Kisah Muawiyah bin Abu Sufyan tidak dapat dilepaskan dari pembahasan tentang kepemimpinan dalam sejarah Islam. Khalifah dikenal sebagai sosok yang menggantikan Rasulullah SAW dalam menyebarkan ajaran Islam serta memimpin umat Muslim setelah beliau wafat.
Dalam sejarah Islam, terdapat empat khalifah yang dikenal sebagai Al-Khulafa Al-Rasyidin, yaitu para sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Keempat pemimpin umat Islam ini dinilai berhasil menjaga kemurnian ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan, sebagaimana teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW demi kebaikan umat.
Setelah masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah terakhir dari Al-Khulafa Al-Rasyidin, pemerintahan Islam memasuki babak baru. Dinasti Umayyah di bawah kepemimpinan Muawiyah bin Abu Sufyan kemudian tampil sebagai pemegang kekuasaan politik Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muawiyah bin Abu Sufyan dikenal sebagai tokoh yang membawa perubahan besar dalam sistem politik Islam. Ia mengubah sistem demokrasi partisipatif yang dibangun Rasulullah SAW dan Al-Khulafa Al-Rasyidin menjadi sistem pemerintahan yang lebih tertutup dan bersifat otoriter.
Karier Politik Muawiyah bin Abu Sufyan
Diceritakan dalam buku Muawiyah bin Abu Sufyan oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi, Muawiyah bin Abu Sufyan memulai karier politiknya secara resmi ketika ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai Gubernur Syam (Suriah) pada tahun 639 M. Penunjukan ini menjadi titik awal kiprahnya sebagai administrator dan pemimpin politik yang berpengaruh dalam dunia Islam.
Sebagai gubernur, Muawiyah menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang menonjol dalam menjaga stabilitas wilayah Syam. Ia berhasil membangun pemerintahan yang tertata rapi dan mendapat dukungan kuat dari masyarakat setempat.
Salah satu capaian penting Muawiyah selama menjabat gubernur adalah pembentukan angkatan laut Muslim pertama. Langkah ini memperkuat posisi militer Islam, khususnya dalam menghadapi ancaman Kekaisaran Bizantium di wilayah Mediterania.
Situasi politik Islam memanas setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 656 M. Perbedaan pandangan mengenai penanganan para pembunuh Utsman memicu perselisihan antara Muawiyah dan Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Perselisihan tersebut memuncak dalam Perang Shiffin, yang menjadi salah satu konflik internal terbesar dalam sejarah Islam awal. Perang ini tidak menghasilkan kemenangan mutlak dan justru memperdalam perpecahan politik di kalangan umat Muslim.
Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib dan pengunduran diri Hasan bin Ali dari jabatan khalifah demi menghindari pertumpahan darah, Muawiyah akhirnya diakui sebagai khalifah pada tahun 661 M. Peristiwa ini menandai berakhirnya era Khulafa al-Rasyidin dan dimulainya Dinasti Umayyah.
Sebagai khalifah, Muawiyah melakukan berbagai ekspansi wilayah, termasuk upaya pengepungan Konstantinopel yang menjadi usaha pertama umat Islam untuk menaklukkan kota tersebut. Dalam bidang pemerintahan, ia lebih mengutamakan kecakapan, loyalitas, dan efektivitas administrasi dibandingkan garis keturunan semata.
Meski dikenal sebagai negarawan ulung, Muawiyah tetap menjadi sosok kontroversial dalam sejarah Islam. Perselisihannya dengan Ali bin Abi Thalib serta penunjukan putranya, Yazid, sebagai penerus kekhalifahan memicu perdebatan panjang di kalangan sejarawan dan ulama hingga kini.
Konflik Muawiyah dan Ali
Masih dikutip dari buku yang sama, Inti konflik antara Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ali bin Abi Thalib berawal dari perbedaan pandangan dalam menyikapi pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Seluruh sahabat sepakat bahwa para pelaku harus dihukum qishash, tetapi berbeda pendapat mengenai waktu dan cara pelaksanaannya.
Muawiyah dan pendukungnya berpendapat bahwa qishash harus dilakukan secepat mungkin sebelum baiat kepada Ali. Menurutnya, penundaan hanya akan membuat para pembunuh berbaur di tengah masyarakat sehingga sulit dilacak, terlebih Muawiyah adalah wali Utsman dan memiliki kekuatan politik di Syam.
Sebaliknya, Ali bin Abi Thalib dan mayoritas sahabat berpandangan bahwa qishash harus ditunda hingga kondisi negara kembali stabil. Mereka menilai pelaksanaan hukuman dalam situasi kacau justru akan memperparah konflik dan mengancam persatuan umat Islam.
Selain dua pendapat tersebut, ada pula kelompok sahabat yang memilih uzlah atau mengasingkan diri dari konflik. Mereka menolak terlibat dalam pertumpahan darah sesama Muslim dan menjauh dari pusat-pusat ketegangan politik.
Muawiyah sendiri tidak mengklaim sebagai khalifah dan tidak berniat merebut kekuasaan dari Ali. Penolakannya untuk berbaiat kepada Ali semata-mata didasarkan pada tuntutan agar para pembunuh Utsman diserahkan terlebih dahulu untuk ditegakkan qishash.
Menurut mayoritas ulama, konflik Ali dan Muawiyah merupakan hasil ijtihad dalam menghadapi situasi yang sangat kompleks pada masa itu. Ali dinilai lebih dekat kepada kebenaran karena mengutamakan stabilitas dan perdamaian, sementara seluruh pihak tetap dihormati sebagai sahabat Nabi tanpa rasa kebencian.
(hnh/inf)

Komentar Terbanyak
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat
MUI Minta Koruptor Dihukum Mati, Jangan Berlindung di Balik HAM