Mendekati bulan suci Ramadan, umat Islam di seluruh dunia selalu menyambutnya dengan penuh antusiasme. Salah satu ibadah khas yang paling dirindukan adalah pelaksanaan salat malam atau salat Tarawih.
Bagi masyarakat Indonesia, penentuan malam pertama Tarawih menjadi momen penting untuk mulai mengencangkan ibadah dengan melakukan amalan sunnah. Lantas, kapan perkiraan malam Tarawih pertama Ramadan 2027 dilaksanakan?
Perkiraan Jadwal Tarawih Pertama Ramadan 2027
Dalam penanggalan Islam (Hijriah), pergantian hari dimulai sejak terbenamnya matahari (waktu Magrib). Oleh karena itu, pelaksanaan salat Tarawih pertama selalu dilakukan pada malam hari sebelum puasa hari pertama (1 Ramadan) dimulai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan prediksi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), penetapan 1 Ramadan 1448 H jatuh pada hari Senin, 8 Februari 2027. Dengan begitu, puasa akan berlangsung selama 29 hari dan 1 Syawal 1448 H akan jatuh pada Selasa, 9 Maret 2027.
Berbeda dengan Muhammadiyah, pemerintah belum menetapkan awal Ramadan 1448 H secara resmi. Kementerian Agama RI akan menentukan 1 Ramadan melalui Sidang Isbat dengan mempertimbangkan hasil hisab dan pemantauan hilal.
Namun, berdasarkan kalender Hijriah dan perhitungan astronomi, Ramadan 1448 H diperkirakan jatuh pada Senin, 8 Februari 2027. Jika penetapan tersebut sesuai hasil Sidang Isbat, malam pertama salat tarawih diperkirakan berlangsung pada Minggu malam, 7 Februari 2027.
Penetapan awal bulan Ramadan yang menentukan malam Tarawih pertama didasarkan pada metode syar'i. Dalam kitab Syarah Bulughul Maram karya Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
"Berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah (tidak berpuasa) karena melihatnya. Jika bulan terhalang awan mendung, maka sempurnakanlah jumlah hari bulan Syaban menjadi tiga puluh hari." (HR. Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadits ini, ulama menetapkan dua metode utama dalam menentukan malam pertama Ramadan dan Tarawih, yaitu melalui rukyatul hilal (pengamatan visibilitas hilal secara langsung) dan hisab (perhitungan astronomis), atau dengan istikmal (menyempurnakan umur bulan Syaban menjadi 30 hari jika hilal tidak terlihat).
Ketentuan dan Keutamaan Salat Tarawih
Mengenai tata cara dan ketentuan salat Tarawih, Sayyid Sabiq dalam kitab Fikih Sunnah menjelaskan bahwa salat Tarawih hukumnya Sunnah, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Secara harfiah, kata Tarawih berasal dari bentuk jamak Tarwihatun yang berarti "istirahat". Hal ini dikarenakan para sahabat Rasulullah SAW dan generasi salaf biasa beristirahat sejenak di antara setiap dua kali salam (empat rakaat) karena panjangnya bacaan Al-Qur'an yang dibaca.
Adapun jumlah rakaat salat Tarawih menurut riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Nasai, Ibnu Majah, dan Abu Daud adalah sebelas rakaat. Ibnu Khuzaimah dalam bukunya Sahih Ibnu Khuzaimah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengerjakan salat Tarawih sebanyak delapan rakaat kemudian diteruskan dengan salat Witir. Namun, ada riwayat lain yang menyatakan pada masa Umar, Utsman, dan Ali mengerjakan salat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat.
Salat Tarawih dilaksanakan setelah salat Isya dan sebelum witir dengan setiap dua rakaat diakhiri salam, dapat dikerjakan secara berjemaah di masjid maupun sendiri (munfarid) di rumah, meski berjemaah di masjid memiliki keutamaan yang lebih besar. Sebagaimana Rasulullah SAW menganjurkannya tetapi tidak mewajibkannya.
Semangat melaksanakan malam pertama Tarawih tidak lepas dari besarnya keutamaan dan pahala yang dijanjikan. Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, dicantumkan hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang menunaikan salat pada malam bulan Ramadan (Tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosa kecilnya yang telah berlalu akan diampuni." (HR. Muttafaq 'alaih)
Keutamaan ini menjadi motivasi besar bagi setiap muslim untuk tidak melewatkan malam pertama Tarawih sebagai pijakan awal meraih keberkahan di bulan suci Ramadan 2027.
