Raja Nusantara yang Pertama Kali Memeluk Islam

Raja Nusantara yang Pertama Kali Memeluk Islam

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Minggu, 23 Agu 2026 05:00 WIB
kerajaan perlak
Foto: istimewa
Jakarta -

Selama ini, buku dan teks sejarah selalu mencatat Kerajaan Samudera Pasai yang didirikan oleh Meurah Silu atau Sultan Malik Al-Shaleh sebagai kerajaan Islam tertua di Nusantara. Namun, jejak sejarah tersebut menimbulkan banyak perbedaan pendapat.

Hal ini didasarkan pada filologi naskah kuno yang membuktikan bahwa jauh sebelum berdirinya Kerajaan Samudera Pasai, telah berdiri sebuah dinasti Islam, yakni Kerajaan Perlak (Peureulak). Lantas, siapa raja pertama di Nusantara yang memeluk agama Islam?

Figur Raja Pertama Beragama Islam di Nusantara

Raja Nusantara pertama yang beragama Islam sekaligus memerintah kerajaan berdaulat Islam adalah Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Kedudukan Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah sebagai raja pertama di Nusantara yang beragama Islam dirujuk melalui penelaahan naskah-naskah klasik dan konsensus para pakar sejarah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia (RI), dikatakan bahwa Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz merupakan pendatang dari Jazirah Arab keturunan Nabi Muhammad SAW baik dari pihak ayah maupun pihak ibu, yang kemudian mempersunting istri dari kalangan masyarakat Aceh.

Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah memerintah Kerajaan Perlak dengan menganut sistem pemerintahan berbasis monarki serta menggunakan bahasa Aceh dan Melayu sebagai sarana komunikasi.

ADVERTISEMENT

Penetapan Sejarah Kerajaan Perlak

Sejarah mengenai kerajaan Islam tertua di Nusantara menimbulkan kontroversi karena adanya perbedaan pendapat di kalangan ahli, hingga perlu diadakan seminar untuk membahas perihal tersebut. Menurut buku Sejarah Nusantara yang Disembunyikan karya Indiana Malia, seminar di Rantau Kuala Simpang Aceh Timur menetapkan Perlak sebagai kesultanan Islam pertama di Nusantara.

Ketetapan ini dirujuk dari proses penelaahan naskah-naskah klasik, seperti naskah Risalah Idhar al-Haq fi Mamlakati Derla wa al-Fasi Abu Ishak al-Makarani, naskah Tazlorat Tabaqat Jumu' Sultan al-Salatin karya Syeikh Samsul Bahri Abdullah al-Asyi, dan catatan Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai oleh Sayid Abdullah ibn Sayid Habib Saifuddin.

Setelah merujuk naskah-naskah klasik tersebut, para ahli sejarah menyimpulkan bahwa Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara yang diproklamasikan pada 1 Muharram 225H/840 M. Berdirinya kerajaan ini disertai dengan penobatan Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah sebagai sultan atau raja pertamanya.

Masa Kejayaan dan Akhir Kerajaan Perlak

Kerajaan yang memerintah wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh ini memulai kekuasaannya pada tahun 840 hingga 1292. Kerajaan Perlak mengalami masa kejayaan karena wilayahnya yang dilimpahi oleh kayu perlak, bahan baku penting untuk membuat kapal. Daerah Kerajaan Perlak berkembang menjadi pelabuhan niaga maju pada abad ke-8 dan menjadi tempat berlabuh bagi kapal-kapal dari Arab dan Persia. Dengan ini, Kerajaan Perlak menjadi kota perdagangan internasional yang disinggahi pedagang dari berbagai penjuru dunia, termasuk pedagang Muslim.

Suatu ketika, Kerajaan Perlak mengalami pergolakan akibat perbedaan aliran Islam, yakni Sunni dan Syiah berebut kekuasaan hingga menyebabkan perang saudara. Puncak pergolakan terjadi ketika Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat meninggal, yang berakhir pada terbaginya wilayah Kerajaan Perlak menjadi dua, yakni Perlak Pesisir (Syiah) dan Perlak Pedalaman (Sunni).

Setelahnya, Kerajaan Perlak dihadapkan dengan pergolakan melawan Kedatuan Sriwijaya pada 986 M yang menyebabkan Sultan Alaiddin Syad Maulana Mahmud Syah yang memimpin Perlak Pesisir gugur dalam perang. Kendati demikian, Perlak Pedalaman yang dipimpin oleh Sultan malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan perang yang berakhir pada 1006 M. Kemenangan ini membuat dua wilayah yang terpisah kembali menjadi satu di bawah kepemimpinan Sultan Malik Ibrahim Syah.

Selepas menghadapi berbagai pergolakan, Kerajaan Perlak runtuh dan akhirnya bergabung dengan Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1292.



(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads