Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kementerian Agama (Kemenag) dalam mengawal dan membina sekitar 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren.
Hal tersebut disampaikan Menag saat mengunjungi Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (10/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Menag didampingi Direktur Jenderal Pesantren, Basnang Said.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Nasaruddin, keberadaan Ditjen Pesantren menjadi instrumen bagi negara untuk memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan pesantren di Indonesia.
"Kita sekarang memiliki sistem yang secara khusus memantau sekitar 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia. Kehadiran Ditjen ini adalah wujud pengabdian tulus agar negara hadir membersamai perjuangan pesantren," tegas Menag dilansir dari laman Kemenag, Minggu (11/10/2026).
Menag Dorong Model Pendidikan Mambaus Sholihin
Nasaruddin juga mengapresiasi sistem pendidikan Mambaus Sholihin yang memiliki jenjang lengkap, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi tingkat doktoral (S3).
"Saya sudah lama membaca direktori Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, mulai dari TK sampai perguruan tinggi S3, sejarahnya, dan kurikulumnya. Saya mendorong model tata kelola pendidikan dan pembinaan santri di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin ini agar dapat direplikasi dan menjadi prototipe bagi pesantren di seluruh Indonesia," ujarnya.
Dalam kesempatan ini juga Majduddin menjelaskan bahwa kurikulum Mambaus Sholihin memadukan tradisi keilmuan pesantren klasik, metode modern, dan pembinaan spiritual. Model tersebut dipengaruhi latar belakang pendidikan pengasuhnya, KH Masbuhin Faqih.
"Karakter Mambaus Sholihin merupakan perpaduan utuh. Beliau (KH. Masbuhin Faqih) mengenyam pendidikan di Gontor yang menitikberatkan pada penguasaan bahasa Arab dan Inggris secara aktif serta kedisiplinan. Kemudian beliau melanjutkan talaqqi ke Pondok Pesantren Langitan mendalami kitab kuning secara mendalam-mulai dari Alfiyah, Ushul Fiqh, Imrithi, hingga Nahwu dan Sharaf. Sisi spiritualitasnya diperkuat melalui baiat dan bimbingan langsung Romo KH Utsman Al-Ishaqi," ujarnya.
Apresiasi Positif dari Pondok Pesantren
Mewakili pengasuh sekaligus Rektor UNKAFA Gresik, Muhammad Majduddin mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap pesantren. Menurutnya, kunjungan Menag menjadi bukti pengakuan negara terhadap peran pesantren dalam sejarah pendidikan Indonesia.
"Sepertinya baru kali ini Menteri Agama berkunjung maraton langsung dari pesantren ke pesantren. Ini merupakan satu wujud nyata perhatian pemerintah terhadap pondok pesantren, yang diakui atau tidak, merupakan lembaga pendidikan tertua dan paling berjasa di negeri ini," ungkap Majduddin.
Ia juga menekankan pentingnya persatuan antara pemerintah atau umara dan ulama untuk menjaga ketenteraman masyarakat.
"Ittihadul ulama ma'a wulatil amri sababan raisan li raddil fasad-persatuan ulama bersama umara menjadi sebab pokok untuk menolak kerusakan, menangkal kegaduhan, serta menyebarkan ketenteraman (intisyarut thuma'ninah) di tengah masyarakat," kutip Majduddin.
Majduddin menjelaskan, Pondok Pesantren Mambaus Sholihin yang dirintis sejak 1981 kini memiliki 10 cabang resmi di seluruh Indonesia dengan total area mencapai 29 hektare.
