5 Kisah Singkat Sahabat Nabi Muhammad SAW untuk Dibacakan ke Anak

5 Kisah Singkat Sahabat Nabi Muhammad SAW untuk Dibacakan ke Anak

Tia Kamilla - detikHikmah
Minggu, 01 Mar 2026 05:00 WIB
Ilustrasi Kisah Nabi Ishaq
ilustrasi kisah Foto: Getty Images/iStockphoto/TanyaSid
Jakarta -

Kisah singkat sahabat Nabi untuk dibacakan ke anak bisa menjadi pilihan cerita penuh teladan sebelum tidur atau saat waktu luang. Melalui kisah para sahabat Rasulullah SAW, anak-anak dapat belajar tentang kejujuran, keberanian, kesabaran, dan keimanan sejak dini.

Sahabat Nabi SAW dikenal sebagai generasi terbaik yang hidup bersama Rasulullah SAW dan meneladani akhlaknya. Berikut lima kisah singkat sahabat Nabi SAW yang inspiratif dan cocok dibacakan ke anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1.Kisah Teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang Pemberani dan Penyabar

Mengutip buku Kisah Khulafaur Rasyidin oleh Isnaeni DK, dijelaskan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq lahir di Makkah pada tahun 572 Masehi. Itu berarti, usia Abu Bakar hanya berjarak satu tahun lebih muda dari kelahiran Rasulullah SAW. Nama aslinya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Lu'ai.

Abu Bakar masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah. Ia adalah orang yang memiliki tubuh yang kurus, memiliki kulit putih, bermata hitam, berkening lebar, dan memiliki jenggot. Ia memiliki akhlak yang sangat baik. Hari-harinya penuh dengan banyak kebaikan yang dilakukan.

ADVERTISEMENT

Abu Bakar juga terkenal pemberani dan bersemangat dalam menyampaikan keberanian kepada orang lain. Ia tidak suka menyembunyikan kebenaran. Apa yang bisa ia sampaikan untuk kebaikan maka akan ia sampaikan.

Suatu hari, Rasulullah SAW mengumpulkan semua sahabat dan pengikutnya yang kala itu berjumlah 88 orang. Abu Bakar kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, sudah saatnya kita menyampaikan ajaran Allah SWT secara terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi lagi."

Dengan sangat berani, ia mengatakan kepada Rasulullah SAW. Abu Bakar memang memiliki keberanian yang tinggi dalam menyampaikan kebenaran.

"Tetapi, jumlah kita masih sedikit wahai Abu Bakar!" jawab Rasulullah.

"Tidak, wahai Rasulullah! Sudah saatnya kita melakukan dakwah ini dengan lebih serius."

Abu Bakar terus mendesak Rasulullah SAW agar menyampaikan ajaran Islam secara terbuka. Hingga kemudian Rasulullah pun membentuk kelompok-kelompok yang berisikan sepuluh orang, dan dipimpin oleh satu orang untuk masing-masing kelompoknya.

Pada saat itulah Abu Bakar dengan keberaniannya menyampaikan pidato di depan para sahabat semuanya. Dia juga tidak takut saat menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang kafir.

Dari situlah kemudian umat Islam mulai membangun masjid sebagai tempat beribadah dan melakukan kegiatan keislaman. Abu Bakar sama sekali tidak takut menghadapi reaksi kaum kafir saat Rasulullah SAW memutuskan untuk berdakwah secara terang-terangan.

Selain itu, Abu Bakar juga mempunyai sifat yang sangat penyabar. Abu Bakar sering kali diuji Allah SWT dengan kesabaran menjaga amarah. Suatu Ketika saat Rasulullah SAW berada di rumahnya, datanglah seorang Arab Badui yang menjelek-jelekkan dirinya.

Orang itu memaki-maki Abu Bakar, padahal ia masih berbicara dengan Rasulullah SAW. Mendengar makian itu, Abu Bakar bersabar dan hanya membalas dengan senyum. Orang Arab tersebut lantas memakinya lagi, menganggap bahwa Abu Bakar bukanlah orang yang baik.

Abu Bakar terus bersabar. Namun, Ketika orang tadi memakinya untuk ketiga kali, Abu Bakar memaki makiannya. Abu Bakar ikut tersulut emosi dan menjelek-jelekkan juga orang yang memakinya.

Mendadak, Rasulullah meninggalkan Abu Bakar sebagai tuan rumah. Abu Bakar menjadi bingung mengapa Rasulullah meninggalkan rumahnya. Abu Bakar pun menyusul Rasulullah SAW hingga ke depan rumah.

"Mengapa engkau pergi wahai Rasulullah? Janganlah engkau membuatku bingung. Katakanlah jika aku berbuat kesalahan," tanya Abu Bakar.

Rasulullah SAW menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab Badui datang lalu mencelamu dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah. Begitupun yang kedua kali, Ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, Ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya."

Mendengar jawaban dari Rasulullah, hati Abu Bakar tersentuh. Dia menyesal karena telah menjadi marah seperti sifat iblis. Abu Bakar pun bertekad untuk lebih bersabar di kemudian hari. Dia sangat bersyukur karena Rasulullah SAW masih mau mengingatkannya tentang hal kesabaran menahan amarah. Pernah juga di lain Waktu Abu Bakar diuji kesabarannya lagi dan ia tetap bersabar.

2. Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Pengemis Buta

Semasa Rasulullah SAW masih hidup, beliau selalu melewati pasar dalam perjalannya. Di sana, ada pengemis buta yang selalu menjelek-jelekkan nama Muhammad dan mencaci makinya setiap hari.

Suatu Ketika, Rasulullah kehilangan pengemis itu karena tidak tampak suara dan rupanya. Terdengar kabar bahwa pengemis itu sakit. Maka sejak saat itu Rasulullah pun senantiasa menjenguknya sembari menyuapkan makanan ke depan mulutnya.

Pada saat Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar lah yang menggantikan peran itu. Dia menjenguk pengemis yang buta itu dengan tetap menyuapinya makanan.

"Mana orang yang biasa menyuapiku?" tanya pengemis itu.

"Aku orang yang biasa datang ke sini dan menyuapimu," jawab Abu Bakar.

Dada Abu Bakar berkecamuk mendengar pertanyaan pengemis itu karena dia tahu, orang itulah yang selalu mencaci maki Rasulullah tiap kali melewati pasar.

Abu Bakar mencoba untuk tetap bersabar. Dia tidak mau marah kepada pengemis itu.

"Bukan! Bukan engkau. Orang yang datang ke sini selalu menyuapiku dengan lembut. Berbeda denganmu. Kau pasti bukan orang itu!" kata pengemis itu kepada Abu Bakar.

Lalu, Abu Bakar berkata, "Ya, aku bukanlah orang itu. Orang yang biasa ke sini telah meninggal. Dia adalah Muhammad SAW."

Pengemis buta itu seketika menangis. Dia menyesal selama ini telah mencaci maki Rasulullah SAW, orang yang sebenarnya sangat baik dan perhatian kepadanya.

Abu Bakar pun merasa semakin sedih karena Rasulullah telah tiada. Dan dia berdoa kepada Allah SWT supaya senantiasa diberikan kesabaran.

3. Kisah Teladan Umar bin Khattab yang Dermawan

Kisah keteladanan Umar bin Khattab RA pernah diceritakan oleh pelayannya yang bernama Aslam. Ia berkata bahwa suatu malam ia dan Umar bin Khattab RA keluar menelusuri Kota Madinah.

Dari kejauhan, keduanya melihat ada segerombolan musafir yang kedinginan dan kemalaman. Keduanya pun segera menghampiri gerombolan musafir itu.

Sesampainya di tempat musafir itu, betapa terkejutnya Umar bin Khattab RA dan Aslam melihat seorang perempuan bersama anak-anaknya yang menangis. Mereka duduk di depan sebuah periuk yang dimasak di atas api.

Umar bin Khattab RA bertanya, "Apa yang terjadi?"

Wanita itu menjawab, "Kami kemalaman dan kedinginan,"

"Lalu mengapa anak-anakmu menangis?" tanya Umar bin Khattab RA lagi.

"Mereka lapar," jawab wanita itu.

Umar RA heran sebab ia melihat wanita itu seakan-akan memasak di dalam sebuah periuk di depannya. Lalu mengapa anak-anak itu tetap menangis dan tidak segera diberi makanan di dalamnya.

Namun, ternyata wanita itu berkata, "Di periuk itu hanya ada air, aku sengaja memasaknya agar mereka bisa tenang hingga tertidur. Allah akan menjadi hakim antara kami dan Umar."

Wanita tadi tidak tahu jika yang diajak berbicara adalah Umar bin Khattab RA. Lalu beliau berkata, "Semoga Allah merahmatimu, sedangkan Umar tidak mengetahui keadaanmu."

Wanita itu berkata, "Ia mengatur kami, memimpin kami, tetapi melupakan kami,"

Tanpa pikir panjang, Umar bin Khattab RA langsung mengajak Aslam untuk pulang dan mengambil sekarung gandum dengan seember daging. Ia segera memberikan semua itu kepada wanita dan anak-anaknya tadi.

Tak sampai di situ saja, Umar bin Khattab RA bahkan bersedia untuk memasakkan bahan makanan tadi untuk mereka sehingga mereka merasa kenyang dan aman.

Wanita tadi lalu berkata kepada Umar bin Khattab RA, "Semoga Allah membalas kebaikanmu, sungguh engkau lebih mulia dibanding Amirul Mukminin (Umar bin Khattab RA)."

Umar bin Khattab RA pun menjawab, "Bicaralah yang santun, jika engkau menemui Amirul Mukminin, Insyaallah engkau akan mendapatiku di sana." Kemudian ia menjauhi wanita itu.

Setelah wanita dan anak-anaknya tadi tertidur dalam keadaan perut kenyang, Umar bin Khattab RA pergi dari sana bersama Aslam. Ia pun berkata kepada pelayannya tersebut,

"Wahai Aslam, sesungguhnya rasa lapar membuat anak-anak itu tidak bisa tidur dan menangis. Aku tidak akan pergi sebelum memastikan mereka sudah tidur dan tidak menangis lagi."

4. Kisah Utsman bin Affan Membeli Sumur Orang Yahudi

Pada suatu waktu di Kota Madinah, tidak jauh dari Masjid Nabawi, ada sebuah sumur besar dengan air yang sangat jernih dan melimpah. Sumur itu bernama Bir Raumah. Sayangnya, sumur tersebut dimiliki oleh seorang Yahudi yang menjual airnya dengan harga mahal.

Penduduk Madinah sangat membutuhkan air bersih. Namun, setiap satu ember air harus dibayar dengan harga satu mud atau setengah rantang biji padi. Harga itu terasa berat bagi banyak orang. Meski begitu, mereka tetap mengantre karena tidak punya pilihan lain.

Melihat keadaan itu, para sahabat mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Rasulullah ingin agar ada seseorang yang membeli sumur itu supaya airnya bisa dinikmati oleh semua orang tanpa harus membayar.

Rasulullah pun bersabda,

"Wahai sahabatku, siapa saja di antara kalian yang membeli sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka kelak dia di surga," Rasulullah menyerukan tawaran.

Mendengar seruan itu, Utsman bin Affan segera berdiri. Ia adalah sahabat yang terkenal kaya, dermawan, dan berhati lembut. Tanpa ragu, ia mendatangi pemilik sumur untuk menawarnya dengan harga tinggi. Namun, pemilik sumur menolak.

"Seandainya sumur ini aku jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari, ujar Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.

Utsman tidak putus asa. Ia berpikir dengan tenang, lalu berkata,

"Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu," Utsman, melancarkan jurus negosiasinya.

"Maksudmu?" tanya Yahudi keheranan.

"Begini, jika engkau setuju, maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu, kemudian lusa menjadi milikku lagi, demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?" jelas Utsman.

Pemilik sumur pun berpikir. Ia merasa tetap bisa mendapatkan keuntungan. Akhirnya, ia setuju menjual setengah sumur itu kepada Utsman dengan harga 12.000 dirham.

Ketika hari kepemilikan sumur menjadi milik Utsman, ia mengumumkan kepada penduduk Madinah bahwa siapa saja boleh mengambil air secara gratis. Ia bahkan mengingatkan agar warga mengambil air secukupnya untuk dua hari.

Keesokan harinya, saat giliran pemilik lama, sumur itu menjadi sepi. Tidak ada yang membeli air karena warga sudah memiliki persediaan gratis. Ia pun kehilangan penghasilan dan merasa sedih.

Akhirnya, ia mendatangi Utsman dan berkata,

"Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin."

Utsman menyetujuinya. Ia membeli sisa kepemilikan sumur tersebut hingga sepenuhnya menjadi miliknya.

Setelah itu, Utsman bin Affan mewakafkan sumur tersebut untuk semua orang. Siapa saja boleh mengambil air tanpa membayar, bahkan pemilik lamanya pun boleh memanfaatkannya secara gratis.

Begitulah kebaikan hati Utsman bin Affan. Ia mengajarkan kepada kita bahwa harta yang digunakan untuk membantu orang lain akan menjadi pahala yang terus mengalir dan membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

5. Kisah Zubair bin Awwam Sebagai Tetangga Rasulullah di Surga

Mengutip buku Seri Ensiklopedia Anak Muslim: 125 Sahabat Nabi Muhammad SAW oleh Mahmudah Mastur, dijelaskan bahwa pada zaman dahulu, hiduplah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat pemberani. Namanya adalah Zubair bin Awwam. Ia adalah sepupu Rasulullah SAW, putra dari Shafiyyah. Sejak kecil, Zubair dikenal sebagai anak yang kuat hati dan berani membela kebenaran.

Zubair termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Ia masuk Islam setelah Abu Bakar, saat usianya masih sangat muda, sekitar 15 tahun. Meski masih remaja, imannya sangat teguh.

Namun, menjadi Muslim pada masa itu tidaklah mudah. Kaum Quraisy sering menyiksa orang-orang yang beriman. Zubair pun merasakan penderitaan itu. Bahkan, pamannya sendiri, Naufal bin Khuwailid, pernah menyiksanya dengan cara menggulungnya dalam tikar lalu membakar ujung tikar tersebut. Walau begitu, Zubair tidak pernah meninggalkan Islam.

Merujuk buku Kisah 10 Pahlawan Surga oleh Abu Zaein, Zubair dikenal sebagai seorang hamba sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ia juga sangat ingin menjadi syuhada, yaitu orang yang gugur di jalan Allah. Karena begitu besarnya rasa cinta itu, ia menamai anak-anaknya dengan nama para sahabat yang gugur sebagai syuhada.

Ia memberi nama putranya Abdullah, seperti Abdullah bin Jahsy yang gugur dalam Perang Uhud. Putranya yang lain dinamai Mush'ab, seperti Mush'ab bin Umair, utusan Islam pertama yang juga gugur dalam Perang Uhud. Ada pula yang dinamai Hamzah, mengambil nama Hamzah bin Abdil Muthallib, paman Rasulullah yang dijuluki singa Allah dan Rasul-Nya.

Selain pemberani, Zubair juga sangat dermawan. Ia memiliki banyak harta, tetapi ia gemar bersedekah. Ia membantu kaum fakir hingga hampir tidak menyisakan harta untuk dirinya sendiri.

Suatu hari, setelah wafatnya Utsman bin Affan, terjadi perselisihan di antara kaum Muslimin hingga pecahlah Perang Jamal. Saat itu, Zubair dan Thalhah berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib.

Tiba-tiba, Ali menghampiri Zubair dan berkata,

"Wahai Zubair, tidakkah kamu mendengar perkataan Rasulullah saw yang ditujukan kepada dirimu. "Sesungguhnya kamu akan memerangi Ali dan (saat itu) kamu berbuat zolim kepadanya?'"

Mendengar itu, Zubair langsung teringat pesan Rasulullah SAW. Hatinya tersentuh. Ia pun memilih mundur dari peperangan bersama Thalhah.

Namun, ada orang-orang yang tidak suka melihat mereka mundur. Saat Zubair sedang mengerjakan shalat, seseorang bernama Ibnu Jurmuz melemparkan anak panah ke arahnya hingga ia jatuh terluka.

Ketika kabar itu sampai kepada Ali bin Abi Thalib, beliau berkata,

"Sungguh aku telah mendengar Rasulullah saw berkata. 'Berilah kabar buruk kepada orang yang membunuh Ibnu Shafiyyah, maksudnya Zubair. bahwa dia akan masuk neraka."

Ali sangat sedih. Ia mendatangi jenazah Zubair, membalikkan tubuhnya, lalu menciumnya. Air mata Ali pun jatuh. Ia berkata,

"Demi Allah, sungguh dia adalah pedang Allah yang selalu membela Rasulullah saw."

Zubair kemudian dimakamkan di samping sahabatnya, Thalhah. Mereka berdua bersahabat di dunia dan akan bersama pula di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda,

"Thalhah dan Zubair adalah dua tetanggaku di surga:"

Betapa indahnya persahabatan mereka. Karena keimanan, keberanian, dan ketulusan hati, mereka dijanjikan menjadi tetangga Rasulullah di surga.

Zubair wafat pada tahun 26 Hijriah. Kisahnya mengajarkan kita untuk berani membela kebenaran, setia pada Allah, dan selalu berbuat baik kepada sesama.

Itulah dia lima kisah singkat sahabat Nabi yang inspiratif dan cocok dibacakan ke anak. Semoga bisa menambah pengetahuan, menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya, serta mengajarkan nilai keberanian, keikhlasan, dan kebaikan hati anak sejak dini, ya!

Halaman 2 dari 2
(dvs/dvs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads