10 Fakta di Balik Sejarah Bendera Sang Saka Merah Putih

Jonathan Sopamena - detikJabar
Minggu, 07 Agu 2022 14:34 WIB
Ilustrasi Bendera Merah Putih (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Bandung -

Bendera merah putih selalu dikibarkan pada 17 Agustus untuk memperingati hari lahirnya Indonesia. Pengibaran bendera pusaka ini telah dilakukan sejak hari diproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada 1945.

Hampir berumur 77 tahun, Indonesia memiliki banyak cerita terkait Sang Saka Merah Putih. Bahkan, warna merah putih juga dikaitkan pada kelahiran seorang anak. Berikut rangkuman detikJabar terkait fakta dibalik bendera Republik Indonesia (RI).

1. Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan di Indonesia

Dilansir dari detikcom, warna merah dan putih sudah digunakan sejak Indonesia masih memiliki banyak kerajaan. Awalnya, kerajaan Kediri menggunakan warna sebagai panji kerajaan. Kemudian di abad ke-13, kerajaan Majapahit menggunakan bendera berwarna merah putih sebagai lambang kebesarannya.

2. Berkaitan dengan Makanan Pokok dan Kelahiran Anak

Sebelum kemerdekaan, Pulau Jawa adalah sentral wilayah Hindia-Belanda. Kabarnya, warna merah melambangkan gula jawa dan warna putih melambangkan nasi, dua bahan utama dalam banyak masakan.

Selain itu, masyarakat Jawa juga mempercayai kehamilan merupakan bersatunya unsur merah dan putih. Unsur merah melambangkan ibu yaitu darah dalam tubuh bayi lahir dan unsur putih melambangkan benih ayah yang ditanam dalam gua garba.

3. Makna Nasionalis Warna Merah dan Putih

Panitia bendera kebangsaan Merah Putih menggunakan kedua warna tersebut sebagai simbol jati diri bangsa Indonesia. Pasalnya, warna merah berarti berani dan warna putih berarti suci.

4. Terbuat dari Kain Katun Jepang?

Bendera pertama yang dibuat untuk Republik Indonesia ternyata terbuat dari bahan katun Jepang yang setara dengan jenis primissima untuk pembuatan batik tulis halus.

5. Sempat Dipisahkan Menjadi Dua Bagian

Saat Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda pada 19 Desember 1948, bendera Merah Putih diselamatkan oleh Soekarno dan dipercayakan pada ajudannya, Husein Mutahar. Agar tidak disita oleh Belanda, Husein melepas benang jahitan bendera sehingga bagian merah dan putih terpisah. Ia kemudian membawanya dalam dua tas terpisah. Kedua bagian tersebut kemudian disatukan kembali oleh Soekarno saat ia diasingkan di Bangka pada Juni 1949.




(iqk/iqk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork