12 Cara Mencegah Kehamilan Sebelum dan Setelah Berhubungan Seks

Debora Danisa Kurniasih Perdana Sitanggang - detikJabar
Selasa, 12 Jul 2022 05:00 WIB
Male and female symbols drawn using chalk on a chalkboard
Foto: Getty Images/iStockphoto/joxxxxjo
Jakarta -

Kehamilan tak direncanakan kerap terjadi setelah berhubungan seks, baik dengan pengaman, apalagi tanpa pengaman. Bagi orang-orang yang aktif secara seksual tentu harus bijak melakukan berbagai cara untuk mencegah kehamilan tak direncanakan ini.

Menggunakan kontrasepsi selama berhubungan seks merupakan salah satu cara paling aman untuk mencegah kehamilan. Namun, banyak juga yang memilih untuk tidak menggunakan pengaman karena berbagai alasan, salah satunya kenyamanan atau demi merasakan sensasi tertentu. Bagaimana bila sudah telanjur melakukan hubungan seks dan tidak menggunakan kontrasepsi?

Ada beberapa cara yang masih bisa diupayakan untuk mencegah kehamilan setelah berhubungan seks tanpa kontrasepsi.


Woman taking tablet with glass of fresh water

1. Mengkonsumsi Pil Kontrasepsi Darurat (ECP)

Emergency contraceptive pill (ECP) atau populer dengan nama morning-after pill adalah salah satu pilihan yang paling sering diambil oleh wanita setelah berhubungan seks tanpa pengaman untuk mencegah kehamilan tak direncanakan. Dilansir Medical News Today, pil ini biasanya mengandung levonogerstrel yang cukup tinggi dan kerap ditemukan dalam kontrasepsi lain.

Fungsi utamanya adalah untuk mencegah ovum keluar dari ovarium dan berhasil dibuahi oleh sperma. Sesuai namanya, pil ini biasanya dikonsumsi tidak lama setelah wanita tersebut berhubungan seks. Semakin cepat dikonsumsi, efektivitasnya semakin tinggi. Jika sudah lewat beberapa hari, kemungkinan pil ini tidak lagi efektif mencegah kehamilan.

Efektivitasnya pun beragam. Ada pil yang mampu mencegah kehamilan 72 jam atau 3 hari setelah berhubungan seks, ada pula yang mencapai 120 jam atau 5 hari. Namun, beberapa pil harus dikonsumsi dengan resep dokter. Perlu diingat juga bahwa pil ini tidak 100 persen efektif dan kehamilan masih bisa terjadi.

Woman sitting on toilet with toilet paper - constipation concept

2. Membersihkan Diri ke Toilet

Cara ini sebenarnya bukan diutamakan untuk mencegah kehamilan, tetapi lebih kepada menjaga kebersihan dan mencegah penyakit menular akibat hubungan seksual. Melansir Uplarn, wanita disarankan untuk segera ke toilet dan membersihkan diri, terutama sisa-sisa sperma di vagina.

Meskipun hanya berada di luar, tidak menutup kemungkinan cairan sperma bisa tetap masuk ke vagina dan membuahi sel telur pada masa ovulasi. Dengan membersihkan vagina di toilet juga bisa menjaga vagina tetap bersih dan bebas dari penyakit maupun jamur.

Closeup sick woman with hands holding pressing her crotch isolated on background

3. Jangan Menggunakan Douchebag

Douchebag biasanya digunakan untuk menyiram dan menyerap dari dalam anus atau vagina. Berbekal pemahaman itu, beberapa wanita menggunakannya setelah berhubungan seks tanpa pengaman. Namun, ini tidak disarankan karena tidak terbukti mencegah kehamilan.

Justru dikhawatirkan wanita akan mengalami infeksi jika menggunakan cara tersebut. Cukup melakukan cara nomor dua, yakni menyiram dengan air bersih untuk memastikan bagian vagina tetap higienis.

IUD (Intrauterine Device) Birth Control

4. Memasang IUD

Intrauterine devices (IUD) adalah salah satu kontrasepsi yang populer digunakan wanita. IUD bisa menjadi pilihan untuk mencegah kehamilan tak direncanakan, meskipun opsi terbaik adalah memasang IUD sebelum berhubungan seksual.

Menurut Medical News Today, pemasangan IUD khususnya yang copper-based bisa dilakukan setelah berhubungan seksual tanpa pengaman, tetapi harus dengan pengawasan dokter. Biayanya juga lebih tinggi daripada IUD hormonal. IUD jenis ini berfungsi menghancurkan sperma yang mencoba masuk ke uterus. Efektivitasnya bisa bertahan hingga 10 tahun.

Ilustrasi hamil

5. Memperhatikan Tanda-tanda Kehamilan

Meskipun sudah mengupayakan pencegahan, kehamilan mungkin saja tetap terjadi. Oleh karena itu, wanita perlu memperhatikan tanda-tanda atau gejala kehamilan, seperti pusing, meriang, muntah-muntah, hingga terlambat menstruasi.

Segera periksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah gejala-gejala di atas karena kehamilan atau efek samping dari kontrasepsi yang digunakan. Lebih cepat mengetahui kehamilan, lebih baik.

The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination.

6. Suntik

Suntik kontrasepsi atau Depo-Provera sebaiknya dilakukan sebagai pencegahan awal sebelum berhubungan seksual alih-alih setelah. Berdasarkan studi CDC, suntik kontrasepsi bisa mencegah kehamilan hingga 90 persen.

Suntikan ini biasanya diberikan oleh dokter setiap 12 minggu sekali. Kemudian butuh waktu 10 bulan atau lebih bagi seorang wanita untuk bisa hamil lagi setelah berhenti menerima suntikan tersebut secara rutin.

ilustrasi sperma

7. Spermicide

Wanita juga bisa menggunakan spermicide atau obat kimia yang dapat menonaktifkan sperma yang masuk ke uterus. Obat ini dapat dibeli dengan resep dokter. Spermicide memiliki fungsi yang serupa dengan kontrasepsi lain seperti kondom.

Untuk penggunaannya, spermicide diaplikasikan ke serviks 10 menit sebelum berhubungan seksual. Spermicide dapat bertahan selama 60 menit dengan efektivitas mencegah kehamilan hingga 71 persen.

ilustrasi vagina

8. Diafragma

Alat kontrasepsi ini kerap digunakan bersamaan dengan spermicide. Efektivitasnya bisa mencapai 90 persen menurut Medical News Today. Spermicide dioleskan ke diafragma yang berfungsi menghalangi jalan masuk sperma menuju sel telur.

Penggunaannya, diafragma dimasukkan beberapa jam sebelum berhubungan seksual. Kemudian biarkan diafragma di dalam vagina selama 6 jam setelah berhubungan seksual. Namun, diafragma tidak melindungi seseorang dari infeksi menular seksual (IMS).

Asian doctor and an assistant in the operating room for surgical venous vascular surgery clinic in hospital.

9. Sterilisasi

Sterilisasi atau tindakan operasi untuk menetralkan organ reproduksi bisa dilakukan untuk mencegah kehamilan. Disebutkan bahwa prosedur operasi ini efektif hingga 99 persen, tetapi lagi-lagi tidak melindungi seseorang dari infeksi menular seksual (IMS).

Sterilisasi dapat dilakukan baik oleh pria maupun wanita. Untuk wanita dikenal dengan nama ligasi tuba, sementara pria adalah vasektomi. Meskipun tujuannya menetralkan organ reproduksi secara permanen, tetapi wanita tetap bisa hamil apabila tuba falopinya disambungkan kembali. Vasektomi juga dimungkinkan untuk dilepas.

Ilustrasi KB Implan

10. Implan

Selain IUD dan sterilisasi, implan juga salah satu kontrasepsi hormonal populer. Implan ditanamkan ke dalam tubuh wanita dan melepaskan hormon progestin untuk mencegah ovulasi.

Sama seperti sterilisasi, implan disebut memiliki efektivitas hingga 99 persen. Namun, implan harus diganti setiap 3 tahun sekali. Jika tidak, maka ada kemungkinan wanita hamil kembali.

Collection of colorful condomsSelective focus; shallow DOF

11. Kondom

Ini merupakan alat kontrasepsi yang paling lumrah ditemukan dan digunakan oleh pria. Dengan catatan, kondom harus digunakan sejak sebelum dan selama berhubungan seksual. Percuma apabila digunakan setelahnya.

Pilihlah ukuran kondom yang pas, tidak terlalu sempit sehingga mengurangi kenyamanan atau terlalu longgar sehingga mudah lepas dan bisa menyebabkan kehamilan. Perhatikan juga bahan kondom, gunakan yang tidak membuat alergi atau iritasi.

Woman holding package of condom on her hands

12. Kondom untuk Wanita

Meskipun tidak sepopuler kondom untuk pria, kondom untuk wanita juga cukup sering dipilih sebagai alat kontrasepsi mencegah kehamilan. Penggunaannya disarankan dengan resep dokter.

Efektivitasnya diperkirakan mencapai 79 persen. Penggunaannya dipasangkan di dalam vagina sebelum berhubungan seksual.

Itulah 12 cara mencegah kehamilan tak direncanakan setelah berhubungan seksual tanpa pengaman. Namun, yang paling aman tetaplah menggunakan kontrasepsi sejak awal. Apabila ada masalah pada metode kontrasepsi yang digunakan, segera hubungi dokter.



Simak Video "Nyanyikan 'Mari Bercinta', Wika Salim Bikin Warganet Ketar-ketir"
[Gambas:Video 20detik]
(des/fds)