Manfaat Ikan Sapu-sapu: Solusi Pakan Murah Berprotein Tinggi

Infografis

Manfaat Ikan Sapu-sapu: Solusi Pakan Murah Berprotein Tinggi

Baban Gandapurnama - detikJabar
Selasa, 21 Apr 2026 12:43 WIB
Infografis Manfaat Ikan Sapu-sapu.
Infografis Manfaat Ikan Sapu-sapu. (Foto: Visual infografis diolah menggunakan NotebookLM)
Bandung -

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengusulkan agar hasil tangkapan ikan sapu-sapu tidak sekadar dikubur, melainkan diolah menjadi pelet pakan ternak hingga pupuk tanaman. Pernyataan ini seolah membuka mata banyak pihak bahwa spesies invasif yang mendominasi sungai dan danau di Indonesia ini sebenarnya menyimpan potensi ekonomi besar jika disentuh dengan inovasi yang tepat.

Alih-alih dipandang sebagai hama yang merugikan dan berujung dimusnahkan, riset ilmiah justru mengungkap bahwa ikan sapu-sapu adalah sumber protein hewani berkualitas tinggi yang mampu menjadi solusi bagi mahalnya harga pakan di industri perikanan saat ini. Di balik reputasinya sebagai "hama" perairan, tersimpan potensi ekonomi dan biologis yang luar biasa jika dikelola dengan pendekatan sains yang tepat.

Berikut ini ringkasan manfaat ikan sapu-sapu yang dirangkum detikJabar dari data sumber terbuka berbasis studi akademik, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekuatan Protein dan Lemak Esensial

Banyak orang meragukan nilai gizi ikan sapu-sapu karena tampilannya yang bersisik keras dan habitus hidupnya di dasar perairan (demersal). Namun, riset laboratorium mematahkan persepsi tersebut.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hasnidar, et al. (2021) dalam publikasi berjudul "Analisis Kimia Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys Pardalis Castelnau 1855) Dari Danau Tempe", terungkap bahwa daging ikan sapu-sapu segar mengandung protein sebesar 15,20%, lemak 6,27%, dan kadar abu 4,74%.

ADVERTISEMENT

Lebih jauh lagi, manfaat ikan sapu-sapu terletak pada kelengkapan asam aminonya. Ikan ini mengandung sepuluh jenis asam amino esensial, mulai dari leusina, arginina, hingga triptofan.

Bukan hanya itu, kandungan asam lemak tak jenuh seperti Omega-3 (DHA dan EPA) serta Omega-6 (linolenat dan linoleat) menjadikannya bahan baku pakan yang sangat berkualitas untuk memacu pertumbuhan biota budidaya.

Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di anak Kali Ciliwung, Matraman, Jakarta, Senin (20/4/2026). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berencana membentuk petugas penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP) khusus untuk menangkap dan mengatasi ikan sapu-sapu agar upaya menjaga ekosistem perairan di Jakarta dapat dilakukan secara berkelanjutan.Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di anak Kali Ciliwung, Matraman, Jakarta, Senin (20/4/2026). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berencana membentuk petugas penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP) khusus untuk menangkap dan mengatasi ikan sapu-sapu agar upaya menjaga ekosistem perairan di Jakarta dapat dilakukan secara berkelanjutan. (Foto: Ari Saputra/detikFoto).

Mengatasi Ketergantungan Pakan Impor

Dalam industri akuakultur, pakan merupakan komponen biaya terbesar yang mencapai 60% hingga 70% dari total modal usaha. Tingginya harga pakan komersial sebagian besar dipicu oleh ketergantungan pada tepung ikan impor sebagai sumber protein hewani utama.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ruslaini, et al. (2023) berjudul "Pelatihan Pembuatan Tepung Ikan Sapu-Sapu Sebagai Bahan Pakan Alternatif Berkelanjutan di Kelurahan Padaleu Kendari", pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi tepung dapat menjadi solusi substitusi yang sangat bernilai ekonomis. Tepung ikan sapu-sapu memiliki kadar protein yang sangat tinggi, bahkan dalam beberapa studi, kadar protein pada dagingnya yang diolah menjadi tepung dapat mencapai angka 75,5%.

Memanfaatkan bahan lokal yang melimpah ini, pembudidaya dapat menekan biaya produksi sekaligus membantu mengendalikan populasi spesies invasif di perairan umum.

Mengubah 'Hama' Menjadi Tepung Berkualitas

Salah satu tantangan dalam merasakan manfaat ikan sapu-sapu adalah struktur tubuhnya yang memiliki kulit dan sisik sangat keras. Tanpa penanganan yang tepat, ikan ini sulit diolah secara manual. Sebagaimana dalam jurnal berjudul "Pelatihan Pembuatan Tepung Ikan Sapu-Sapu Sebagai Bahan Pakan Alternatif Berkelanjutan di Kelurahan Padaleu Kendari", berikut langkah-langkah membuat tepung ikan sapu-sapu:

  1. Pembersihan: Ikan sapu-sapu dibersihkan dengan cara mengeluarkan isi perut (usus) dan insangnya menggunakan pisau atau gunting bedah. Disarankan untuk membelah bagian perut ikan agar proses pengeringan nantinya bisa berlangsung lebih cepat.
  2. Pengukusan: Ikan yang telah bersih disusun rapi ke dalam wadah pengukusan dan dikukus selama kurang lebih 30 menit. Proses pengukusan ini sangat penting untuk memudahkan pemisahan daging dari tulang dan sisik ikan yang sangat keras.
  3. Pemisahan Daging: Setelah dikukus, daging ikan dipisahkan dari tulang dan sisiknya. Pemisahan ini bertujuan agar proses pengeringan lebih efektif dan mempermudah tahap penepungan.
  4. Pengeringan: Daging (serta tulang dan kulit jika ingin diikutkan) dijemur di bawah sinar matahari selama 2 hingga 3 hari. Jika intensitas matahari kurang, pengeringan bisa memakan waktu hingga 4-5 hari sampai benar-benar kering. Pengeringan bertujuan mengurangi kadar air untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan memperpanjang umur simpan.
  5. Penggilingan (Penepungan): Bahan yang telah benar-benar kering digiling menggunakan mesin penggiling. Karena ikan sapu-sapu didominasi oleh tulang yang kokoh dan keras, penggunaan mesin penggiling lebih disarankan daripada alat manual. Masukkan bahan sedikit demi sedikit ke dalam mesin agar proses penghalusan lebih optimal. Selain mesin giling, penggunaan blender juga dimungkinkan untuk skala kecil.
  6. Pengayakan: Hasil gilingan kemudian diayak untuk mendapatkan tekstur tepung yang halus dan memisahkannya dari ampas atau bagian yang masih kasar.
Tepung ikan sapu-sapu yang sudah jadi dapat langsung dimanfaatkan sebagai campuran pakan atau disimpan dalam jangka waktu tertentu untuk dijual guna menambah penghasilan. Tepung ini diketahui memiliki kandungan gizi yang lengkap, termasuk protein tinggi yang berkisar antara 56,51% hingga 65,45%.
Infografis Ikan Sapu-sapuInfografis Ikan Sapu-sapu. (Foto: Visual infografis diolah menggunakan NotebookLM)

Hambatan Adopsi dan Tantangan di Tingkat Peternak

Meskipun data ilmiah menunjukkan manfaat ikan sapu-sapu yang besar, tingkat adopsi di masyarakat peternak masih menghadapi beberapa kendala. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Abdullah, et al. (2025) berjudul "Hambatan Adopsi Pemanfaatan Ikan Sapu-Sapu Sebagai Pakan Ternak Di Perairan Danau Kabupaten Soppeng", ditemukan bahwa 93% responden awalnya tidak mengetahui bahwa ikan sapu-sapu memiliki manfaat sebagai pakan ternak.

Selain ketidaktahuan, hambatan teknis seperti sulitnya penanganan karena kulit yang keras (73% responden) dan anggapan bahwa proses pengolahan membutuhkan biaya tambahan (50% responden) menjadi faktor penghambat. Sebab itu, diperlukan intensitas penyuluhan dan pendampingan teknologi agar potensi sumber daya lokal ini dapat diserap secara maksimal untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan peternak di pedesaan.

Manfaat ikan sapu-sapu sebagai bahan baku pakan alternatif (mengolahnya menjadi tepung atau pelet) merupakan fakta ilmiah yang didukung oleh data kimiawi dan uji pertumbuhan. Transformasi ikan ini menjadi pakan mandiri bukan hanya strategi untuk menekan biaya operasional akuakultur, tetapi juga bentuk manajemen ekosistem yang cerdas.

Melalui dukungan teknologi pengolahan dan edukasi yang berkelanjutan, ikan sapu-sapu dapat diubah dari ancaman lingkungan menjadi aset ekonomi yang berharga. Pada akhirnya, mengubah status ikan sapu-sapu dari pengganggu ekosistem menjadi pakan berkualitas adalah langkah nyata menuju kemandirian budidaya yang berkelanjutan.




(bbp/bbp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads