Duduk Perkara Polemik Bantuan Sapi Kementan Versi BOMA

Nur Azis - detikJabar
Senin, 18 Jul 2022 14:45 WIB
Duta Sawala (Sekjen) Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Eka Santosa
Foto: Duta Sawala (Sekjen) Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Eka Santosa (Nur Azis/detikJabar).
Sumedang -

Duta Sawala (Sekjen) Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Eka Santosa angkat bicara terkait polemik bantuan sapi Kementerian Pertanian (Kementan) di Kabupaten Sumedang.

Eka bicara dengan didampingi Staf Ketahanan Pangan dari Duta Sawala BOMA Edi Subagja dan Kepala Sekretariat Duta Sawala BOMA, Dadan Wardana di hadapan sejumlah awak media di Sumedang pada Jumat (15/7/2022).

Ia pun membantah tudingan dari Ketua Kelompok Tani Maju Jaya 2 Jojo Atmaja kepada BOMA yang menganggap telah merampas 16 ekor dari 20 ekor sapi bantuan Kementan. Eka menjelaskan awal mula serta duduk perkara soal bantuan sapi tersebut.


Bermula pada 3 November 2021, saat Duta Sawala BOMA, Gerakan Hejo, PADI (Perhimpunan Anak Desa Indonesia) bersama para Olot memprakarsai atas kehadiran Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam acara bertajuk 'Masyarakat Adat sebagai Benteng Terakhir Ketahanan Pangan' yang digelar di Pasir Impun, Kabupaten Bandung.

"Saat itu kami menyematkan gelar bagi Pak Yasin Limpo, yaitu Sinatria Tatanen di Bidang pertanian, jadi pada waktu itu ada acara penganugrahan kepada bapak Yasin Limpo sebagai keluarga besar masyarakat adat," katanya.

Dalam sambutannya, kata Eka, Mentan Syahrul mengajak masyarakat adat untuk mengembangkan kedaulatan pangan. Kemudian, Mentan Syahrul pun secara lisan menjanjikan bantuan berupa 60 ekor sapi serta ribuan bibit tanaman kepada masyarakat adat.

Sebagai tindak lanjut dari ucapan Mentan Syahrul tersebut, sambung Eka, seminggu kemudian petugas Dirjen Kementan dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Yogyakarta pun datang ke sekretariatan BOMA di Pasir Impun, Kabupaten Bandung. Kedatangannya itu untuk menjelaskan terkait prosedur atas bantuan 60 ekor sapi tersebut.

"Karena sapi yang akan diserahkan ternyata bukan sapi potong, tapi sapi bibit, jadi ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh penerima bantuan," terang Eka.

Eka mengatakan prosedur yang harus dipenuhi yaitu selain mempersiapkan kandang, juga harus memiliki kelompok tani yang telah terdaftar secaraSimluhtan (Sistem Informasi Manajemen Penyuluh Pertanian).