Wajah-wajah Belia di Antara Unjuk Rasa Pejuang Hak di Bandung

Wajah-wajah Belia di Antara Unjuk Rasa Pejuang Hak di Bandung

Wisma Putra - detikJabar
Kamis, 29 Sep 2022 13:03 WIB
Anak kecil di antara para pedemo di PN Bandung
Anak kecil di antara para pedemo di PN Bandung (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Seribuan buruh perempuan yang merupakan korban PHK sepihak PT Masterindo Jaya Abadi gelar aksi demonstrasi di Kantor Pengadilan Negeri (PN) Bandung.

Aksi ini digelar dalam rangka mengawal jelang pembacaan putusan pengadilan PHK terhadap kurang lebih 1.000 orang karyawan PT Masterindo Jaya Abadi, Tanggal 5 Oktober 2022 mendatang.

Di tengah keriuhan massa aksi yang menyuarakan aspirasinya, tepat di belakang barisan massa aksi ada seorang buruh perempuan bernama Santi (40) duduk bersama anaknya S (2) yang turut ikut aksi untuk mencari keadilan.


Karena cuaca pagi ini cukup panas, para massa aksi harus gunakan payung termasuk Santi dan Sanum berlindung di bawah payung agar terhindar dari panasnya sinar matahari.

Kepada detikJabar, Santi mengaku bekerja di PT Masterindo Jaya Abadi sejak tahun 2004 lalu. 18 tahun bekerja, Santi mendapatkan PHK sepihak.

"PHK tahun 2020, katanya mau ada pemutihan dan pengurangan karyawan. Kita ke pengadilan minta pesangon sesuai Undang-undang, sampai sekarang belum ada keputusan, pokonya sesuai Undang-undang saja," kata Santi.

Santi juga menyebut, gaji terakhir ia bekerja dan THR belum dibayar. "THR juga belum dibayar, gaji terakhir Bulan April juga belum dibayar," ujarnya.

"THR itu tahun 2020 pas masa kerja," tambahnya.

Menurut Santi, PHK sepihak dan pemutihan karyawan ini dilakukan karena perusahaan ia bekerja terdampak pandemi COVID-19.

"Katanya corona, ada pengurangan, katanya karyawan kurang produktif ada pemutihan," ujarnya.

Akibat PHK sepihak ini, Santi kehilangan pekerjaan. "Di rumah ngasuh saja, saya punya dua anak, yang besar 13 tahun, yang kecil dua tahun," tuturnya.

Santi menyebut, ia sudah sepuluh kali mengikuti aksi unjuk rasa. Aksi yang diikuti demi memperjuangkan haknya agar perusahaan bayarkan pesangon sesuai Undang-undang.

"Harapannya, banyak, pengennya kita dapat sesuai Undang-undang, perhitungan saya bakal dapat Rp 90 juta, kemarin penawaran Rp 5 juta per orang, dari perusahaan ditolak," harapnya.

Hal serupa juga dialami Siti (43), salah satu karyawan yang sudah bekerja selama 11 tahun di PT Masterindo Jaya Abadi. Siti didampingi sang suami M Faizal (39) dan anaknya H (4).

"Istri saya 11 tahun bekerja, sebelum nikah, sekarang jadi ibu rumah tangga, istri saya di PHK sepihak," kata M Faizal.

M Faizal menyebut, jika pesangon dibayarkan sesuai Undang-undang istrinya dapat Rp 80 juta.

"Seharusnya dapat Rp 80 jutaan," ujarnya.

Menurutnya, karena sudah tak memiliki pekerjaan Siti kini tinggal di Garut. Meski tak sesering seperti rekan-rekannya, jika ada aksi demonstrasi untuk memperjuangkan haknya, Siti datang ke Bandung ditemani sang suami dan anak.

Selain itu, yang lebih miris menurut M Faizal ada yang sampai meninggal dunia menunggu pesangon yang tak kunjung dibayarkan.

"Ada yang sampai meninggal juga, menunggu ini (pesangon)," tuturnya

(wip/yum)