Arya, atau ditulis juga Aria, berarti mulia atau terhormat. Kata ini merujuk pada sebuah kelompok bangsa yang dikenal tangguh, termasuk dalam peperangan. Melalui bangsa ini pula, jejak spiritualitas dunia bisa ditelusuri.
Menurut Karen Armstrong dalam buku The Great Transformation: Awal Sejarah Tuhan (Mizan, 2007), bangsa Arya adalah jaringan longgar suku-suku dengan kebudayaan yang sama.
Pendapat itu mengindikasikan bahwa Arya pada mulanya bukanlah ras tertentu sebagaimana yang digaungkan Nazisme dalam sejarah. Mereka terdiri atas beragam suku dengan kesamaan bahasa, agama, dan budaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: 'Galindeng' Azan dari Kampung Pamujaan |
Bangsa Arya hidup di padang stepa kawasan Kaukasia di sekitar Rusia selatan sejak sekitar 4500 sebelum Masehi (SM). Bangsa ini kemudian terbagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan bahasa yang dituturkan: Arya berbahasa Avesta bermigrasi dan menetap di wilayah Iran, sementara Arya berbahasa Sanskerta bermigrasi ke wilayah India.
Lalu, bagaimana mereka dikenal tangguh dalam perang? Simak berikut ini.
Awal yang Tenang
Karen Armstrong menuturkan, sejak 4500 SM bangsa Arya menjalani kehidupan yang relatif tenang. Antar-suku hidup berdampingan dan menggunakan bahasa yang serumpun.
Mereka bercocok tanam dan mengembangbiakkan ternak. Kehidupan mereka cenderung pasif karena belum memiliki sarana transportasi untuk bepergian jauh. Kuda-kuda di padang stepa, menurut Armstrong, saat itu belum dijinakkan.
Meski pasif, justru dari kehidupan yang tenang itu muncul perenungan mendalam tentang spiritualitas. Seperti masyarakat purba lainnya, bangsa Arya merasa terhubung dengan kekuatan gaib alam: pepohonan, badai, angin, air, dan unsur-unsur lainnya.
Barulah sekitar 1500 SM, mereka mulai membentuk sistem kepercayaan yang lebih formal, dengan keyakinan pada dewa langit dan dewa-dewa lainnya. Kehidupan yang damai dengan ritual pengorbanan sebagai inti penyembahan ini kemudian berubah ketika mereka mengenal alat transportasi.
Awal Kehidupan Dinamis dengan Perang
Dalam kehidupan yang diatur oleh sistem kepercayaan tersebut, menghilangkan nyawa bukanlah hal yang ringan. Namun, semua itu berubah ketika bangsa Arya bersentuhan dengan kebudayaan lain yang mengenalkan gerobak yang ditarik kerbau.
Armstrong menulis, bangsa ini kemudian mengenal kereta perang yang ditarik kuda yang telah dijinakkan. Dengan teknologi ini, mereka mampu bepergian jauh, bahkan dengan perlengkapan perang.
Mereka yang sebelumnya menggantungkan hidup dari bertani dan beternak mulai melihat bahwa menjarah kekayaan dan ternak suku lain lebih menguntungkan.
Ketika kembali ke padang stepa asal mereka, kebiasaan menjarah itu bahkan berlanjut terhadap sesama bangsa sendiri. Akibatnya, kelompok Arya yang sebelumnya tidak berminat berperang pun terpaksa mempelajari taktik militer, setidaknya untuk melindungi diri dan keluarga.
Zoroastrianisme di Iran dan Weda di India
Bangsa Arya berbahasa Indo-Eropa dialek Avesta, yang kini memiliki mobilitas tinggi, bermigrasi ke wilayah Iran timur dan menetap di sana.
Di tengah meningkatnya kekerasan, penjarahan, dan konflik, muncul seorang pembaharu yang menawarkan ajaran yang lebih adil. Ia memperkenalkan konsep Ahura Mazda (yang sebelumnya dipandang sebagai dewa keadilan) sebagai Tuhan tertinggi, dengan penekanan pada keadilan dan hukuman bagi pelaku kejahatan.
Pembaharu ini dikenal sebagai Zoroaster. Ia merupakan penggubah himne yang, menurut Armstrong, sempat lama tidak mendapat banyak pengikut, bahkan hanya satu orang, sebelum akhirnya ajarannya diterima oleh kelompok Vishtaspa.
Zoroaster menyerukan kehidupan anti-perang, kedamaian, dan keadilan. Pada masanya, Zoroastrianisme berkembang menjadi agama dominan di kalangan bangsa Iran.
Sementara itu, kelompok Arya berbahasa Sanskerta yang bermigrasi ke India, termasuk ke wilayah Mohenjo-Daro dan Harappa, juga mengalami dinamika kekerasan. Dalam kepercayaan mereka, Indra sebagai dewa perang menjadi figur utama.
Namun, sejarah terus bergerak. Dari kalangan Arya berbahasa Sanskerta muncul para resi (rishi) yang mendapatkan ilham untuk menggubah mantra-mantra puitis panjang yang kemudian dikenal sebagai Weda (Veda). Teks-teks ini menjadi semacam antitesis terhadap keyakinan lama yang orientasinya kekerasan.
(dir/dir)











































