Umair bin Sa'ad adalah salah satu sahabat mulia yang memiliki kisah menginspirasi dalam sejarah Islam. Beliau beriman kepada risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW sejak masih belia, di saat hatinya masih bersih dari keraguan dan penyakit hati.
Keimanan yang menghujam kuat dalam diri Umair bin Sa'ad menjadi fondasi kokoh bagi kepribadiannya yang luar biasa. Keteguhan iman dan kejujuran yang ia miliki membuat Umar bin al-Khattab menjulukinya dengan gelar nasiju wahdih, satu-satunya yang tak tertandingi.
Umair bin Sa'ad Memimpin Kota Himsh
Diceritakan dalam buku Sirah 65 Sahabat Rasulullah oleh Abdurrahman Ra'fat, penduduk kota Himsh dikenal sebagai masyarakat yang sulit dipimpin. Mereka sering mengeluhkan pemimpin yang diutus kepada mereka dan selalu menemukan kekurangan pada setiap wali yang datang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khalifah Umar bin Khattab mengetahui sifat penduduk Himsh yang demikian. Maka, beliau berniat mengutus seseorang yang memiliki integritas tinggi dan tak bercela di mata manusia maupun Allah.
Umar menyeleksi para pembantunya satu per satu untuk mencari calon terbaik. Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, ia tidak menemukan seorang pun yang lebih layak daripada Umair bin Sa'ad.
Saat itu, Umair tengah memimpin pasukan di wilayah Syam. Ia dikenal sebagai pemimpin yang gagah berani, membebaskan kota-kota, dan menegakkan syiar Islam di mana pun ia berada.
Meski tengah berjuang di medan jihad, Umair menerima panggilan Amirul Mukminin dengan penuh ketaatan. Ia meninggalkan pasukan dan berangkat menuju Himsh untuk menjalankan amanah sebagai wali di sana.
Sesampainya di Himsh, hal pertama yang ia lakukan adalah mengajak masyarakat untuk menunaikan salat berjamaah. Seusai salat, ia berdiri di hadapan mereka dan menyampaikan khutbah yang sangat menyentuh.
Dalam khutbahnya, Umair memuji Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu ia menasihati penduduk dengan kalimat yang sarat makna tentang keadilan dan kebenaran.
Ia berkata, "Islam adalah benteng yang kokoh dan gerbang yang kuat." Benteng itu, katanya, adalah keadilan, dan pintu gerbangnya adalah kebenaran yang harus dijaga.
Umair menegaskan bahwa jika keadilan hancur dan kebenaran diruntuhkan, maka Islam akan kehilangan perlindungan. Ia menekankan bahwa kekuasaan hanya bisa tegak dengan keadilan, bukan dengan kekerasan atau pedang.
Setelah khutbah itu, Umair menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ia menata urusan pemerintahan, memperbaiki keadilan, dan memastikan kesejahteraan masyarakat Himsh.
Selama setahun penuh ia memimpin, tak ada satu laporan pun yang dikirimkan kepada Khalifah Umar. Tidak pula ada satu dirham atau dinar dari harta fai' yang disetorkan ke baitul maal di Madinah.
Hal ini membuat Umar bin Khattab merasa khawatir. Ia takut jika amanah kepemimpinan itu telah menggoda Umair sebagaimana banyak pemimpin lain diuji oleh kekuasaan.
Maka Umar memerintahkan sekretarisnya untuk menulis surat kepada Umair. Dalam surat itu, ia memintanya datang ke Madinah dengan membawa seluruh harta fai' yang ia kelola.
Umair menerima surat tersebut dan segera mematuhi perintah Khalifah. Ia berangkat menuju Madinah hanya dengan berjalan kaki, membawa bekal seadanya dan tanpa kendaraan tunggangan.
Setibanya di Madinah, Umar terkejut melihat kondisi Umair yang kurus dan letih. Tubuhnya tampak lemah karena perjalanan jauh, namun wajahnya tetap memancarkan ketenangan iman.
Umar bertanya, "Apa yang terjadi padamu, wahai Umair?" Umair menjawab bahwa dirinya sehat dan tidak membawa apa pun selain bekal sederhana dan alat untuk beribadah.
Ketika Umar menanyakan harta fai', Umair menjelaskan bahwa seluruhnya telah disalurkan kepada yang berhak. Ia menegaskan tidak menyimpan sedikit pun untuk dirinya sendiri.
Umar pun tersentuh dengan ketulusan dan keikhlasan Umair bin Sa'ad. Ia bahkan ingin memperpanjang masa jabatannya, namun Umair menolak karena lebih memilih hidup sederhana di kampungnya sambil tetap beribadah kepada Allah.
(hnh/inf)












































Komentar Terbanyak
Pertama Kali! Kemenag Gelar Natal Bersama Kristen-Katolik di TMII
Lagi, MUI Kecam Tindakan Israel Melarang Operasi Kemanusiaan di Gaza
Tanggal Awal Ramadan, Idul Fitri & Idul Adha 1447 H/2026 M Versi Muhammadiyah