Dear Warga Jabar, Jangan Buang Kucing ke Pasar!

Dear Warga Jabar, Jangan Buang Kucing ke Pasar!

Faizal Amiruddin - detikJabar
Senin, 03 Okt 2022 14:02 WIB
Sammy pecinta kucing tengah memberi pakan kucing liar di pasar Indihiang Kota Tasikmalaya.
Sammy pecinta kucing tengah memberi pakan kucing liar di pasar Indihiang Kota Tasikmalaya. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)
Tasikmalaya -

Populasi kucing di pasar-pasar yang ada di Kota Tasikmalaya relatif tinggi. Adalah hal yang mudah untuk menjumpai kucing di pasar, salah satunya di pasar Indihiang.

Salah satu pemicu banyaknya kucing di pasar adalah kebiasaan warga yang membuang kucing ke pasar, karena dianggap mudah dan berpikiran di pasar kucing bisa mudah mendapatkan makanan.

"Padahal membuang kucing ke pasar dengan alasan di pasar banyak makanan itu salah. Justru kucing sulit dapat makanan di pasar. Jadi seharusnya jangan ada istilah membuang kucing, tidak akan miskin kalau kita berbagi dengan kucing. Yang mereka butuhkan hanya sisa kok," kata Sammy salah seorang pecinta kucing yang rutin memberi pakan kucing, Senin (3/10/2022).


Dengan dibuang ke pasar, lanjut Sammy, justru malah membuat kucing jadi rawan karena statusnya liar, tak ada yang melindungi. "Pernah saya temukan yang disiram air panas, mungkin karena mencuri makanan. Lalu ada lagi yang mati kelaparan. Jadi saya harap stop buang kucing ke pasar," kata Sammy.

Sammy mengaku selalu membawa pakan kucing di sepeda motornya. Jika bertemu dengan kucing, dia akan memberinya makanan. "Saya setiap hari ke pasar Indihiang, memang banyak kucing di sini. Makanya saya selalu bawa makanan kucing, satu toples juga cukup," kata Sammy.

Hal senada diungkapkan oleh salah seorang dokter hewan di Tasikmalaya, Zaenal Muttaqin. Menurut dia ada kecenderungan pasar menjadi tempat pembuangan kucing oleh warga.

"Biasanya karena populasi di rumah sudah banyak, beban pakan berat akhirnya mereka membuang kucing ke pasar. Dengan asumsi di pasar banyak makanan, padahal belum tentu juga. Saya kira intinya di hati nurani masing-masing, apa iya kita tega membuang kucing," kata Zaenal.

Meski demikian dia mengatakan ada solusi yang cukup efektif untuk menekan populasi kucing bagi para pemelihara kucing. Salah satunya adalah dengan langkah dikebiri atau disteril.

"Kalau kami menganjurkan agar kucing disteril, agar tidak terus beranak. Itu menjadi salah satu upaya mengendalikan populasi kucing," kata Zaenal.

Namun dia mengakui kendala dari sterilisasi kucing ini adalah biayanya yang cukup mahal. Rentang harganya mulai dari Rp 250 ribu sampai Rp 700 ribu, tergantung jenis kucing dan layanan yang diberikan.

"Tapi kalau di komunitas ada diskon. Kemudian kami di PDHI (Persatuan Dokter Hewan Indonesia) kerap kali melakukan sterilisasi gratis," kata Zaenal.

Dia juga menyarankan para pecinta kucing aktif di komunitas, sehingga bisa berbagai informasi termasuk ketika kita merasa memiliki terlalu banyak kucing, bisa diberikan kepada sesama pecinta. Dengan begitu populasi kucing terlantar di jalanan bisa diredam.

(yum/yum)