KH Syukron Ma'mun tutup usia. Ulama dan mubalig kharismatik yang dijuluki Singa Podium itu mewariskan ilmu dan teladan dalam dakwah.
Kiprahnya dalam berdakwah telah dimulai sejak muda, melintasi berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara Asia Tenggara. Selain aktif berdakwah, ia juga mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jakarta sebagai wadah pendidikan agama.
Dirangkum dari laman SMP-SMA IT Daarul Rahman, KH Syukron Ma'mun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan tradisi keilmuan Islam. Kakek, ayah, dan keluarga besarnya merupakan kiai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayahnya bernama KH Ma'mun Nawawi dan ibunya bernama HJ Masturoh. Setelah menikah dengan HJ Afifah, KH Syukron Ma'mun dikaruniai empat orang anak yakni KH Ahmad Zaenal Ridlo, KH Muhammad Faiz, Ustazah Qonita Lutfiyah, dan Ustaz H. Umar Faruq.
Menempuh Pendidikan di Gontor
Pendidikan KH Syukron Ma'mun dimulai di Sekolah Rakyat (SR). Selain mengikuti pendidikan umum pada pagi hari, ia belajar di Madrasah Miftahul Ulum pada siang hari.
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat SMP, ia melanjutkan pendidikan agama di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Ia kemudian menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, selama kurang lebih enam tahun hingga menamatkan pendidikan di Kulliyatul Mu'allimin.
Sekitar 1966, KH Syukron melanjutkan pendidikan di Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Gontor, yang kemudian dikenal sebagai Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Ia tercatat sebagai salah satu lulusan awal program sarjana muda di lembaga tersebut dan memperoleh gelar B.A.
Perjalanan Dakwah hingga Dijuluki Singa Podium
Julukan Singa Podium melekat pada KH Syukron Ma'mun karena kepiawaiannya menyampaikan ceramah di hadapan masyarakat. Aktivitas dakwahnya bahkan telah dimulai ketika masih menjadi santri kelas V di Gontor.
Pada awal 1967, ia mulai berdakwah ke sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, dan Magetan. Perjalanan dakwah kala itu tidak selalu mudah. Menurut catatan perjalanan hidupnya, situasi sosial dan konflik antarkelompok pemuda di sejumlah daerah membuat aktivitas dakwah membutuhkan keberanian.
Pada tahun yang sama, KH Syukron berangkat ke Jakarta untuk memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama. Ia belajar kepada Habib Ali bin Husein di Bungur dan mengaji kitab Shahih Bukhari kepada Habib Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang.
Sekitar 1971, ia mulai mengajar di sejumlah perguruan tinggi dan aktif mengisi pengajian di masjid, majelis taklim, serta Islamic Center di wilayah DKI Jakarta. Seiring waktu, aktivitas dakwahnya semakin luas hingga menjangkau berbagai wilayah Nusantara, dari Sumatera, Kalimantan, dan Maluku hingga daerah-daerah lain di Indonesia.
Dakwahnya juga meluas ke luar negeri, termasuk Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Belajar Politik dan Organisasi dari KH Idham Chalid
Selain berdakwah, KH Syukron Ma'mun juga memiliki pengalaman dalam bidang organisasi. Ketika baru tiba di Jakarta pada 1967, ia tinggal bersama KH Idham Chalid, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah menjabat Ketua Umum PBNU dan menduduki sejumlah posisi penting dalam pemerintahan.
Selama tinggal bersama KH Idham Chalid hingga sekitar 1975, KH Syukron tidak hanya mengikuti pengajian, tetapi juga belajar mengenai politik dan organisasi.
Setelah itu, ia dipercaya menjadi direktur Pondok Pesantren Daarul Maarif. Seusai menjalankan tugas tersebut, ia merintis pendirian Pondok Pesantren Daarul Rahman sekitar 1975.
Mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman
Pondok Pesantren Daarul Rahman menjadi salah satu warisan penting dalam perjalanan dakwah KH Syukron Ma'mun. Pesantren yang berpusat di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu dikembangkan sebagai lembaga pendidikan Islam untuk membina generasi santri.
Pengelolaan pesantren tidak membuat KH Syukron meninggalkan aktivitas dakwahnya. Ia tetap aktif mengisi pengajian dan menyampaikan ceramah kepada masyarakat. Daarul Rahman juga berkembang dengan sejumlah cabang, di antaranya di Leuwiliang, Bogor, serta Sawangan, Parung.
