metode yang dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Pertama, Diet 5:2; metode ini berarti puasa dua hari seminggu dan makan normal di hari-hari lain.
Kedua, Pola 16:8; pola ini dijalankan dengan makan dalam kurun 8 jam dan puasa selama 16 jam. Pola ini sering disebut Time-Restricted Eating. Jika kamu bingung, contoh penerapannya adalah makan pada pukul 10.00-18.00, sedangkan sisa waktunya digunakan untuk berpuasa hingga jadwal makan berikutnya.
Metode lainnya yaitu Alternate Day Fasting (ADF). Metode ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu ADF penuh dan modified ADF. Pada ADF penuh, kamu tidak mengonsumsi kalori sama sekali pada hari puasa, atau membatasinya di angka 0-25% dari kebutuhan harian. Sedangkan pada modified ADF, kamu masih boleh mengonsumsi sekitar 25% dari kebutuhan kalori harian pada hari puasa.
Langkah Memulai Intermittent Fasting
Langkah paling mudah bagi pemula yang ingin menjalankan IF adalah dengan menggunakan metode Time-Restricted Eating atau 16:8 (puasa 16 jam dan makan 8 jam). Melansir University of Michigan, hal pertama yang wajib dilakukan sebelum memulai IF adalah berkonsultasi ke dokter terkait takaran kalori yang diperlukan, terutama jika kamu memiliki kondisi medis tertentu atau sedang mengonsumsi obat-obatan.
Pilihlah metode yang paling ringan terlebih dahulu. Jangan memaksakan metode berat jika ingin konsisten; metode 16:8 merupakan pilihan yang paling realistis bagi pemula. Setelah memilih metode, sesuaikan dengan rutinitas harian, misalnya jendela makan pukul 10.00-18.00. Lakukanlah secara bertahap. Jika terasa berat, mulailah dengan 12 jam puasa terlebih dahulu, lalu tingkatkan secara berangsur-angsur setiap minggunya.
Jangan lupa untuk mencukupi kebutuhan airmu agar tetap terhidrasi selama puasa. Air putih, teh, dan kopi tanpa gula diperbolehkan untuk dikonsumsi. Perlu diingat, jangan melakukan puasa lebih dari 48 jam tanpa pengawasan medis.
Siapa yang Tidak Bisa Melakukan IF?
Ada beberapa kategori orang yang tidak diperbolehkan melakukan Intermittent Fasting. Ibu hamil atau menyusui tidak diperkenankan melakukan IF agar kebutuhan nutrisi bayi tetap terpenuhi. Anak di bawah usia 18 tahun juga tidak disarankan. Selain itu, penderita diabetes yang menggunakan obat-obatan atau insulin tidak disarankan berpuasa agar tetap bisa mengonsumsi obat sesuai jadwal dan menjaga stabilitas gula darah.
Manfaat Intermittent Fasting
Ada banyak manfaat saat kamu menjalankan pola puasa ini. Dari segi ilmiah, IF diketahui memiliki dampak positif bagi tubuh. Studi menunjukkan bahwa IF dan diet pembatasan kalori tradisional memiliki efektivitas yang setara untuk penurunan berat badan. Namun, Alternate Day Fasting menunjukkan hasil lebih unggul dengan menghasilkan penurunan berat badan 1,3 kg lebih besar dibanding metode diet lainnya.
Tidak hanya sampai di situ, studi lainnya dari University of California San Diego tahun 2024 melaporkan bahwa IF dapat memperpanjang umur dan membantu mengatasi berbagai kondisi penyakit. Hal ini termasuk memberikan pengaruh positif pada mikrobioma tubuh manusia serta meminimalkan dampak apoptosis organel sel.
Itulah beberapa hal yang perlu kamu ketahui sebelum memulai Intermittent Fasting. Pastikan kamu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar mengetahui porsi yang tepat untuk tubuhmu. Selalu pantau kondisi fisik dengan cermat dan jangan memaksakan diri. Hal terpenting adalah menjaga pola makan demi tubuh yang bugar dan sehat.
(sud/sud)
