Bilal bin Rabbah dikenal sebagai sahabat Nabi yang setia dan muadzin kesayangan Rasulullah Muhammad SAW. Ia adalah orang pertama yang mengumandangkan azan dalam sejarah Islam. Suaranya yang merdu dan penuh penghayatan membuatnya mendapat julukan Muadzdzin ar-Rasul.
Bilal berasal dari Habasyah (kini Ethiopia), Afrika. Ia bertubuh tinggi dan kurus, serta termasuk golongan hamba sahaya berkulit hitam. Ibunya adalah seorang budak milik Umayyah bin Khalaf, salah satu pemimpin Quraisy. Dalam kondisi sebagai budak itulah Bilal pertama kali mendengar ajaran Islam. Hatinya tergerak. Ia kemudian menemui Rasulullah SAW dan menyatakan keislamannya. Bilal pun tercatat sebagai bagian dari Assabiqunal Awwalun, golongan orang-orang yang pertama masuk Islam.
Waktu berlalu. Setelah Rasulullah SAW wafat, ada satu suara yang ikut menghilang dari langit Madinah yaitu suara Bilal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia enggan lagi mengumandangkan azan. Bukan karena tak ada yang memintanya, dan bukan pula karena ia tak mampu berdiri. Namun setiap kali sampai pada kalimat yang menyebut nama Rasulullah, suaranya tercekat. Dadanya terasa sesak. Air matanya tak terbendung. Kerinduan itu terlalu dalam untuk ditahan.
Akhirnya, Bilal memilih meninggalkan Madinah. Ia pergi menjauh, berharap jarak dapat meredakan luka. Namun, benarkah rindu bisa disembuhkan dengan kepergian?
Bertahun-tahun kemudian, sebuah permintaan datang. Umar bin Khattab r.a., bersama dua cucu kesayangan Rasulullah, memohon agar Bilal kembali mengumandangkan azan, walau hanya sekali.
Bilal menolak. Hatinya belum siap.
Hingga suatu malam, sebuah mimpi mengubah segalanya.
Audio Book detikHikmah yang berisi kumpulan kisah-kisah nabi. Foto: detikcom |
Dan ketika akhirnya takbir kembali menggema dari menara Masjid Nabawi, Madinah mendadak terdiam. Aktivitas terhenti. Orang-orang berlari menuju sumber suara. Mereka tahu, ini bukan sekadar azan, ini adalah suara yang membawa kembali kenangan, cinta, dan kehilangan sekaligus.
Apa yang terjadi ketika nama "Muhammad" kembali disebut dalam lantunan adzan itu?
Mengapa satu kali azan mampu membuat seluruh Madinah menangis?
Kisah ini menjadi pengingat bahwa cinta dan rindu kepada Rasulullah SAW tak pernah benar-benar pergi, ia hanya menunggu momen untuk kembali menggema.
Baca kisah selengkapnya tentang Kisah Sahabat Nabi yang berjudul Rindu Rasul dan Adzan Terakhir yang Menggetarkan Madinah dalam bentuk audio dan gambar menarik DI SINI.
(lus/erd)













































Komentar Terbanyak
Polling: Kemenhaj Wacanakan 'War Tiket' untuk Berangkat Haji, Kamu Setuju?
Diskusi Seru DPR dan Kemenhaj soal Strategi Pangkas Antrean Jemaah Haji
Tutup Kekurangan Biaya Haji Rp 1,77 T, Menhaj: Kami Masih Diskusi dengan DPR