Di sudut Jalan Ijan, Kota Bandung, berdiri sebuah kedai sederhana yang menjadi saksi bisu transformasi Kota Kembang dari masa ke masa. Bukan sekadar tempat singgah biasa, Susu Murni Ijan merupakan kedai susu legendaris yang tetap eksis bahkan sebelum Indonesia genap setahun merdeka.
Berdasarkan penuturan Hanafi (43), pengelola generasi keenam, kedai ini sudah mulai beroperasi sejak tahun 1946. Usianya sezaman dengan berdirinya pabrik es bersejarah di Bandung, Sari Petojo.
"Ini tuh dari tahun 1946. Jadi hampir sama dan berdekatan berdirinya dengan pabrik es di Bandung, ada namanya Sari Petojo," tuturnya saat berbincang dengan detikJabar, belum lama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama 'Ijan' sendiri diambil dari sosok yang memiliki keterkaitan kuat dengan lokasi tersebut. Meski detail sejarah personal sosok Ijan mulai memudar ditelan zaman, namanya telah abadi menjadi identitas gang, jalan, sekaligus merek yang melekat di hati masyarakat kawasan tersebut.
Keaslian tempat ini terus dijaga dengan konsisten, meski bangunan tersebut sempat dilalap si jago merah sekitar tahun 1989. Hanafi mengenang bahwa walaupun terdapat renovasi di bagian interior, struktur utama bangunan tetap dipertahankan demi merawat memori kolektif pelanggan.
Susu Murni Ijan. (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar) |
"Sempat kebakaran bangunan ini, sekitar tahun 1989. Terus direstorasi, jadi nggak berubah bangunannya, paling dalemnya ini sedikit," katanya.
Memasuki masa jayanya pada era 1960-an hingga 1990-an, Susu Murni Ijan menjadi magnet sosial bagi warga lokal. Pada masa itu, susu merupakan komoditas yang diperkenalkan oleh budaya Eropa dan mulai digemari masyarakat karena kandungan nutrisinya yang tinggi.
Hanafi menceritakan banyak pelanggan setia dari masa lalu yang kini datang kembali dengan memboyong anak hingga cucu mereka untuk sekadar bernostalgia.
"Banyak yang cerita, dulu mereka ke sini masih kecil, sekarang sudah punya cucu. Pas momen Lebaran kemarin juga, banyak yang datang dari luar kota seperti Kalimantan dan Riau sengaja mampir ke sini untuk mencari memori masa lalu," ujarnya.
Salah satu kunci eksistensi Susu Murni Ijan selama enam generasi adalah keteguhan dalam menjaga konsistensi rasa. Pasokan susu segar didatangkan langsung dari peternakan di Pangalengan, Kabupaten Bandung, dengan pengawasan kualitas yang sangat ketat.
"Saya tidak mau mengecewakan konsumen. Mereka yang sudah loyal dari tahun 1946 sampai sekarang harus tetap terjaga kepercayaannya," ungkap Hanafi.
Susu Murni Ijan. (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar) |
Menurut Hanafi, kualitas susu sangat bergantung pada proses di hulu, terutama pakan ternak. "Kalau pakannya bagus, hasil susunya juga bagus. Kita sangat memperhatikan pakan sapi," jelasnya.
Pihak pengelola bahkan menyiagakan tim khusus untuk memastikan standar susu yang masuk tetap terjaga demi menjamin kepuasan para pelanggan setia mereka.
Menghadapi tantangan zaman dan menjamurnya tren kopi modern, Susu Murni Ijan memilih beradaptasi tanpa menanggalkan menu klasiknya. Sejak tahun 2022, mereka mulai berinovasi memadukan susu dengan kopi, seperti menu kopi susu gula aren dan latte untuk memikat selera generasi muda.
Jika dahulu pilihan rasa sangat terbatas, kini pelanggan dapat menikmati varian yang lebih beragam, mulai dari cokelat, melon, hingga karamel. "Varian lebih banyak, inilah cara kita mengikuti zaman," ujar Hanafi.
Meski terus mengikuti tren pasar, prinsip mereka tidak berubah: menyajikan minuman sehat dengan harga terjangkau agar tetap bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Selain menu susu, kedai ini juga menyediakan aneka jajanan pasar dengan harga mulai dari Rp2.500 hingga Rp6.000. Sementara itu, segelas susu segar dibanderol di kisaran Rp7.000 hingga Rp15.000 saja.
Bagi detikers yang ingin merasakan langsung kesegaran legendaris Susu Murni Ijan, kedai ini siap melayani setiap hari mulai pukul 06.30 hingga 21.00 WIB.
(orb/orb)


