Haedar Nashir Tegaskan Warga Muhammadiyah Boleh Berduka dan Mendoakan Jenazah

Haedar Nashir Tegaskan Warga Muhammadiyah Boleh Berduka dan Mendoakan Jenazah

Hanif Hawari - detikHikmah
Sabtu, 05 Sep 2026 12:00 WIB
Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Dok PP Muhammadiyah)
Jakarta -

Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menyoroti gaya beragama sebagian warganya yang dinilai terlalu rasional dan tekstual. Sikap tersebut kerap memicu pandangan di masyarakat bahwa warga Muhammadiyah terkesan "dingin" dan kurang memiliki rasa empati spiritual.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa pemahaman beragama di lingkungan Muhammadiyah idealnya tidak hanya mengandalkan akal sehat dan teks semata, tetapi juga harus melibatkan ketajaman mata hati dan kepekaan nurani (irfani).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Haedar menjelaskan, dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah sebenarnya terdapat tiga pendekatan utama yang saling melengkapi: bayani (tekstual/dalil), burhani (kontekstual/rasional), dan irfani (intuisi/kejernihan hati). Namun, dalam praktiknya, pendekatan irfani kerap dikesampingkan.

"Dalam praktik nyatanya, sering yang merasa jadi pimpinan, yang merasa jadi mubalig itu lupa. Ada yang hanya bayani saja lupa burhani-nya, ada yang burhani saja lupa bayani-nya. Dan sering kali, ada yang paham dua-duanya tapi justru lupa irfani-nya," ujar Haedar saat menghadiri Wisuda Thalabah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dikutip dari laman Muhammadiyah.

ADVERTISEMENT

Menurut Haedar, mengabaikan pendekatan irfani membuat aktivitas beragama kehilangan roh dan rasa kemanusiaannya. Dampaknya, muncul stereotip atau anggapan sinis dari luar yang menilai orang Muhammadiyah terlalu kaku, bahkan dianggap tidak mendoakan orang yang telah meninggal dunia.

Menanggapi hal tersebut, Haedar meluruskan bahwa mendoakan jenazah tetap merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan dalam Muhammadiyah, selama tata cara (kaifiyah) pelaksanaannya sesuai dengan panduan Manhaj Tarjih.

"Kita tidak perlu ikut-ikutan tradisi yang tidak sesuai, tetapi tetap tunaikan mendoakan orang meninggal sesuai Manhaj Tarjih. Doa itu sunnah dan ada tata caranya," tegasnya.

Haedar juga menepis anggapan keliru bahwa warga Muhammadiyah dilarang menunjukkan rasa sedih atau berduka ketika kehilangan orang tercinta. Menurutnya, perasaan duka merupakan cerminan dari jiwa irfani yang fitri pada setiap manusia, serta tidak sedikit pun mengikis keimanan maupun ketauhidan kepada Allah SWT.

Ia mengingatkan agar sesama warga tidak mudah memberi label negatif atau menghakimi mereka yang sedang tertimpa kesedihan.

"Nggak salah orang Muhammadiyah saat keluarga tercintanya meninggal itu berduka. Duka itu tidak menghilangkan jiwa tauhid kita. Jangan malah dihakimi: 'Halah, hidup kok cengeng!' Itu tidak benar," kata Haedar.

Lebih lanjut, Haedar meminta agar pendekatan irfani ini benar-benar dihidupkan kembali, terutama dalam menjalankan ajaran amar ma'ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Dakwah, kata dia, tidak cukup hanya disampaikan lewat dalil kaku (bayani) atau argumen logika ilmiah (burhani). Dakwah memerlukan kejernihan batin, kesantunan, dan kepekaan nurani agar pesan-pesan kebaikan dapat diterima dengan lembut oleh masyarakat luas.

Saksikan juga Blak-blakan: Diplomasi Budaya ala Fadli Zon



(hnh/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads