Sedih, Jafar Jualan Bakso Sambil Cari Ibu yang Hilang di Bandung

Serba-serbi Warga

Sedih, Jafar Jualan Bakso Sambil Cari Ibu yang Hilang di Bandung

Cornelis Jonathan Sopamena - detikJabar
Rabu, 21 Sep 2022 18:00 WIB
Muhammad Jafar Mustaqin, berdagang bakso sambil mencari sang ibu
Muhammad Jafar Mustaqin, berdagang bakso sambil mencari sang ibu (Foto: Cornelis Jonathan Sopamena)
Bandung -

"Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa." Ironis, penggalan lirik lagu tersebut tidak berlaku pada Muhammad Jafar Mustaqin.

Jafar adalah seorang pedagang bakso cuanki di belakang Masjid Istiqomah, Jalan Citarum, Kota Bandung. Puluhan mangkuk bakso pun setiap harinya ia sajikan pada berbagai orang yang ingin mengisi perut atau sekadar mencicip cuanki khas Bandung.

Meski sudah terbiasa menyajikan cuanki hangat di tengah sejuknya udara Kota Bandung, pemuda berusia 17 tahun tersebut ternyata tidak familiar dengan kehangatan dan kehadiran sosok ibu dalam hidupnya. Sebab, ia tidak didampingi ibu kandungnya sejak berumur 7 tahun.


Kala itu, keluarga Jafar yang berdomisili di Majalengka tengah dilanda masalah. Alhasil, ayah dan ibunya pun berpisah. Jafar dengan ayahnya pergi ke Tasik, sedangkan ibunya hendak bekerja di Bandung. Namun, ibunya menghilang tanpa jejak.

"Iya masalah keluarga itu sama ibu. Waktu kecil kan saya dibawa sama ayah saya ke Tasik. Ibu asli Majalengka. Kata kakaknya mah mau kerja (setelah pisah), tapi pas dicari lagi ngga ada. Kakaknya Ibu itu di Bandung," ucap Jafar pada detikJabar di lokasi, Selasa (16/8/2022).

Muhammad Jafar Mustaqin, berdagang bakso sambil mencari sang ibuMuhammad Jafar Mustaqin, berdagang bakso sambil mencari sang ibu Foto: Cornelis Jonathan Sopamena

Setelah mengetahui anggota keluarganya hilang, pihak keluarga pun mencari-cari ibunda Jafar tersebut. Majalengka dan Bandung pun menjadi daerah yang diutamakan untuk mencari dirinya.

Nihil. Ibunda Jafar yang bernama Aam tidak ditemukan dimana-mana. Pencarian melalui sosial media pun sempat dilakukan. Namun, hasilnya tetap sama. Pencarian tersebut menjadi semakin susah lantaran pihak keluarga tidak memiliki foto Aam.

"Setelah enggak ada kabar itu di Majalengka dicariin Enggak ada. Di sosmed pernah nyari, tapi nggak ada. Nggak ada fotonya juga. Pernah ke rumah orang tuanya, enggak ada juga foto Ibu," ujarnya.

Tidak lama bersua, Jafar pun tidak bisa mengingat persis wajah Aam. Ayah Jafar juga sudah tidak memiliki foto mantan istrinya tersebut. Jafar mengira foto-foto itu disingkirkan setelah kedua orang tuanya berpisah.

"Samar-samar lah (ingat wajahnya). Susahnya kan karena gaada fotonya, mau cari juga gimana? Foto perkawinan juga enggak ada. Ayah juga enggak punya foto Ibu karena kayaknya yang masalah keluarga itu," kata pedagang bakso cuanki itu.

Setelah lebih dewasa dan memiliki umur yang dianggap legal secara sah, Jafar memberanikan diri melancong ke Bandung untuk mencari ibunya pada bulan Juli 2022 lalu. Perhentian pertama pun jatuh ke rumah kakak dari ibunya. Ternyata, kakak dari ibunya itu tidak pernah sekalipun bertemu Aam semenjak ia pergi dari Majalengka.

MENCARI REZEKI SEMBARI MENANTI KABAR IBU TERKASIH

Berniatan mencari ibunya, Jafar justru mendapat rezeki lebih untuk bisa berjualan bakso. Jafar diperkenalkan oleh bos Bakso Aldebaran itu melalui pamannya yang menyuruh dirinya sambil bekerja.

"Kemarin bulan 7 (ke Bandung untuk mencari ibunya). Sebelumnya itu saya ke rumah kakaknya Ibu, nanyain Ibu siapa tahu ada. Itu niatnya tuh (ke Bandung) mau cari Ibu aja, tapi pas ke sini ketemu dengan paman, disuruh kerja sekalian di sini. Bos saya orang Cicadas," ucapnya.

Bakso Aldebaran yang ia jual itu tersedia setiap hari pukul 8 pagi hingga 9 malam. Setiap harinya, ia pergi dan pulang bersama dengan bosnya yang juga berjualan di kantin Masjid Istiqomah. Jafar dan pedagang Bakso Aldebaran lainnya tinggal di rumah sang bos di Cicadas.

Seluruh menu yang dijual Bakso Aldebaran dibanderol dengan harga serba Rp15.000, mulai dari bakso cuanki yang dapat ditambah mi instan, batagor kering, dan batagor kuah.

Tempat ia berjualan pun sudah disediakan oleh bosnya. Selain itu, berbagai bahan masakan juga sudah disiapkan oleh sang bos. Jadi, Jafar dan penjual lainnya tinggal berjualan saja.

"(Saya) tinggalnya di rumah bos, bareng-bareng sama tukang cuanki yang lainnya juga. Kalau bahannya ini semua udah dikasih semua dari bos, jadi semua yang tinggal dirumah bos itu udah dikasih, tinggal dijualin," ujar Jafar.

Dirinya juga tidak menyangka dapat berjualan bakso cuanki ini. Sebab, ia ke Bandung hanya dengan tujuan mencari ibunya. Dirinya pun bersyukur bisa berjualan bakso dan menghasilkan uang ketimbang hanya bermain di kampungnya. "Jadi daripada di kampung cuma main aja, mendingan kerja," tuturnya.

Sebelumnya, Jafar juga sudah memiliki pengalaman kerja. Pasalnya, ia sempat membuat dan menjual cilok di Mojokerto, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut ia lakoni selama tiga bulan, dari Januari hingga April 2022.

SEMPAT KEHILANGAN AYAHNYA

Sepekan yang lalu, pikiran Jafar pun sempat terbebani setelah orang dari kampungnya memberi kabar bahwa ayahnya hilang. Total, ayahnya menghilang selama tiga hari.

"Kemarin tuh kan dia katanya ada urusan, eh terus (orang) yang dari kampung itu ngabarin katanya dia hilang. Aku juga jadi gimana gitu ya, mikirin ayah," ucap Jafar.

"Terus pas 3 hari enggak ada tahunya datang ke sini. 3 hari itu ternyata lagi dalam perjalanan ke Bandung, ke pamannya katanya mau main, tapi enggak bilang ke warga kampung. Sama orang kampung dikiranya hilang itu, ngabarin ke saya," lanjutnya.

Muhammad Jafar Mustaqin, berdagang bakso sambil mencari sang ibuMuhammad Jafar Mustaqin, berdagang bakso sambil mencari sang ibu Foto: Cornelis Jonathan Sopamena

Di Tasik, ayahnya yang berusia hampir genap 50 tahun itu tinggal bersama dengan ibu tiri Jafar. Ibu tirinya itu sebetulnya merupakan istri pertama dari ayahnya. Setelah bercerai, ayah Jafar pun menikahi Aam dan dikaruniai seorang anak, yaitu Jafar. Selang 7 tahun, ayahnya dan Aam berpisah. Kemudian, ayahnya menikah kembali dengan istri pertamanya tersebut.

Sering berpindah-pindah kota, studi Jafar pun kurang terkontrol. Pasalnya, dirinya keluar sekolah saat masih duduk di bangku SD. Hingga kini, ia belum bersekolah lagi. Namun, dirinya mengaku ingin bersekolah lagi jika ada kesempatan.

"Keluar aja dari SD dulu. Soalnya bingung, dulu ke Tasik, terus ikut sama bapak ke Kalimantan, pindah jadinya ke sana, dari umur 8 sampai 13 tahun. Bapak waktu itu kerja di Kalimantan. Abis itu baru balik lagi ke Tasik. Kalau ada kesempatan paling ikut paket lah," jelasnya.

MENDAPAT DUKUNGAN SANG AYAH

Bertahun-tahun hidup tanpa sosok ibu kandungnya, Jafar meminta izin sang ayah untuk mencari ibunya ke Bandung. Ayahnya yang juga khawatir mengizinkan dan mengantarkan sang ananda ke Kota Kembang.

"Waktu ke Bandung mau cari ibu ini juga bilang ke ayah, dianterin malah sama ayah. Kalau ayah sih kepikiran karena kasihan ke aku juga gitu soalnya aku kan nanyain terus juga kabar ibu. Ayah juga nanyain terus ke keluarga ibu," ujar Jafar.

Meski sangat merindukan sosok ibu kandungnya, Jafar mengaku rela tidak bertemu ibunya. Satu hal yang penting baginya adalah ada kabar sang ibunda kembali bertemu keluarganya.

"Kalau (pesan) ke ibu sih semoga cepet ketemu aja, pulang ke keluarganya lah. Biarpun ga ke anaknya, yang penting ibu pulang ke keluarganya," pungkasnya.

(yum/yum)