Kisah Haritsah bin al-Nu'man merupakan salah satu cerita inspiratif dalam sejarah Islam yang sarat dengan keteladanan dan keutamaan sahabat Nabi. Haritsah bin al-Nu'man adalah seorang sahabat Nabi Muhammad dari kalangan Anshar, berasal dari kabilah Khazraj, keturunan Bani Najjar, dengan kunyah Abu Abdullah.
Ia memiliki nasab lengkap Haritsah bin Nu'man bin Nufai' bin Zaid bin Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanm bin Malik bin Najjar yang menunjukkan kedudukannya di tengah masyarakat Madinah.
Dalam kisah hidupnya, Haritsah dikenal memiliki pengalaman istimewa bertemu Malaikat Jibril serta termasuk sahabat Nabi yang dianugerahi karamah oleh Allah dan terkenal dengan berbakti kepada orang tuanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah Haritsah bin Al-Nu'man Bertemu Malaikat Jibril
Haritsah bin al-Nu'man dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki karomah istimewa. Di antara keutamaannya adalah pengalaman langka bertemu Malaikat Jibril lebih dari satu kali semasa hidupnya.
Kisah ini diriwayatkan oleh Abdul Wadud Kasyful Humam dalam buku 40 Sahabat Nabi yang Memiliki Karamah. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa pertemuan Haritsah dengan Malaikat Jibril terjadi dalam momen-momen penting perjuangan Islam.
Pertemuan pertama terjadi saat Perang Shaurain, ketika Rasulullah SAW keluar untuk menghadapi Bani Quraizah. Haritsah bin al-Nu'man menyaksikan Jibril lewat di hadapan mereka dalam wujud seorang komandan pasukan yang memerintahkan kaum Muslimin membawa senjata.
Pertemuan kedua terjadi setelah Perang Hunain, saat Haritsah dan rombongannya sedang menguburkan para jenazah. Ia melihat Malaikat Jibril sedang berbincang dengan Rasulullah SAW, sehingga ia memilih tidak mengucapkan salam agar tidak mengganggu.
Setelah itu, Jibril bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sosok yang baru saja lewat tanpa memberi salam. Rasulullah menjawab bahwa orang tersebut adalah Haritsah bin al-Nu'man, lalu Jibril menyebutnya sebagai bagian dari orang-orang sabar yang rezekinya dijamin Allah di surga.
Dalam riwayat lain yang dinukil dari Abdullah bin Abbas, Haritsah kembali dikisahkan melihat Jibril saat Rasulullah SAW sedang berbincang dengannya. Ketika ditanya Nabi mengapa ia tidak mengucapkan salam, Haritsah menjawab karena mengira Rasulullah sedang berbicara dengan seseorang dan ia tidak ingin mengganggu.
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa sosok tersebut adalah Malaikat Jibril, yang memuji Haritsah sebagai bagian dari kelompok "samanin." Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah 80 orang yang tetap sabar dan teguh saat Perang Hunain, dan rezeki mereka beserta anak-anaknya dijamin Allah di surga.
Haritsah bin Al-Nu'man Masuk Surga Karena Berbakti
Haritsah bin al-Nu'man dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki keutamaan besar karena baktinya kepada kedua orang tua. Sikap hormat, patuh, dan penuh kasih sayang kepada ibunya menjadi amalan utama yang melekat dalam kehidupannya.
Rasulullah SAW pernah menyebut nama Haritsah sebagai salah satu calon penghuni surga. Hal ini disampaikan Nabi setelah melihat kedudukan mulia Haritsah yang selalu mendahulukan bakti kepada orang tuanya dibanding urusan dunia lainnya.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda bahwa Haritsah termasuk orang yang berada di surga karena baktinya kepada ibu. Ucapan tersebut menunjukkan bahwa birrul walidain menjadi sebab utama diangkatnya derajat Haritsah di sisi Allah SWT.
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
نِمْتُ فَرَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ فَسَمِعْتُ صَوْتَ قَـارِئٍ يَقْرَأُ فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالُوا: هَذَا حَارِثَةُ بْنُ النُّعْمَانِ.
"Aku pernah tidur, lalu aku bermimpi diriku berada di Surga, lalu aku mendengar suara seorang yang sedang membaca (al-Qur-an), lalu kutanyakan, 'Siapa ini?' Mereka menjawab, 'Ini adalah Haritsah bin an-Nu'man.'"
Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كَذَلِكَ الْبِرُّ كَذَلِكَ الْبِرُّ.
"Demikianlah ganjaran dari berbakti, demikianlah ganjaran dari berbakti."
Beliau adalah orang yang paling berbakti terhadap ibunya. [HR. Ahmad dengan sanad yang shahih].
Haritsah bin al-Nu'man dikenal selalu memenuhi kebutuhan ibunya dan tidak pernah membantah perkataannya. Ia bahkan rela mengalah dalam berbagai hal demi menjaga perasaan dan kenyamanan sang ibu.
Kisah Haritsah bin al-Nu'man menjadi teladan bahwa jalan menuju surga tidak hanya melalui jihad dan ibadah besar. Berbakti kepada orang tua dengan tulus dan konsisten juga menjadi amalan agung yang mengantarkan seseorang meraih surga.
(hnh/lus)












































Komentar Terbanyak
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, MUI: Kehancuran bagi AS-Israel
Muslim di Kota Ini Cuma Puasa 1 Jam
Rusia: AS-Israel Sengaja Tabur Perpecahan di Dunia Islam Selama Ramadan