'Galindeng' Azan dari Kampung Pamujaan

'Galindeng' Azan dari Kampung Pamujaan

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Sabtu, 04 Apr 2026 09:00 WIB
Bangunan berpelang SDN Pamujaan di Kampung Pamujaan, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Bangunan berpelang SDN Pamujaan di Kampung Pamujaan, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar)
Bandung -

Cahaya matahari siang itu, Rabu (1/4/2026) luruh digerus hujan yang sebentar deras, sebentar berhenti. Kabut menghalangi pandangan melintas persawahan dari Kampung Nenggeng ke arah Kampung Pamujaan.

Dua kampung di Desa Citaman, Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung itu letaknya memang tidak terlalu jauh. Keduanya berada di bekas Kerajaan Kendan.

Kerajaan Kendan merupakan bagian (federal) dari kerajaan besar di Tanah Sunda, yaitu Tarumanagara. Kendan berdiri sekitar abad ke-6 M dengan raja yang pertama adalah seorang resi bernama Resiguru Manikmaya. Wilayah ini semacam mandala, atau area suci untuk peribadatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak heran ada nama tempat Kampung Pamujaan. Boleh diduga, nama itu terkait dengan aktivitas menyembah Tuhan yang Maha Kasih sebagaimana dugaan T. Bachtiar dan Dewi Safriani dalam buku 'Bandung Purba: Panduan Wisata Bumi'.

ADVERTISEMENT

Pamujaan adalah kata dalam Sunda yang berarti 'pemujaan' atau tempat memuja. Tentu, yang dipuja ketika itu adalah yang dipertuhankan oleh orang-orang Sunda pra-Islam.

Tetapi, ketika bunyi hujan semakin syahdu, siang lambat laun menjelma sore dan terdengar dari Kampung Pamujaan suara azan ashar. 'Galindeng' atau alunan lembut dan merdu azan itu terdengar sampai ke Kampung Nenggeng di atasnya.

Kolam renang daei matabair alam di Kampung Nenggeng, bukti mata air di wilayah Desa Citaman masih terawat dengan baik.Kolam renang daei matabair alam di Kampung Nenggeng, bukti mata air di wilayah Desa Citaman masih terawat dengan baik. Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar

Galindeng azan itu bukan hanya dari satu sumber suara. Pengeras suara jenis toa dari beberapa musala di kampung bersahutan memanggil orang-orang untuk salat.

Tempatnya masih sama bernama Pamujaan, tetapi cara memuja, siapa yang memuja, dan siapa yang dipuja tentu sudah berbeda. Dahulu, meski orang Sunda lama mengenal monoteisme Sanghyang Tunggal, tetapi mereka juga 'menerima' para dewa yang diajarkan para resi dari India. Termasuk oleh Resiguru Manikmaya. Kini, orang-orang di Pamujaan menegakkan kalimatullah.

Resiguru Manikmaya

Manikmaya adalah seorang pengembara dengan latar belakang keluarga yang kaya raya sebagai pemilik puluhan kapal dagang. Dia datang dari Bharata dan sebelum menginjakkan kaki di Sunda, dia lebih dahulu singgah ke sejumlah tempat seperti Sumatera, Bali, Jawa Timur dan akhirnya menapak di Tarumanagara.

Kedatangan Manikmaya ke pusat kerajaan Tarumanagara (di sekitar Bekasi kini) adalah dengan tujuan menyebarkan agama. Dia diterima dengan baik. Dia lalu menikah dengan Dewi Tirthakancana, salah satu putri Suryawarman, Raja Tarumanagara. Dengan pernikahan ini, dihadiahkan kepadanya sebuah wilayah yang dinamakan Kendan.

Nama ini kocap tercerita merupakan nama pendek batu obsidian yang sejak zaman Bandung Purba, banyak ditambang dan digunakan sebagai pisau, mata tombak, atau alat pengerat lainnya. Karena kegunaan alat ini, maka batu ini dianggap sebagai batu Ka-Indra-an (dewa). Kaindraan dilafalkan menjadi Kendan.

Di situ, menurut naskah kuno Carita Parahyangan didirikan kerajaan yang oleh Tarumanagara dtegaskan bahwa kerajaan tersebut harus diterima keberadaannya oleh kerajaan-kerajaan lain di bawah Tarumanagara.

Pusat Kerajaan Kendan sempat berpindah-pindah sesuai dengan kehendak siapa yang menjadi ratu di kerajaan itu. Namun, sepanjang dipimpin Resiguru Manikmaya, Kendan menjadi pusat Kerajaan Kendan selama 86 tahun, sebagaimana pengamatan T. Bachtiar dan Dewi Safriani.

"Di sekitar Kendan saat ini, ada nama geografis Kampung Pamujaan. Mungkinkan di tempat ini pada masa kerajaan dulu sebagai tempat untuk Memuja Tuhan yang Maha Kasih?" tulis T. Bachtiar.

Tugu Situs Kendan yang dibuat Pemerintah Kabupaten Bandung, berlokasi di sekitar Kampung Pamujaan, Desa Citaman, Nagreg.Tugu Situs Kendan yang dibuat Pemerintah Kabupaten Bandung, berlokasi di sekitar Kampung Pamujaan, Desa Citaman, Nagreg. Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar

Nilai yang Baik Tetap Dijaga

Meski keyakinan spiritual telah bersalin kepada Islam, namun nilai-nilai yang baik, terutama dalam hal berhubungan dengan alam tempat manusia hidup, tetap dipertahankan.

Nilai-nilai kehidupan warisan masa lalu masih dijaga dengan kuat oleh masyarakat di Desa Citaman, termasuk di Kampung Nenggeng dan Pamujaan. Ajaran yang diyakini berasal dari tradisi Kerajaan Kendan tidak hanya menjadi cerita sejarah, tetapi juga tercermin dalam kehidupan warga, terutama dalam menjaga kualitas padi dan merawat sumber mata air yang menjadi penopang utama kehidupan.

Neneng Yanti Khozanatu Lahpan dan Annisa Arum Mayang dari ISBI Bandung, dalam studi berjudul "Pemanfaatan Budaya Masyarakat Ladang dalam Sejarah Kerajaan Kendan untuk Pengembangan Potensi Desa Wisata di Desa Citaman Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung" mengisahkan bagaimana warga masih menjaga cara-cara lama dalam merawat dan menghormati alam.

Menurut studi tersebut, wilayah Citaman dikenal kaya akan sumber mata air. Kelimpahan ini menjadikan air sebagai pusat kehidupan masyarakat, baik untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, maupun perkebunan. Salah satu sumber air yang paling penting adalah mata air Nenggeng, yang sejak lama mengairi sawah dan ladang warga dengan debit yang melimpah.

Di Desa Citaman sendiri terdapat empat sumber mata air utama, yakni Cihapang, Curug Pamujaan, Ciseupang, dan Nenggeng. Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya pelestarian, masyarakat rutin menggelar ritual tahunan bernama Nuras Cai.

Dalam bahasa Sunda, 'nuras' berarti menyaring dengan tujuan menjernihkan air, yakni dengan mengendapkan kotoran agar air kembali bersih. Namun, makna ritual ini jauh lebih dalam dari sekadar proses alami.

Nuras Cai diwujudkan melalui gotong royong membersihkan mata air dan saluran-salurannya. Warga bersama-sama mengangkat lumpur, membersihkan kotoran, hingga memastikan aliran air tetap lancar. Tradisi ini menjadi simbol kepedulian kolektif terhadap lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads