10 Benda dan Bangunan Bersejarah yang Menyimpan Jejak Islam di Nusantara

10 Benda dan Bangunan Bersejarah yang Menyimpan Jejak Islam di Nusantara

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Selasa, 18 Agu 2026 07:15 WIB
Sejumlah warga melintas di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Senin (9/3/2026).  Kementerian Kebudayaan menetapkan Masjid Raya Baiturrahman sebagai situs cagar budaya nasional melalui penyerahan sertifikat resmi pada 6 Maret 2026 berdasarkan nilai sejarah yang tinggi, arsitektur monumental, serta sebagai simbol ketangguhan masyarakat Aceh. ANTARA FOTO/Akramul Muslim/hma/tom.
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Foto: ANTARA FOTO/AKRAMUL MUSLIM)
Jakarta -

Persebaran ajaran Islam di Nusantara menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Indonesia. Masuk secara bertahap, ajaran Islam tersebar melalui berbagai jalur, seperti akulturasi budaya, praktik perdagangan, tasawuf, seni dan budaya, hingga kekuasaan politik.

Perjalanan persebaran ajaran Islam yang membutuhkan waktu lama dan bertahap tersebut terekam jelas dalam bentuk benda dan bangunan peninggalan bersejarah.

Benda dan bangunan bersejarah inilah yang kemudian menjadi bukti konkrit peradaban Islam di Tanah Air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

10 Benda dan Bangunan Bersejarah

Berikut adalah 10 benda dan bangunan bersejarah yang menyimpan jejak ajaran Islam di Nusantara:


1. Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu situs bersejarah yang telah berdiri sejak masa kejayaan Kesultanan Aceh. Dibangun pada 1612 oleh Raja Aceh masa kejayaan 1607-1636, Sultan Iskandar Muda, masjid ini menjadi pusat peradaban Islam di Aceh.

ADVERTISEMENT

Melansir dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, disebutkan bahwa Masjid Raya Baiturrahman sempat dibakar habis oleh Belanda pada 1873. Namun, menyadari pentingnya masjid bagi masyarakat Aceh, Belanda akhirnya merekonstruksi masjid dimulai pada 1879 hingga selesai pada 1881.

Dalam kacamata sejarah modern, Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu bangunan yang mampu berdiri kokoh pada tragedi tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004.

2. Batu Nisan Sultan Malik Al-Saleh

Sultan Malik Al-Saleh merupakan raja pertama yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1285-1297. Makamnya yang berlokasi di Gampong Beuringen Pirak, Aceh Utara, menjadi salah satu bukti penting yang menguatkan eksistensi Kerajaan Samudera Pasai sebagai pusat peradaban Islam di Nusantara.

Disebutkan dalam Museum Aceh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, permukaan makam Sultan Malik Al-Saleh terukir 696 Hijriah atau 1297 Masehi yang menjadi tanda titik awal sejarah Islam politik di tanah Aceh. Ukiran pada makam Sultan Malik Al-Saleh menjadi jejak sejarah yang kuat mengenai kerajaan Islam di Nusantara dan di wilayah Asia Tenggara.

3. Uang Emas Kerajaan Aceh

Benda bersejarah lain yang menjadi jejak sejarah peradaban Islam Nusantara merupakan mata uang emas Kerajaan Samudera Pasai yang dapat disebut dirham. Mengutip dari Sekretariat Adat Aceh, penemuan dirham menjadi salah satu bukti pesatnya perdagangan dan kemakmuran Kerajaan Samudera Pasai kala itu. Merujuk kepada buku Selayang Pandang Nanggroe Aceh Darussalam yang ditulis Nunung Yuli Eti, ditemukan dua jenis dirham semasa dua masa kesultanan yang berbeda. Pertama, dirham masa kejayaan Sri Sultan Iskandar Muda, bertuliskan kaligrafi yang berbunyi "Sri Sultan Iskandar Muda" di sisi depan dan "Johan Berdaulat Bin Ali" pada sisi belakang. Kadua, dirham masa kejayaan Sultanah Yaj al-Alam Safiat ad-Din Syah, bertuliskan kaligrafi yang berbunyi "Paduka Seri Sultanaah Taj al-Alam" di sisi depan dan "Safiat ad Din Syah Berdaulat" di sisi belakang.

4. Masjid Agung Demak

Terletak di pusat kota, Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia peninggalan Kerajaan Demak yang turut menjadi jejak sejarah peradaban Islam di Nusantara. Dibangun oleh Raden Patah bersama dengan Wali Songo pada 1479, sampai saat ini Masjid Agung Demak menjadi tempat ibadah dan ziarah.

Dilansir dari buku Seri Sejarah: Peninggalan-peninggalan Kerajaan Demak oleh Tim Kyta dan Kak Oki, Masjid Agung Demak menjadi pusat pembelajaran dan syiar para ulama pada abad ke-15 dengan menggabungkan kebudayaan Islam dan kebudayaan Jawa.

Di dalam Masjid Agung Demak, terdapat banyak benda yang menjadi saksi bagaimana pembelajaran Islam pada masa tersebut, seperti makam Sunan Kalijaga, pintu bledek, bedug dan kentongan, kolam wudu, tempat duduk raja, hingga artefak bangunan berukiran tulisan arab.

5. Masjid Menara Kudus

Masjid yang memiliki nama asli Al-Quds ini merupakan masjid yang dibangun Sunan Kudus (Raden Ja'far Shadiq) pada tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi dengan perpaduan antara Hindu dan Islam. Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari upaya dakwah Sunan Kudus dalam menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya lokal.

Bentuk bangunan masjid yang menyerupai candi menjadi bentuk akulturasi budaya yang dilakukan oleh Sunan Kudus agar masyarakat setempat yang mayoritas menganut kepercayaan Hindu-Budha lebih terbuka dalam menerima ajaran baru. Dengan menggunakan istilah-istilah yang telah dikenal, dakwah Sunan Kudus dapat mudah diterima dan tersebar di kalangan masyarakat Kudus.

6. Batu Nisan Fatimah binti Maimun

Fatimah binti Maimun merupakan wanita beragama Islam anak dari Sultan Mahmud Syah dari Iran dan Aminah dari Aceh yang diutus untuk menyebarkan ajaran Islam di Kerajaan Majapahit. Dilansir dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gresik, makam Fatimah binti Maimun disertai cungkup menyerupai candi yang konon dibangun oleh seorang Raja Majapahit.

Saat ini, kawasan makam Fatimah binti Maimun dikelola oleh Balai Pelestarian cagar Budaya (BPCB) Trowulan, ditetapkan sebagai salah satu Kawasan cagar Budaya Nasional, dan disebut menjadi makam Islam tertua di Asia Tenggara.

7. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten menjadi salah satu peninggalan yang menjadi bukti masa kejayaan Kesultanan Banten pada abad ke-16. Bangunan ini didirikan sekitar tahun 1552-1570 Masehi pada masa kekuasaan putra dari Sunan Gunung Jati, yakni Sultan Maulana Hasanuddin. Pada masa kekuasaan Sultan Maulana Hasanuddin, Banten berubah menjadi titik komoditas yang penting bagi perdagangan kawasan Asia Tenggara.

Melansir dari Ensiklopedia Arsitektur Islam Indonesia Edisi Masjid Bersejarah terbitan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI), kala itu Maulana Hasanuddin memulai pembangunan masjid sebagai tempat ibadah sekaligus atribut penting bagi kedudukannya sebagai sultan. Masjid ini menjadi bukti sejarah bagaimana pada masa itu, ajaran agama Islam dipadukan dengan kebudayaan Jawa, Eropa, dan Tionghoa yang kompleks.

8. Masjid Aji Amir Hasanuddin

Masjid Aji Amir Hasanuddin merupakan salah satu bangunan peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara yang dibangun oleh Raja Sultan Sulaiman pada 1874. Masjid yang secara administratif terletak di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ini sempat dibakar habis dalam pertempuran melawan armada Inggris yang hendak menggempur ibu kota Kutai. Setelah terbakar, pembangunan secara besar-besar dilakukan oleh rakyat Kutai atas pimpinan Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

Ditilik dari kacamata historis, masjid ini menjadi bukti kebangkitan Kesultanan Kutai Kartanegara pasca pertempuran dengan pasukan Inggris.

9. Masjid Gantarang Lalang Bata

Terletak di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Masjid Gantarang Lalang Bata menjadi saksi masuknya ajaran Islam di Kerajaan Gowa. Pada tahun 1605, dakwah Islam dibawa masuk oleh Dato ri Bandang yang diiringi dengan peristiwa datangnya ulama besar ke Kerajaan Gowa. Kala itu, masyarakat setempat ragu untuk memeluk agama Islam lantaran pimpinan mereka, Raja Gowa masih belum beragama Islam. Namun, sang ulama mendatangi langsung Kesultanan Gowa dan menyebarkan dakwah kepada mereka, sehingga mereka yakin dan bersedia memeluk agama Islam.

Dengan ini, dibangun Masjid Gantarang Lalang Bata yang menjadi titik awal perkembangan ajaran Islam di Sulawesi Selatan, khususnya di Selayar.

10. Masjid Hidayatullah Saonek

Masjid Hidayatullah Saonek berlokasi di Raja Ampat, Papua Barat Daya yang dibangun atas interaksi langsung dengan kesultanan di Maluku Utara. Dikisahkan oleh masyarakat setempat, bahwa para pendakwah yang mengajarkan ajaran Islam berasal dari Ternate dan Tidore.

Telah ada sejak abad ke-18, keberadaan umat Islam di Pulau Sonek menjadi bukti bahwa ajaran Islam dapat menyebar di seluruh Nusantara.



(lus/lus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads