Sisi Kelam Jembatan 'Melintir' di Cibadak Sukabumi

Sisi Kelam Jembatan 'Melintir' di Cibadak Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Rabu, 01 Apr 2026 18:41 WIB
Horor Jembatan Melintir di Cibadak, Hanya Ditopang Dua Batang Bambu
Jembatan 'melintir' di Cibadak, Sukabumi. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Jembatan gantung yang miring atau 'melintir' di Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, ternyata menyimpan cerita kelam di balik kondisi fisiknya yang memprihatinkan.

Tak hanya soal ancaman ambruk ke sungai, jembatan ini juga dikenal warga memiliki aura mencekam hingga sempat ditutup total oleh pihak pemerintah desa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Desa Karangtengah, Agung Pratama Putra, mengungkapkan bahwa penutupan jembatan beberapa waktu lalu dilakukan demi keamanan warga dari berbagai aspek.

Selain faktor keselamatan karena kerangka besi yang sudah tidak stabil, jembatan ini pernah menjadi saksi bisu peristiwa tragis di masa lalu.

ADVERTISEMENT

"Jembatan tersebut dahulu pernah ada yang melakukan gantung diri, jadi ada sisi horornya juga kalau warga lewat situ sendirian malam-malam," ungkap Agung saat ditemui detikJabar, Rabu (1/4/2026).

Tak hanya soal kejadian mistis, minimnya penerangan di area jembatan yang dikelilingi rimbunnya pepohonan juga sempat memicu tindak kriminalitas. Kondisi jembatan yang terisolasi membuatnya rawan disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab.

"Bahkan dulu sempat ada tindakan yang mengarah ke pemerkosaan di lokasi tersebut. Karena lokasinya memang gelap dan jauh dari pemukiman, sehingga kami sempat mengambil keputusan untuk menutup akses jembatan demi keamanan warga," tambah Agung.

Meskipun diselimuti sejarah kelam, desakan kebutuhan akses membuat jembatan ini akhirnya dibuka kembali secara darurat.

Agung menjelaskan, momentum Lebaran kemarin menjadi titik balik dibukanya jembatan tersebut meski hanya dengan topangan bambu seadanya.

"Kemarin pas begitu Lebaran, karena banyaknya warga yang akan melakukan ziarah kubur ke TPU di RW 08 dan RW 09 Kamandoran, akhirnya jembatan kami buka kembali atas permintaan warga. Jadi jembatan ini memang akses utama untuk ziarah," jelasnya.

Selain itu, jembatan sepanjang 30 meter ini merupakan "jalur urat nadi" bagi para pelajar. Agung menyebut banyak anak sekolah dari SMPN 1 Cibadak, Madrasah Al-Hidayah, hingga SMA PGRI yang mengandalkan akses jembatan ini setiap hari.

"Anak sekolah banyak sekali yang lewat sini. Kalau lewat jalan lain (memutar) itu jauh, makanya mereka terpaksa lewat sini walaupun kondisinya melintir," kata Agung.

Mengkaji Opsi Pemindahan Lokasi

Melihat rentetan sejarah kelam, kerawanan kriminalitas, dan kondisi fisik yang kian membahayakan, Pemerintah Desa Karangtengah kini mulai mengkaji opsi serius terkait masa depan jembatan tersebut. Agung menyebut ada rencana untuk memindahkan titik jembatan ke lokasi yang dianggap lebih efektif.

"Akan dirapatkan besok bersama para tokoh masyarakat, RT, dan RW untuk menentukan letak jembatan. Apakah masih akan dibangun di lokasi existing (lama) atau dialihkan ke daerah lain agar lebih efektif, terutama akses yang langsung tembus ke arah Sekarwangi," papar Agung.

Langkah pemindahan ini diharapkan bisa menjadi solusi permanen untuk menghapus kesan mencekam sekaligus memberikan rasa aman bagi warga. Menurut Agung, koordinasi dengan Dinas Perkim Kabupaten Sukabumi juga terus berjalan menyusul instruksi langsung dari Bupati Sukabumi untuk segera melakukan perbaikan.

"Tentu ini harus dirapatkan matang-matang. Harapannya nanti kalau sudah dibangun, entah di lokasi baru atau diperbaiki total, penerangannya juga harus memadai. Jadi warga tidak lagi takut, baik karena jembatannya miring atau karena cerita-cerita lama yang ada di lokasi tersebut," pungkasnya.

(sya/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads