Keberadaan mata air zamzam yang terletak sekitar 20 meter dari Ka'bah mengubah Kota Makkah yang awalnya gersang dan tandus menjadi pusat permukiman makmur. Sumber air tersebut adalah mukjizat Nabi Ismail AS yang masih bisa dirasakan umat manusia sampai hari ini.
Kisah kemunculan air zamzam bermula dari peristiwa kelahiran Nabi Ismail AS. Dia adalah putra Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar. Mereka menjalani ujian berat dari Allah SWT, Nabi Ibrahim AS harus meninggalkan Hajar dan putranya yang masih bayi di sebuah tempat gersang bernama Makkah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diceritakan dalam Qashashul Anbiya karya Ibnu Katsir terjemahan Umar Mujtahid, saat persediaan air habis, Hajar yang harus menyusui Ismail AS mondar-mandir dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa. Dia berdiri di puncak Bukit Shafa dan melihat sekelilingnya berharap menemukan orang yang bisa menolongnya, tapi nihil. Hajar kemudian turun dari bukit hingga ke perut lembah, dengan susah payah dia berlari-lari kecil menghampiri Bukit Marwa. Dia berdiri di puncak bukit tapi tidak melihat siapa pun.
Ketika berada di atas Bukit Marwa, Hajar mendengar suara. Dalam hati, ia berkata, "Diamlah." Sesaat kemudian Hajar mendengar suara yang sama. Dia pun berkata, "Kami mendengar suaramu, jika kau bisa menolong, tolonglah kami!"
Malaikat kemudian muncul di hadapan Hajar, di tempat zamzam berada. Malaikat itu kemudian menghentakkan tumit--atau sayapnya--hingga air memancar. Hajar kemudian mengambil air tersebut dengan tangannya dan memasukkannya ke geriba. Setelah diciduk, air makin memancar deras.
Gambaran besarnya sumber air zamzam digambarkan dalam hadits dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW yang bersabda, "Semoga Allah merahmati Ibu Ismail, andai ia membiarkan zamzam--andai dia tidak menciduk zamzam--niscaya akan mengalir ke seluruh permukaan bumi."
Sumber lain menyebut, air zamzam itu muncul dari hentakan kaki (tumit) Nabi Ismail AS yang masih bayi. Atas izin Allah SWT, keluarlah mata air yang bisa mencukupi kebutuhan mereka. Inilah yang kemudian disebut sebagai salah satu mukjizat terbesar Nabi Ismail AS.
Peristiwa ini diyakini terjadi sekitar 4.000-5.000 tahun yang lalu. Menurut buku Pembangunan Peradaban Para Nabi dan Raja, Sejak Penciptaan hingga Menjelang Islam karya Muhammad Yusuf, Nabi Ismail AS lahir pada 1911 SM. Pendapat lain menyebut kemungkinan besar Nabi Ismail AS lahir pada 2080 SM dan wafat pada 1943 SM, menurut perhitungan waktu Nabi Ibrahim AS menerima budak Hajar pada 2085 SM.
Upaya Raja-raja Saudi Lestarikan Air Zamzam
Sumber air zamzam menjadi warisan besar yang dijaga kelestariannya hingga hari ini. Kerajaan Arab Saudi berupaya memastikan ketersediaan air suci itu untuk umat Islam di dunia.
Dilansir SPA, pelestarian sumber air zamzam dimulai dari almarhum Raja Abdulaziz bin Abdul Rahman Al-Saud pada 1345 H yang memerintahkan pembangunan sebuah sabil (air mancur untuk minum) untuk memasok air zamzam. Tahun berikutnya, sang raja memerintahkan membangun sabil kedua dan perbaikan serta penutupan sumur zamzam.
Raja-raja Arab Saudi berikutnya terus menjaga sumber air suci itu. Setelah perluasan pertama area tawaf pada 1377 H, sumur zamzam ditempatkan di bawah area perluasan, untuk membantu mengurangi kepadatan jemaah.
Raja Faisal bin Abdulaziz memerintahkan pembangunan ruang bawah tanah kedua untuk sumur tersebut pada 1393 H. Jejaknya diikuti oleh Raja Khalid bin Abdulaziz, yang memerintahkan operasi pembersihan menyeluruh oleh tim penyelam.
Proyek Perluasan Kedua pada era Raja Fadh bin Abdulaziz menandai tonggak sejarah untuk Masjidil Haram. Proyek ini mencakup sistem air minum dan drainase khusus. Dua pompa besar termasuk pompa tambahan dipasang untuk air zamzam.
Proyek canggih diluncurkan era Raja Abdullah bin Abdulaziz. Stasiun pemurnian dan fasilitas pengemasan/transportasi air canggih didirikan. Selanjutnya, dua proyek lagi diluncurkan, satu untuk pembersihan otomatis, satu untuk mendesain ulang wadah air zamzam untuk mengoptimalkan perlindungan, aliran, dan kemudahan aksesnya.
Jaringan generasi keempat yang dioperasikan untuk sumur air zamzam. Foto: Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi |
Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud melanjutkan warisan ini. Pada 1439 H, Raja Salman menyetujui rehabilitasi sumur zamzam dan pembangunan lima jalur layanan khusus.
Air zamzam didistribusikan dari Masjidil Haram ke Masjid Nabawi. Proses ini melibatkan pemompaan air zamzam dengan kecepatan 360 meter kubik per jam melalui dua pompa raksasa. Air ini lalu dialirkan ke Proyek Air Zamzam Raja Abdullah bin Abdulaziz untuk dilakukan proses penyimpanan, disinfeksi, dan distribusi ke stasiun tangki zamzam dan stasiun sabil Raja Abdulaziz.
Sejarah mencatat sumur zamzam tak pernah kering, tapi pernah tertimbun dan tidak mengalir sebelum akhirnya ditemukan lagi oleh kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib. Sejak saat itu, sumur tak pernah habis, bahkan mampu memompa 11-19 liter air per detik, menurut laporan Saudi Gazette.
(kri/lus)

