Surat Hud Ayat 44: Kisah Bahtera Nabi Nuh dan Binasanya Kaum Zalim

Surat Hud Ayat 44: Kisah Bahtera Nabi Nuh dan Binasanya Kaum Zalim

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Minggu, 25 Okt 2026 05:00 WIB
Banjir Nuh
Ilustrasi bahtera Nabi Nuh AS. Foto: Live Science
Jakarta -

Al-Qur'an mengabadikan kisah-kisah umat terdahulu dan peristiwa dahsyat yang menimpanya. Salah satunya kisah umat Nabi Nuh AS dalam surat Hud ayat 44.

Nabi Nuh AS populer dengan kisah pembuatan bahtera dan peristiwa banjir dahsyat yang menenggelamkan kaumnya. Kisah ini menjadi pengingat akan kehancuran akibat perbuatan membangkang sekaligus kuasa Allah SWT dalam menyelamatkan hamba-Nya yang beriman. Lantas, bagaimana kisah yang disebutkan dalam surat Hud ayat 44 ini?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bacaan Surat Hud Ayat 44 dan Tafsirnya

وَقِيْلَ يٰٓاَرْضُ ابْلَعِيْ مَاۤءَكِ وَيٰسَمَاۤءُ اَقْلِعِيْ وَغِيْضَ الْمَاۤءُ وَقُضِيَ الْاَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ وَقِيْلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

Artinya: "Difirmankan (oleh Allah), "Wahai bumi, telanlah airmu dan wahai langit, berhentilah (mencurahkan hujan)." Air pun disurutkan dan urusan (pembinasaan para pendurhaka) pun diselesaikan dan (kapal itu pun) berlabuh di atas gunung Judiy, dan dikatakan, "Kebinasaanlah bagi kaum yang zalim."

ADVERTISEMENT

Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kementerian Agama (Kemenag RI), dan Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, ayat ini merinci akhir dari ketetapan azab dengan rincian peristiwa sebagai berikut:

  • Usai ketetapan azab dengan air bah berakhir, Allah SWT berfirman memerintahkan bumi menyerap air yang memancar dari permukaannya dan menitahkan langit menghentikan curahan hujan lebat. Alam semesta tunduk patuh tanpa perlawanan.
  • Rampungnya pemusnahan terhadap orang-orang yang mendustakan ajaran tauhid dan penyelamatan sempurna bagi kaum mukmin di dalam bahtera.
  • Berlabuhnya bahtera setelah terapung selama berbulan-bulan. Menurut riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Azhar, penumpang bahtera berjumlah 80 orang dan mereka keluar bertepatan pada hari Asyura (10 Muharram). Buya Hamka mencatat penyelidikan modern mengidentifikasi Gunung Judiy berada dalam gugusan Pegunungan Ararat di perbatasan Turki.
  • Sebagaimana dicatat dalam Tafsir Al-Azhar, Nabi Nuh AS sempat melepas burung merpati untuk mendeteksi daratan. Merpati tersebut kembali dengan membawa tangkai ranting pohon zaitun dan lumpur di kakinya, yang menjadi penanda bahwa tanah kering telah dekat.
  • Kebinasaan kaum yang zalim. Penggalan akhir ayat menegaskan bahwa mereka yang menolak dakwah dijauhkan dari rahmat Allah.

Kisah Nabi Nuh AS dan Mukjizat Bahteranya

Nabi Nuh AS merupakan rasul pertama yang diutus untuk membenahi akidah tauhid dan memerangi kesyirikan di muka bumi. Mengutip buku Sejarah Dakwah karya Jamaluddin, Nabi Nuh AS adalah keturunan kesembilan Nabi Adam AS.

Nabi Nuh AS diutus pada masa kekosongan rasul tatkala manusia mulai menyembah patung berhala seperti Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq, dan Nasr. Beliau berdakwah tanpa henti siang dan malam, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, serta hidup di tengah kaumnya selama 950 tahun (seperti yang tercantum dalam surat Al-'Ankabut ayat 14).

Meskipun berdakwah berabad-abad, pengikut yang beriman sangat sedikit, kurang dari seratus orang, sementara kaumnya tetap membangkang dan memperolok dirinya. Dalam buku Aqidah Akhlak karya Taofik Yusmansyah dijelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS merakit sebuah bahtera besar di atas dataran tinggi di bawah pengawasan dan petunjuk wahyu-Nya.

Dalam Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1 karya Syaikh Mahmud Al-Mishri, Nabi Nuh AS digambarkan sebagai cermin penyerahan diri dan tawakal tingkat tinggi. Beliau tetap teguh mematuhi wahyu Ilahi untuk membangun bahtera besar di atas puncak gunung yang jauh dari laut, meski dicemooh dan dihina tanpa henti oleh para pemuka kaumnya.

Ketika air memancar deras dari perut bumi dan hujan lebat mengguyur tanpa jeda, bahtera itu berlayar menjadi sarana penyelamat bagi orang-orang mukmin dan sepasang hewan dari setiap jenis ketika banjir bandang dahsyat menenggelamkan seluruh orang kafir termasuk istri dan anaknya yang durhaka.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads