Dalam tradisi masyarakat muslim, bulan Syawal sering kali dianggap sebagai waktu terbaik untuk melangsungkan pernikahan. Di balik tradisi tersebut, tersimpan sebuah kisah bersejarah yakni pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq.
Lantas, bagaimana kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah? Berikut detikHikmah rangkum kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah RA yang penuh keberkahan di bulan Syawal.
Baca juga: 11 Istri Nabi Muhammad dan Sifatnya |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah Pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisyah
Dijelaskan dalam buku Agungnya Taman Cinta Sang Rasul oleh Ustadzah Azizah Hafni, Nabi Muhammad SAW menikahi Aisyah RA ketika Aisyah berusia enam tahun. Pernikahan ini merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Kala itu, Nabi Muhammad SAW bermimpi bertemu dengan Jibril AS. Jibril membawa selembar kain sutra kepada beliau, pada kain sutra tersebut terdapat gambar Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian Jibril berkata, "Sesungguhnya wanita ini adalah istrimu di dunia dan akhirat."
Mimpi tersebut sempat membuat Nabi Muhammad SAW kebingungan. Beliau tahu betul siapa Aisyah binti Abu Bakar, seorang gadis kecil yang cerdas. Lalu, bagaimana mungkin gadis tersebut menjadi istri beliau, seperti yang diucapkan Jibril dalam mimpinya.
Nabi Muhammad SAW tidak terlalu memikirkan mimpi tersebut. Kesibukan beliau dalam berdakwah membuat beliau tidak terlalu risau dengan mimpi yang dialaminya.
Keinginan untuk menikahi Aisyah muncul bersamaan dengan keinginannya untuk menikahi Saudah binti Zam'ah. Saat itu, datanglah Khaulah binti Hakim, istri dari Utsman bin Ma'zhum. Ia melihat Nabi Muhammad SAW hidup sendiri setelah kepergian istrinya Khadijah binti Khuwailid.
Khaulah memberanikan diri bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak ingin menikah?" Beliau balik bertanya, "Dengan siapa?" Khaulah menjawab, "Terserah engkau, mau perawan atau janda."
Nabi Muhammad SAW bertanya kembali, "Siapa yang perawan dan siapa yang janda?" Khaulah menjawab, "Yang janda adalah Sa'udah binti Zam'ah. Sedangkan yang perawan adalah putri dari orang yang paling engkau cintai, Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq."
Nabi Muhammad SAW terdiam dan berpikir, kemudian berkata, "Kalau begitu, sampaikanlah lamaranku kepadanya."
Jawaban tersebut membuat Khaulah tampak bahagia. Maka, ia bergegas pergi ke kediaman Abu Bakar dan menceritakan pembicaraan penting tersebut kepadanya.
Abu Bakar merasa senang mendengar itikad Nabi Muhammad SAW untuk menikahi putrinya. Meski begitu, terdapat beberapa hal yang membuat hatinya janggal. Pertama, pada zaman jahiliah, menikahi putri teman yang terikat perjanjian persaudaraan dilarang.
Kedua, pada saat itu, Aisyah sudah pernah dilamar oleh Jubair bin Muth'im bin 'Adi. Ketiga, Aisyah saat itu masih sangat kecil.
Ketiga hal tersebut, kemudian disampaikan Khaulah kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian, Nabi Muhammad SAW berkata, "Pergilah. Katakan pada Abu Bakar, ia adalah saudaraku seagama, bukan sedarah. Dan putrinya halal untuk kunikahi." (HR Bukhari)
Mengenai lamaran Jubair bin Muth'am kepada Aisyah, Abu Bakar menyelesaikannya dengan cara yang baik, ia akan berbicara dengan laki-laki tersebut dan juga keluarganya.
Terkait masalah Aisyah yang masih kecil, Abu Bakar kebingungan. Kemudian ia berkata, "Ia masih kecil, wahai Rasulullah. Tapi, saya akan mengutusnya untuk datang kepadamu, agar engkau dapat melihatnya."
Lalu, Abu Bakar menemui istri dan memanggil anaknya, Aisyah. Abu Bakar memerintahkan Aisyah untuk pergi ke kediaman Nabi Muhammad SAW, membawa tempat berisi tamar, sambil mengajari Aisyah berkata kepada Nabi Muhammad SAW, "Inilah yang ada pada kami, wahai Rasulullah, apakah engkau menyetujuinya?"
Aisyah mengangguk mengerti. Ia pun pergi ke kediaman Nabi Muhammad SAW dan mengatakan sesuatu yang sudah diajarkan oleh Abu Bakar kepadanya. Tak lama kemudian, Aisyah kembali pulang.
Abu Bakar mencegatnya dan menanyakan apa jawaban Nabi Muhammad SAW. Aisyah pun berkata, "Ya. Atas berkah Allah." Mendengar itu, Abu Bakar tersenyum lega dan wajahnya tampak bahagia.
Akhirnya, Nabi Muhammad SAW pun meminang Aisyah di usianya yang kesembilan tahun. Pinangan Nabi Muhammad ini bersifat rahasia. Tidak ada yang tahu soal pinangan ini, selain Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, istrinya, dan beberapa sahabat tertentu.
Nabi Muhammad Menikahi Aisyah pada Bulan Syawal
Dalam sebuah hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menikahi Aisyah RA pada bulan Syawal.
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْطَى عِنْدَهُ مِنِّي
Artinya: "Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dariku?" (HR Muslim)
Pernikahan Nabi Muhammad SAW dan Aisyah RA terjadi di Makkah sebelum Nabi SAW melakukan perjalanan hijrah ke Madinah. Mengenai detail waktunya, terdapat beberapa sudut pandang ahli sejarah.
Sebagian menyebut pernikahan terjadi pada tahun ke-10 kenabian. Namun, ada pula yang meyakini pada tahun ke-11 kenabian atau sekitar dua tahun lima bulan sebelum hijrah dan setahun setelah Nabi Muhammad SAW mempersunting Saudah RA.
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026