Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengusulkan agar hasil tangkapan ikan sapu-sapu tidak sekadar dikubur, melainkan diolah menjadi pelet pakan ternak hingga pupuk tanaman. Pernyataan ini seolah membuka mata banyak pihak bahwa spesies invasif yang mendominasi sungai dan danau di Indonesia ini sebenarnya menyimpan potensi ekonomi besar jika disentuh dengan inovasi yang tepat.
Alih-alih dipandang sebagai hama yang merugikan dan berujung dimusnahkan, riset ilmiah justru mengungkap bahwa ikan sapu-sapu adalah sumber protein hewani berkualitas tinggi yang mampu menjadi solusi bagi mahalnya harga pakan di industri perikanan saat ini. Di balik reputasinya sebagai "hama" perairan, tersimpan potensi ekonomi dan biologis yang luar biasa jika dikelola dengan pendekatan sains yang tepat.
Berikut ini ringkasan manfaat ikan sapu-sapu yang dirangkum detikJabar dari data sumber terbuka berbasis studi akademik, Selasa (21/4/2026).
Kekuatan Protein dan Lemak Esensial
Banyak orang meragukan nilai gizi ikan sapu-sapu karena tampilannya yang bersisik keras dan habitus hidupnya di dasar perairan (demersal). Namun, riset laboratorium mematahkan persepsi tersebut.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hasnidar, et al. (2021) dalam publikasi berjudul "Analisis Kimia Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys Pardalis Castelnau 1855) Dari Danau Tempe", terungkap bahwa daging ikan sapu-sapu segar mengandung protein sebesar 15,20%, lemak 6,27%, dan kadar abu 4,74%.
Lebih jauh lagi, manfaat ikan sapu-sapu terletak pada kelengkapan asam aminonya. Ikan ini mengandung sepuluh jenis asam amino esensial, mulai dari leusina, arginina, hingga triptofan.
Bukan hanya itu, kandungan asam lemak tak jenuh seperti Omega-3 (DHA dan EPA) serta Omega-6 (linolenat dan linoleat) menjadikannya bahan baku pakan yang sangat berkualitas untuk memacu pertumbuhan biota budidaya.
Mengatasi Ketergantungan Pakan Impor
Dalam industri akuakultur, pakan merupakan komponen biaya terbesar yang mencapai 60% hingga 70% dari total modal usaha. Tingginya harga pakan komersial sebagian besar dipicu oleh ketergantungan pada tepung ikan impor sebagai sumber protein hewani utama.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ruslaini, et al. (2023) berjudul "Pelatihan Pembuatan Tepung Ikan Sapu-Sapu Sebagai Bahan Pakan Alternatif Berkelanjutan di Kelurahan Padaleu Kendari", pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi tepung dapat menjadi solusi substitusi yang sangat bernilai ekonomis. Tepung ikan sapu-sapu memiliki kadar protein yang sangat tinggi, bahkan dalam beberapa studi, kadar protein pada dagingnya yang diolah menjadi tepung dapat mencapai angka 75,5%.
Memanfaatkan bahan lokal yang melimpah ini, pembudidaya dapat menekan biaya produksi sekaligus membantu mengendalikan populasi spesies invasif di perairan umum.
Simak Video "Video Pramono: Ikan Sapu-sapu Dominasi Perairan Jakarta, Populasi Sudah 60%"
(bbp/bbp)