Kenapa Ikan Sapu-sapu Dimusnahkan Massal? Ini Bahayanya

Kenapa Ikan Sapu-sapu Dimusnahkan Massal? Ini Bahayanya

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Rabu, 22 Apr 2026 10:54 WIB
5 Cara Membasmi Ikan Sapu-sapu di Sungai, Hama Invasif Pengancam Ekosistem
Foto: Juan Carlos Caicedo Hernández/iNaturalist/CC BY 4.0
Bandung -

Fenomena pemusnahan massal ikan sapu-sapu belakangan ini ramai terjadi di sejumlah wilayah DKI Jakarta. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya populasi ikan tersebut di sungai-sungai perkotaan, terutama di aliran seperti Ciliwung. Lonjakan jumlah ikan sapu-sapu dinilai telah mengganggu keseimbangan ekosistem perairan, bahkan memicu kekhawatiran dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan pemerintah.

Ikan sapu-sapu yang selama ini dikenal sebagai "pembersih kolam" ternyata menyimpan dampak serius jika berada di alam liar. Banyak masyarakat awalnya tidak menyadari bahwa ikan ini bukan berasal dari Indonesia. Seiring waktu, keberadaannya justru menjadi ancaman bagi ekosistem sungai, terutama karena sifatnya yang sangat adaptif dan sulit dikendalikan.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat ikan sapu-sapu dianggap berbahaya hingga harus dimusnahkan secara massal? Berikut penjelasan lengkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal-usul Ikan Sapu-sapu dan Cara Masuk ke Indonesia

Ikan sapu-sapu atau dikenal secara ilmiah sebagai Pterygoplichthys pardalis merupakan spesies yang berasal dari Amerika Selatan, khususnya wilayah Sungai Amazon. Di habitat aslinya, ikan ini tergolong ikan biasa yang bahkan aman dikonsumsi oleh masyarakat setempat.

ADVERTISEMENT

Namun, keberadaan ikan ini di Indonesia bukan terjadi secara alami. Ikan sapu-sapu masuk melalui perdagangan ikan hias. Bentuk tubuhnya yang unik dengan lapisan keras bertutul membuatnya menarik untuk dipelihara di akuarium atau kolam. Selain itu, ikan ini dikenal sebagai "pembersih alami" karena memakan lumut, alga, dan sisa makanan.

Dalam buku Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung karya Dewi Elfidasari dijelaskan bahwa ikan ini merupakan spesies introduksi, yaitu spesies yang sengaja didatangkan dari luar wilayah atau negara lain. Tingginya minat masyarakat membuat ikan sapu-sapu semakin banyak didatangkan ke Indonesia.

Namun, masalah mulai muncul ketika ikan ini dilepaskan ke perairan umum. Banyak pemilik yang tidak lagi mampu merawatnya, lalu memilih melepas ikan tersebut ke sungai tanpa menyadari dampaknya terhadap lingkungan.

Petugas gabungan turun langsung ke aliran kali di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (17/4/2026), untuk melakukan penangkapan ikan sapu-sapu sekaligus membersihkan sampah dan sedimen yang mencemari perairan.Petugas gabungan turun langsung ke aliran kali di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (17/4/2026), untuk melakukan penangkapan ikan sapu-sapu sekaligus membersihkan sampah dan sedimen yang mencemari perairan. Foto: Muhammad Reevanza/detikfoto

Kemampuan Adaptasi Tinggi Jadi Masalah Utama

Salah satu alasan utama ikan sapu-sapu menjadi masalah adalah kemampuan adaptasinya yang sangat tinggi. Ikan ini mampu hidup di berbagai kondisi perairan, termasuk lingkungan yang tercemar dan memiliki kadar oksigen rendah.

Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Veryl Hasan, menjelaskan bahwa kondisi ini membuat ikan sapu-sapu menjadi dominan di sungai-sungai yang kualitas airnya buruk.

"Singkatnya, ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak," ujar Veryl, dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga.

Artinya, ketika ikan lokal tidak mampu bertahan, ikan sapu-sapu justru berkembang pesat tanpa pesaing yang seimbang. Kondisi ini menjadi awal dari ketidakseimbangan ekosistem.

Tidak Memiliki Predator Alami di Indonesia

Masalah lain yang memperparah kondisi adalah tidaknya adanya predator alami bagi ikan sapu-sapu di perairan Indonesia. Berbeda dengan di habitat aslinya, di mana rantai makanan masih seimbang, di Indonesia ikan ini tidak memiliki musuh alami yang signifikan.

Akibatnya, populasinya terus bertambah tanpa kendali. "Ketika berada di luar habitat aslinya, sapu-sapu dapat menggeser keberadaan ikan lokal. Karena sedikit organisme yang memangsa, populasinya tumbuh tanpa hambatan berarti," jelasnya.

Tanpa predator dan dengan kemampuan bertahan yang tinggi, ikan sapu-sapu dengan cepat mendominasi ekosistem sungai.

Mengancam Ikan Lokal dan Ekosistem

Awalnya, ikan sapu-sapu dikenal hanya memakan alga dan lumut. Namun, seiring waktu, perilakunya berubah. Ikan ini menjadi predator oportunis, yang berarti memakan hampir semua sumber daya yang tersedia.

Selain mengonsumsi tumbuhan air, ikan sapu-sapu juga memakan sisa organisme mati, hewan kecil di perairan bahkan telur ikan lain. Perilaku ini membuat ikan lokal semakin terancam. Mereka tidak hanya kehilangan sumber makanan, tetapi juga kehilangan peluang berkembang biak karena telurnya dimakan.

Dampaknya tidak hanya pada keanekaragaman hayati, tetapi juga pada keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Sungai yang didominasi satu spesies cenderung menjadi tidak sehat.

Petugas gabungan turun langsung ke aliran kali di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (17/4/2026), untuk melakukan penangkapan ikan sapu-sapu sekaligus membersihkan sampah dan sedimen yang mencemari perairan.Petugas gabungan turun langsung ke aliran kali di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (17/4/2026), untuk melakukan penangkapan ikan sapu-sapu sekaligus membersihkan sampah dan sedimen yang mencemari perairan. Foto: Muhammad Reevanza/detikfoto

Kenapa Banyak Terjadi di Sungai Tercemar?

Fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu paling sering terjadi di sungai yang tercemar. Hal ini bukan kebetulan.

Menurut Veryl Hasan, kondisi sungai yang rusak justru menguntungkan bagi ikan sapu-sapu. Ketika kualitas air menurun, ikan lokal yang sensitif akan mati atau berpindah. Sebaliknya, ikan sapu-sapu tetap bertahan.

Di Sungai Ciliwung misalnya, populasi ikan ini terus meningkat karena kondisi lingkungan yang kurang ideal bagi ikan lokal. Akibatnya, ikan sapu-sapu menjadi spesies dominan dan disebut sebagai spesies invasif.

Spesies invasif adalah organisme yang masuk ke suatu ekosistem dan menyebabkan gangguan, baik terhadap lingkungan, ekonomi, maupun kesehatan manusia.

Dampak Lingkungan dan Ekonomi

Keberadaan ikan sapu-sapu tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga bisa memengaruhi aspek lain seperti ekonomi.

Dominasi ikan ini dapat:

  • Menurunkan populasi ikan konsumsi lokal

  • Mengganggu aktivitas perikanan

  • Menurunkan kualitas perairan

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa merugikan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairan.

Warga menjaring ikan di kali Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (4/5/2021). Kegiatan mencari ikan ini dilakukan sejak pagi hingga sore hari.Iustrasi ikan sapu-sapu. Foto: Rifkianto Nugroho

Upaya Penanganan dan Solusi

Menghadapi masalah ini, pemerintah dan berbagai pihak mulai melakukan pemusnahan massal sebagai langkah pengendalian populasi. Namun, menurut para ahli, cara ini bukan satu-satunya solusi.

Veryl Hasan menekankan bahwa perbaikan ekosistem menjadi kunci utama.

"Kunci utamanya bukan hanya menangkap sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya," tegasnya.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain:

  • Penegakan aturan larangan pelepasan ikan asing

  • Pengawasan ketat di lapangan

  • Pemulihan kualitas air sungai

  • Edukasi kepada masyarakat

Ikan sapu-sapu. (San Antonio River Authority)Ikan sapu-sapu. (San Antonio River Authority) Foto: Ikan sapu-sapu. (San Antonio River Authority)

Selain itu, ikan sapu-sapu yang ditangkap juga bisa dimanfaatkan, misalnya sebagai bahan baku tepung ikan untuk pakan.

Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah. Peran masyarakat sangat penting, terutama dalam mencegah penyebaran ikan sapu-sapu.

Veryl mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan melepas ikan ke alam bebas.

"Jika tidak mampu merawat, lebih baik dijual kepada penghobi yang bertanggung jawab atau dimusnahkan dengan benar, jangan dilepas ke sungai," pungkasnya.

Kesadaran ini menjadi kunci agar kasus serupa tidak terus berulang di masa depan.

Ikan sapu-sapu memang terlihat tidak berbahaya di akuarium, tetapi di alam liar, terutama di Indonesia, keberadaannya bisa menjadi ancaman serius. Kemampuan adaptasi tinggi, tidak adanya predator alami, serta sifatnya sebagai pemakan segala membuat ikan ini mendominasi ekosistem dan mengancam ikan lokal.

Pemusnahan massal yang dilakukan saat ini merupakan langkah darurat. Namun, solusi jangka panjang tetap terletak pada pemulihan lingkungan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Pramono: Ikan Sapu-sapu Dominasi Perairan Jakarta, Populasi Sudah 60%"
[Gambas:Video 20detik] (tya/tey)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads