Pesantren memiliki tradisi pembelajaran yang khas dalam mendalami ilmu agama Islam. Salah satunya melalui kajian kitab kuning, yakni kitab-kitab klasik yang menjadi rujukan dalam mempelajari fikih, tafsir, tauhid, akhlak, hingga bahasa Arab. Dalam proses pembelajarannya, pesantren mengenal sejumlah metode yang diwariskan secara turun-temurun, di antaranya sorogan dan bandongan.
Kedua metode ini tidak sekadar mengajarkan santri membaca dan memahami isi kitab. Sorogan dan bandongan juga membangun kedekatan antara guru dan murid, melatih ketelitian, serta menanamkan adab dalam menuntut ilmu. Meski sama-sama digunakan untuk mempelajari kitab kuning, keduanya memiliki cara kerja dan penekanan yang berbeda.
Penelitian Muhammad Yusuf Salam, Suharmon, Muhammad Husni Shidqi, Satri Yozi, dan Dedi Jistito berjudul Tradisi Keilmuan Pesantren Melalui Integrasi Sorogan dan Bandongan dalam Pembelajaran Kitab Kuning di Sumatera Barat, yang terbit di At-Tasyrih: Jurnal Pendidikan dan Hukum Islam pada 2025, mengulas penerapan kedua metode tersebut di Pondok Pesantren Nurul Yaqin, Padang Pariaman, dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang, Agam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa yang dimaksud dengan sorogan dan bandongan? Bagaimana kedua metode tersebut membantu santri mendalami ilmu agama?
Apa Itu Metode Sorogan?
Sorogan merupakan metode pembelajaran kitab kuning yang menekankan keterlibatan santri secara individual. Dalam metode ini, santri membaca teks kitab secara langsung di hadapan guru. Guru kemudian menyimak, memeriksa, dan memberikan koreksi jika terdapat kesalahan dalam bacaan atau pemahaman.
Melalui sorogan, santri tidak hanya dituntut mampu melafalkan teks berbahasa Arab, tetapi juga memahami susunan kalimat dan makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini penting karena kitab kuning umumnya menggunakan bahasa Arab klasik yang dalam banyak kasus ditulis tanpa harakat atau dikenal sebagai Arab gundul.
Santri perlu memahami kaidah bahasa Arab, termasuk nahwu dan sharaf, agar dapat membaca teks secara tepat. Nahwu mempelajari susunan dan kedudukan kata dalam kalimat, sedangkan sharaf membahas perubahan bentuk kata.
Proses belajar secara langsung memungkinkan guru mengetahui sejauh mana pemahaman setiap santri. Jika ada bagian yang belum dikuasai, guru dapat memberikan penjelasan tambahan sesuai kebutuhan.
Metode sorogan juga melatih kemandirian dan tanggung jawab. Santri perlu mempersiapkan bacaan sebelum menghadap guru, mencermati penjelasan, serta memperbaiki kekeliruan yang ditemukan. Dengan demikian, sorogan menjadi ruang untuk menguji sekaligus memperdalam pemahaman terhadap kitab yang dipelajari.
Apa Itu Metode Bandongan?
Berbeda dari sorogan yang dilakukan secara individual, bandongan merupakan metode pembelajaran secara berkelompok. Dalam kegiatan ini, kiai atau guru membacakan teks kitab kuning, menerjemahkan, kemudian menjelaskan maknanya kepada para santri.
Santri menyimak penjelasan tersebut sambil mencatat arti kata atau keterangan penting pada kitab masing-masing. Kegiatan ini memungkinkan banyak santri mempelajari materi yang sama dalam satu waktu.
Dalam tradisi pesantren, bandongan juga berkaitan dengan sistem pengajian yang dikenal sebagai halaqah, yakni kegiatan belajar dalam kelompok yang mengelilingi guru. Metode ini membantu santri memperoleh gambaran umum mengenai isi kitab, memahami pokok pembahasan, serta mengikuti penjelasan guru tentang konteks dan argumentasi yang digunakan oleh penulis kitab.
Materi yang dipelajari dapat mencakup berbagai bidang ilmu keislaman, seperti fikih, tafsir, akidah, akhlak, dan bahasa Arab. Guru berperan penting dalam menjelaskan bagian-bagian yang sulit, termasuk istilah keagamaan dan susunan kalimat yang kompleks.
Dalam penelitian di Sumatera Barat tersebut, metode bandongan di Pondok Pesantren Nurul Yaqin dilaksanakan melalui pengajian klasikal. Guru membacakan dan menjelaskan kitab, sementara santri menyimak serta mencatat maknanya. Di MTI Canduang, bandongan juga digunakan sebagai pengantar untuk memahami materi sebelum santri mendalami bagian tertentu melalui kegiatan sorogan.
Mengapa Kedua Metode Ini Masih Relevan?
Sorogan dan bandongan tetap memiliki peran dalam pembelajaran kitab kuning karena keduanya menggabungkan penguasaan materi dengan bimbingan langsung dari guru. Santri tidak hanya berhadapan dengan teks, tetapi juga memperoleh penjelasan mengenai makna dan konteks pembahasannya.
Kitab kuning sering memuat istilah khusus, uraian hukum, serta perbedaan pendapat ulama. Karena itu, membaca teks saja belum tentu cukup untuk memahami keseluruhan isinya. Penjelasan guru melalui bandongan membantu santri mengenali pokok persoalan, sedangkan sorogan memberi kesempatan untuk menguji ketepatan bacaan dan pemahaman mereka.
Kombinasi keduanya juga mendukung pembentukan karakter. Santri belajar tekun mempersiapkan materi, teliti membaca, bersedia menerima koreksi, dan menghormati proses belajar. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari tradisi keilmuan pesantren.
Meski demikian, perkembangan zaman tetap menghadirkan tantangan. Perubahan kebiasaan belajar dan kemajuan teknologi mendorong pesantren untuk mencari cara agar pembelajaran kitab kuning tetap menarik dan sesuai dengan kebutuhan santri masa kini. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk melakukan penyesuaian. Sejumlah pendekatan, seperti diskusi ilmiah, evaluasi, dan pengembangan kurikulum, dapat digunakan untuk mendukung proses belajar.
Dengan demikian, sorogan dan bandongan bukan semata-mata metode lama yang dipertahankan karena kebiasaan. Keduanya dapat terus digunakan sebagai bagian dari pembelajaran yang menghubungkan ketelitian membaca, pemahaman isi kitab, dan pembentukan adab.
