Langkah Kades 'Sultan' Antirentenir Diapresiasi Pemkab Majalengka

Eric Disy Darmawan - detikJabar
Kamis, 11 Agu 2022 07:30 WIB
Kepala Desa Kawunghilir, Yosa Novita
Yosa Novita. (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar)
Majalengka -

Pemkab Majalengka mengapresiasi terobosan Kepala Desa Kawunghilir, Cigasong, Yosa Novita. Sebab Yosa bisa menumpas praktik rentenir atau 'bank emok' di desanya.

Minggatnya rentenir dari Kawunghilir, berkat program pinjaman uang Rp 200 juta tanpa bunga bagi warga setempat. Uang sebanyak itu Yosa siapkan dari kantong pribadinya.

Program tersebut sengaja digulirkan untuk memerangi praktik rentenir. Sebab, bunga pinjaman rentenir akan sangat mencekik warga yang meminjam uang.


Jika masyarakat meminjam kepada rentenir, nasabah akan dikenakan bunga sebesar 1 persen per hari atau 30 persen jika dalam sebulan.

"Saya sangat mengapresiasi program tersebut. Karena bunga pinjaman rentenir ini hampir 30 persen (per bulan) bunganya yah. Ini kan merusak kesehatan ekonomi keluarga," kata Sekda Kabupaten Majalengka, Eman Suherman, Rabu (10/8/2022).

Keseriusan Kades Yosa dalam memerangi praktik rentenir cukup cerdik. Menurut Eman, Yosa berhasil 'mengusir' tanpa tindakan represif. Namun, Yosa berhasil mengusir rentenir secara perlahan.

"Ibu Yosa ini luar biasa jiwa sosialnya. Ibu Yosa berani memberikan pinjaman dari kantong pribadinya hanya untuk mengusir 'bank emok' secara perlahan," ujar dia.

Meski begitu, Eman menyarankan program tersebut alangkah lebih baiknya dicanangkan untuk program BUMDeS di desa setempat. Mengingat, jabatan Yosa adalah Kepala Desa.

"Tugas kepala desa itu secara umum ada tiga, menyelenggarakan urusan pemerintahan, melaksanakan urusan pembangunan dan pemberdayaan, terutama dalam masalah ekonomi, sosial, dan budaya," ujar dia.

"Seharusnya menurut aturan kalau berbicara ekonomi, harusnya disimpan di BUMDeS, biar masyarakat minjam ke BUMDeS. Tapi pada intinya spontanitas dan kebesaran jiwa sosial Ibu Yosa ini luar biasa," ucap dia menambahkan.

Sementara itu, meski di Majalengka ada kades yang mempunyai gebrakan antirentenir, Eman tidak mengetahui seberapa besar dampak rentenir di 'Kota Angin'.

"Saya tidak begitu tahu dampaknya, tapi seringkali saya mendengar keluh masyarakat. Masyarakat itu resah hadirnya 'bank emok' ini," ucap dia.

Eman pun berharap warga tidak terjerumus dalam perangkap lintah darat atau rentenir. Sehingga ia menyarankan warga meminjam ke bank profesional jika membutuhkan pinjaman.

"Banyak fasilitas yang pemerintah sudah berikan, jangan merasa malas ngurus administrasi. Misal, untuk modal usaha pakailah pinjaman KUR yang tidak ada jaminannya, pinjamnya bisa lebih besar, tapi kan bunganya sedikit banget, hanya 7-9 persen," saran dia.

(orb/orb)