Rais Aam KH Miftachul Akhyar memimpin pelantikan pengurus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031. Pelantikan itu digelar di Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).
Melalui acara yang juga disiarkan secara daring lewat YouTube TVNU, sejumlah pengurus PBNU terlihat hadir dengan pakaian serba putih bagi pengurus perempuan dengan dipadukan sarung bagi pengurus laki-laki. Sebelum pelantikan berlangsung, Ketua PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin membacakan surat keputusan tentang pengesahan komposisi dan personalia pengurus PBNU 2026-2031.
"Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tentang Pengesahan Komposisi dan Personalia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masa Khidmat 2026-2031," kata Gus Kikin membacakan Surat Keputusan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Gus Kikin juga menuturkan nama-nama yang tercantum dalam lampiran surat keputusan itu disahkan sebagai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2026-2031. Dia mengamanatkan para pengurus untuk menjalankan tugas dengan berpedoman pada Mukadimah Qanun Asasi, Anggaran Dasar, dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama serta peraturan-peraturan yang ditetapkan dalam permusyawaratan pengurus.
Kemudian, para pengurus juga berkewajiban menyampaikan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas kepengurusan dalam Muktamar ke-36 Nahdlatul Ulama mendatang.
"Ketiga, surat keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Apabila dalam penetapannya terdapat perubahan dan/atau kekeliruan, surat keputusan ini akan ditinjau kembali sebagaimana mestinya," ujar Gus Kikin.
Usai pembacaan surat keputusan oleh Gus Kikin, barulah KH Mitftachul Akhyar memimpin pelantikan. Beberapa ketua, sekretaris jenderal, dan pengurus lain juga naik ke panggung mengikuti prosesi tersebut.
Adapun, pengurus lain mengikuti proses baiat dari bawah panggung. Rais Aam PBNU itu menjelaskan baiat jadi ikrar kesetiaan serta penguatan komitmen dalam menjalankan amanah organisasi.
"Yang harus kita cermati, baiat adalah merupakan inisiasi spiritual, janji setia. Baiat merupakan pembaruan penguatan terhadap janji setia tersebut, rechanncing atas apa yang telah terjadi, kesungguhan dalam pengabdian," ungkapnya.
Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan ayat al-Qur'an dan hadits oleh KH Miftachul Akhyar. Ia lalu meminta seluruh pengurus mengikuti bacaan syahadat dan pernyataan keridaan kepada Allah, Islam serta Nabi Muhammad SAW.
Setelah itu, Kiai Miftah membacakan baiat kepada jajaran pengurus PBNU. Dia lalu meminta seluruh pengurus mengulangi baiat tersebut.
Para pengurus selanjutnya membacakan ikrar sebagai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masa Khidmah 2026-2031.
"Kami, selaku Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026 sampai dengan 2031, dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, dengan ini berikrar sebagai berikut," demikian ikrar yang dibacakan.
Pada ikrar pertama, para pengurus itu menyatakan kesiapan untuk mengamalkan dan mempertahankan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945.
"Pertama, siap mengamalkan dan mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, menegakkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan patuh pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Nahdlatul Ulama serta peraturan jam'iyah Nahdlatul Ulama," ucap Kiai Miftach.
"Kedua, siap melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pengurus besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026 sampai dengan 2031 dengan sebaik-baiknya demi untuk kepentingan Nahdlatul Ulama, kepentingan umat Islam, dan kepentingan masyarakat Indonesia pada umumnya," sambungnya.
"Ketiga, siap menyumbangkan tenaga dan pikiran dalam rangka ikhtiar menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa, dan ketinggian harkat dan martabat manusia yang diridai oleh Allah Subhanahu wa ta'ala," demikian bunyi ikrar tersebut.
