Kisah Soekarno di Bandung seolah tak pernah habis digali. Sang proklamator bukan hanya meninggalkan jejak sejarah lewat perjuangannya, tetapi juga melalui sosok-sosok terdekat yang berperan besar dalam hidupnya. Salah satu figur paling dikenang adalah Inggit Garnasih, istri kedua Soekarno, yang setia mendampingi sang pemimpin di masa-masa sulit perjuangan kemerdekaan.
Kediaman Inggit Garnasih terletak di Jalan Inggit Garnasih Nomor 8, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung. Rumah tersebut masih berdiri kokoh dengan nuansa nostalgik khas bangunan kolonial Belanda. Perpaduan warna cokelat dan putih, jendela kayu, serta tata ruang sederhana membawa pengunjung seolah kembali ke masa lalu. Saat ini, rumah tersebut dibuka untuk umum dan difungsikan sebagai museum sejarah.
Baca juga: Kisah Soekarno 4 Bulan Jadi Guru di Bandung |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan foto-foto Inggit Garnasih, dokumentasi kebersamaannya dengan Soekarno, serta deskripsi perjalanan hubungan keduanya. Rumah yang berada tak jauh dari Taman Tegalega ini juga menyimpan sebuah benda bersejarah berupa batu pipisan, saksi bisu perjuangan Inggit dalam menopang kehidupan rumah tangganya.
Batu pipisan tersebut digunakan Inggit untuk meracik jamu dan membuat bedak. Dari hasil itulah ia menghidupi dirinya dan membantu Soekarno, selain dengan berjualan tembakau serta menjahit pakaian dalam perempuan. Hingga kini, kondisi rumah dijaga dengan baik dan relatif minim perubahan.
Salah satu pengelola kediaman, Jajang Rudian, menyebut rumah tersebut terakhir direnovasi sekitar tiga tahun lalu karena mengalami kebocoran ringan.
"Kalau di sini jarang renovasi, terakhir itu tiga tahun lalu. Waktu itu direnovasi karena ada rembes dari gentengnya yang bocor, makanya diganti. Ada beberapa titik yang bocor, di kamar dan ruang utama," ungkap Jajang.
Batu Pipisan yang digunakan Inggit membuat jamu dan bedak Foto: Adi Mukti/detikJabar |
Meski masih terlihat noda bekas rembesan air di beberapa titik plafon, kondisi bangunan utama seperti tembok, jendela, dan koleksi foto tetap terawat dengan baik. Namun, jumlah pengunjung ke Rumah Inggit Garnasih belakangan terbilang sepi.
"Awal tahun memang sepi karena kan banyak yang wisata keluar, anak-anak sekolah juga sudah pada masuk. Kemarin (Desember) itu ramai karena hari libur," tambah Jajang.
Kisah Soekarno di Rumah Inggit Garnasih
Rumah ini awalnya ditempati oleh Inggit Garnasih bersama suami pertamanya, Sanoesi. Pada tahun 1921, Oemar Said Tjokroaminoto menitipkan keponakannya, Soekarno, untuk tinggal di rumah tersebut. Saat itu, Soekarno akan menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).
Seiring waktu, benih cinta tumbuh antara Soekarno dan Inggit. Hubungan itu semakin intens karena Sanoesi kerap bertugas ke luar daerah dan jarang berada di rumah. Setelah Soekarno menceraikan istri pertamanya, Oetari, ia menghadap Sanoesi untuk meminta izin menikahi Inggit. Sanoesi pun menceraikan Inggit, dan pada tahun 1923 Soekarno resmi meminangnya.
Sejak saat itu, Inggit menjadi pendamping setia Soekarno dalam aktivitas politik dan perjuangan kemerdekaan. Namun, cobaan demi cobaan datang silih berganti. Soekarno dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda di Banceuy pada 1929, kemudian kembali dipenjara di Sukamiskin pada 1931. Setelah sempat dibebaskan, Soekarno kembali diasingkan ke Ende, Flores, pada 1933.
foto-foto figur berkunjung ke rumah Inggit Foto: Adi Mukti/detikJabar |
Meski demikian, Rumah Inggit Garnasih tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan hidup Soekarno di Bandung. Menurut Jajang, rumah tersebut juga dapat digunakan untuk kegiatan tertentu dengan izin resmi.
"Rumah Inggit Garnasih ini bisa dipinjamkan untuk kebutuhan tertentu, tinggal kirim surat ke dinas budaya. Untuk jam bukanya normal, jam kerja dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB," katanya.
Hingga kini, rumah tersebut sesekali dikunjungi oleh keluarga Inggit Garnasih untuk bersilaturahmi atau sekadar memastikan kondisinya tetap terjaga. Inggit Garnasih wafat pada tahun 1984. Selain dikenal sebagai pendamping hidup Soekarno, ia juga dikenang sebagai sosok perempuan tangguh yang berjasa besar dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia.
(dir/dir)













































