4 Tanda Orang Beruntung di Dunia dan Akhirat

4 Tanda Orang Beruntung di Dunia dan Akhirat

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Jumat, 23 Okt 2026 06:30 WIB
Seorang lelaki muslim berdoa.
Ilustrasi seorang muslim sedang berdoa. Foto: Masjid Pogung Dalangan/Unsplash
Jakarta -

Umat Islam mungkin berpikir bahwa keberuntungan hanya berwujud hal-hal materiil dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Padahal, Islam memiliki tolok ukur tersendiri dalam menentukan golongan orang-orang yang beruntung dan yang merugi.

Dalam Islam, tanda orang yang beruntung di dunia dan akhirat tidak diukur dari kekayaan dan kesuksesan. Al-Qur'an surah Al-Asr secara jelas menyebutkan tanda-tanda batasan antara manusia yang merugi dan yang diberkahi keberuntungan.

Simak ulasan 4 tanda orang beruntung di dunia dan akhirat yang disebutkan dalam surah Al-Asr berikut ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bacaan Surah Al-Asr Lengkap: Arab, Latin dan Artinya

Berikut adalah bacaan surah Al-Asr lengkap dalam tulisan Arab, latin, dan terjemahan bahasa Indonesia.

وَالْعَصْرِۙ

ADVERTISEMENT

Arab-latin: Wal-'ashr(i)

Artinya: "Demi masa,"

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

Arab-latin: Innal-insana lafi khusr(in).

Artinya: "sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,"

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

Arab-latin: Illal-ladzina amanu wa 'amilush-shalihati wa tawashau bil-haqq(i), wa tawashaw bish-shabr(i).

Artinya: "kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran."

4 Tanda Orang Beruntung yang Disebutkan dalam Surah Al-Asr

Merangkum buku Tafsir Ar-Rahmah Juz 30 karya KH Rachmat Morado Sugiarto, surah Al-Asr menjelaskan bahwa manusia dalam kerugian dan kebinasaan dengan waktunya, kecuali orang yang beriman, beramal saleh, orang yang menasihati dengan kebenaran, dan dengan kesabaran. Empat tanda-tanda inilah yang menjadikan mereka dikecualikan dari orang-orang yang merugi sebagai orang yang beruntung.

Orang yang beriman dan beramal saleh disebut mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat karena mereka menjalani kehidupan sesuai dengan rida Allah SWT. Iman dan amal merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Iman adalah perbuatan hati dengan meyakini Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam, sedangkan amal saleh sebagai manifestasi dari iman dan keyakinan kepada Allah SWT.

Sebaliknya, orang yang tidak beriman dan tidak beramal saleh, niscaya Allah SWT akan murka terhadapnya dan tidak akan mendapat keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat.

Adapun orang yang bernasihat dengan kebenaran dan kesabaran, menjadi suatu hal yang perlu dilakukan agar orang yang beriman dan beramal saleh selalu berada di jalan yang benar. Di samping itu, orang yang beriman dan beramal saleh perlu bersabar agar senantiasa menjalankan ketaatan dengan istikamah tanpa putus di tengah jalan. Bersabar dalam hal ini mencakup sikap sabar atas musibah, takdir, dan kemudaratan yang menimpa.

Sementara itu, surah Al-Asr secara eksplisit menegaskan bahwa orang yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang merugi dan jauh dari keberuntungan Allah SWT.

Rasulullah Sebut Dua Nikmat pada Orang yang Merugi

Mengutip buku Zadul Ma'ad: Panduan Lengkap Meraih Kebahagiaan Dunia Akhirat karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Rasulullah SAW menyebutkan dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan oleh orang yang merugi.

Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ.

Artinya: "Ada dua nikmat yang padanya banyak orang merugi, yaitu: kesehatan dan waktu kosong." (HR. Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Sementara itu, dalam hadits riwayat lain, Rasulullah SAW juga menyebut kategori orang beruntung yang diberi kenikmatan sehat.

Dari Ubaidillah bin Mihsan Al-Anshari, ia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa berada di waktu pagi sehat tubuhnya, aman keluarganya, dan mempunyai makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah terkumpul untuknya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Bukhari, dan Al-Humaidi)



(inf/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads