Jabar Hari Ini: Kelalaian Parkir yang Merenggut Nyawa Pria Bandung

Tim detikJabar - detikJabar
Rabu, 01 Apr 2026 22:00 WIB
Ilustrasi Kecelakaan (Foto: detikcom/Thinkstock/assistantua)
Bandung -

Sejumlah peristiwa menarik terjadi di Jawa Barat (Jabar) hari ini, Rabu 1 April 2026. Mulai dari kecelakaan maut di Pasirkoja hingga

1. Truk Lalai Parkir, Tewaskan Pemotor di Pasirkoja

FA (30), warga Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Terusan Pasirkoja Nomor 80, Kelurahan Babakan Tarogong, Kecamatan Bojongloa, Rabu (1/4/2024) sekitar pukul 04.00 WIB.

Pria tersebut mengendarai sepeda motor matik bermerek NMAX. Ia tewas setelah menabrak bagian belakang truk Hino Tronton Box yang terparkir di bahu jalan tersebut.

"Berdasarkan keterangan saksi dan olah TKP, pengendara truk parkir sembarangan tidak pada tempatnya, masuk ke bahu jalan sehingga mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Korban pada saat berkendara menabrak bagian belakang truk," kata Kanit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung AKP Fiekry Adi Perdana dikonfirmasi via pesan singkat.

Fiekry menyebutkan, insiden ini terjadi karena M (30), pengendara truk, diduga lalai saat memarkirkan kendaraannya.

"Diduga pengemudi truk saat parkir tidak pada tempatnya terlalu ke kanan jalan, masuk dua jalur, sehingga karena kelalaiaanya mengakibatkan korban meninggal dunia," ujarnya.

Menurut Fiekry, kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas tersebut dalam keadaan laik jalan.

"FA meninggal dunia, kemudian dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Kota Bandung," ujarnya.

"Untuk kesimpulan dalam kejadian ini masih dalam proses penyelidikan Unit Gakkum Polrestabes Bandung," pungkasnya.

2. Tergiur Upah Besar, Elvis cs 'Tertawan' di Zona Tambang

Nasib pilu menimpa delapan orang perantau asal Jawa Barat dan Banten. Berniat mengadu nasib ke Sulawesi Utara (Sulut), mereka justru telantar selama sepekan terakhir.

Janji upah besar dari pekerjaan penggalian lubang tambang berakhir zonk. Tak hanya itu, mereka bahkan sempat tertipu tiket pesawat bodong saat hendak pulang ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran.

Perwakilan warga, Dede Diana, menceritakan awal mula petaka tersebut. Rombongan yang mayoritas berasal dari wilayah Simpenan dan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi ini berangkat pada Juli 2025 lalu setelah diajak oleh seseorang asal Tasikmalaya.

"Awalnya diajak teman ke teman. Janjinya kerja di lobang (tambang) di wilayah Dumoga Selatan. Katanya per meter dibayar Rp 2,5 juta, tapi kenyataannya cuma Rp 1 juta," kata Dede saat dihubungi detikJabar melalui sambungan telepon, Rabu (1/4/2026).

Dede mengungkapkan, setibanya di lokasi, kesepakatan manis itu menguap begitu saja. Upah mereka dipotong sepihak. Tak hanya soal upah, urusan logistik yang awalnya dijanjikan gratis pun mendadak berubah menjadi utang yang memotong penghasilan mereka.

"Selama 7 bulan kerja, kirim ke rumah juga nggak stabil. Paling cuma bisa kirim Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Hitung-hitungannya habis buat makan yang ternyata jadi utang. Jadi kerja itu tidak menghasilkan, tidak sesuai janji," keluhnya.

Kena Tipu Tiket Pesawat 'Diskon' 40%

Niat hati ingin pulang kampung untuk merayakan Lebaran di Sukabumi, delapan warga ini justru ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Bermodalkan sisa upah yang hanya Rp 1,5 juta per orang, mereka tergiur iklan tiket pesawat murah dengan diskon 40% di sebuah aplikasi.

Nahas, tiket seharga total belasan juta rupiah yang dibayar via dompet digital itu ternyata palsu. Mereka baru menyadari telah tertipu saat hendak melakukan proses lapor diri (check-in) di bandara pada Jumat pekan lalu.

"Pas mau check-in jam 5 sore, ternyata nggak bisa. Kami bingung, akhirnya lapor ke Polsek Bandara. Benar-benar kena tipu tiket bodong," tutur Dede.

Mereka yang telantar di Sulawesi Utara masing-masing bernama Bian, Dian, Dede, Rahmat, Rahmadi, Ade, Asep, dan Elvis.

Sudah sepekan terakhir para warga ini hidup luntang-lantung di wilayah Bitung. Mereka sempat berpindah dari satu kantor polisi ke kantor polisi lainnya untuk meminta bantuan pemulangan, namun merasa hanya dioper ke sana kemari. Untuk urusan perut, mereka terpaksa mengandalkan sisa uang kiriman keluarga dari kampung.

"Sudah 7 hari terlantar. Buat makan, ada yang minta kiriman dari rumah Rp 50 ribu buat makan bareng-bareng. Kami sempat lapor juga ke beberapa pihak tapi kayak bola dilempar-lempar," ungkapnya.

Kini, para warga yang didominasi asal Sukabumi dan perbatasan Bogor ini berharap pemerintah daerah segera merealisasikan janji pemulangan. Dede menyebut sudah ada komunikasi dengan pihak Bupati Sukabumi dan dijanjikan akan segera dipulangkan dalam waktu dekat.

"Tadi pagi sudah ada kabar (dari Bupati), mudah-mudahan secepatnya kami bisa pulang," pungkasnya.




(yum/yum)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork