Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu ikon penting bagi masyarakat Aceh. Berdiri di jantung Kota Banda Aceh, masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menyimpan perjalanan panjang sejarah Aceh.
Kemegahan Masjid Raya Baiturrahman juga membuatnya menjadi salah satu destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi. Masjid megah yang memiliki kubah, menara, serta halaman luas dengan payung elektrik ini menjadi pemandangan khas yang mudah dikenali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal Berdirinya Masjid Raya Baiturrahman
Mengutip laman resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, sejarah awal Masjid Raya Baiturrahman memiliki beberapa versi. Salah satu riwayat menyebutkan masjid pertama dibangun pada 1292 M, pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmudsyah. Pada masa awal tersebut, bangunan masjid disebut menggunakan konstruksi kayu.
Riwayat lainnya mengaitkan pembangunan atau pendirian kembali Masjid Raya Baiturrahman dengan masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), ketika Kesultanan Aceh berada pada masa kejayaannya.
Pada masa tersebut, masjid menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh. Fungsinya bukan hanya sebagai tempat melaksanakan ibadah, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan agama serta kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.
Bangunan awal masjid memiliki karakter arsitektur Aceh. Bentuknya berupa bangunan persegi dengan atap bertingkat menyerupai piramida atau meru. Struktur tersebut mencerminkan karakter arsitektur masjid tradisional Aceh pada masa itu.
Bangunan masjid juga dikelilingi beberapa lapis benteng yang memperlihatkan bahwa kawasan tersebut memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat.
Masjid Dibakar dalam Perang Aceh
Perjalanan Masjid Raya Baiturrahman tidak dapat dipisahkan dari sejarah Perang Aceh dan kedatangan kolonial Belanda.
Pada 10 April 1873, pasukan Belanda menyerang Koetaradja, nama lama Banda Aceh. Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu lokasi penting dalam perlawanan masyarakat Aceh.
Dalam pertempuran tersebut, masyarakat menggunakan kawasan masjid sebagai salah satu titik pertahanan menghadapi pasukan kolonial.
Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler memimpin ekspedisi pertama Belanda ke Aceh. Dalam pertempuran, Kohler tewas di sekitar halaman Masjid Raya Baiturrahman.
Belanda kemudian melancarkan ekspedisi berikutnya di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten. Dalam serangan tersebut, kawasan masjid kembali menjadi bagian dari medan pertempuran dan bangunan Masjid Raya Baiturrahman akhirnya terbakar.
Dibangun Kembali oleh Pemerintah Kolonial
Setelah masjid terbakar, pemerintah kolonial Belanda menyadari besarnya arti Masjid Raya Baiturrahman bagi masyarakat Aceh.
Pembangunan kembali kemudian dilakukan pada 1879. Peletakan batu pertama disebut dilakukan oleh Tengku Malikul Adil.
Dalam proses pembangunan kembali tersebut, Belanda menghadirkan arsitektur yang berbeda dari bentuk masjid sebelumnya. Bangunan baru menggunakan gaya Indo-Saracenic atau Mughal, yang menghasilkan tampilan khas dengan kubah dan elemen arsitektur yang terinspirasi dari kawasan India dan Persia.
Pembangunan masjid baru tersebut rampung pada 27 Desember 1881 berdasarkan riwayat yang tercantum dalam bahan sejarah mengenai masjid ini.
Pada awalnya, sebagian masyarakat Aceh disebut menolak beribadah di masjid yang dibangun oleh pemerintah kolonial. Namun, seiring berjalannya waktu, Masjid Raya Baiturrahman kembali menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Masjid Raya Baiturrahman kemudian mengalami sejumlah perluasan. Perubahan tersebut membuat bentuk bangunan semakin megah sekaligus menyesuaikan dengan pertumbuhan jumlah jamaah.
Pada awal pembangunan kembali oleh Belanda, masjid memiliki satu kubah utama.
Kemudian, pada sekitar 1935-1936, dilakukan perluasan dengan menambahkan dua kubah di sisi kiri dan kanan. Dengan penambahan tersebut, jumlah kubah menjadi tiga.
Perkembangan berikutnya berlangsung pada masa setelah Indonesia merdeka. Pada 1957, Masjid Raya Baiturrahman kembali diperluas. Dua kubah tambahan dibangun sehingga jumlah kubah menjadi lima.
Perluasan tersebut dilakukan berdasarkan keputusan Menteri Agama Republik Indonesia tertanggal 31 Oktober 1957. Pekerjaan perluasan kemudian berlangsung hingga beberapa tahun berikutnya.
Pada perkembangan selanjutnya, jumlah kubah kembali bertambah menjadi tujuh kubah. Masjid juga memiliki beberapa menara.
Selamat dari Tsunami Aceh 2004
Salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah Masjid Raya Baiturrahman terjadi pada 26 Desember 2004.
Gempa bumi dahsyat yang kemudian disusul tsunami menghantam sebagian besar wilayah pesisir Aceh. Banda Aceh menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan sangat parah.
Di tengah kehancuran tersebut, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh.
Bangunan masjid mengalami dampak bencana, tetapi secara umum tetap berdiri gagah dibandingkan banyak bangunan lain di sekitarnya. Kawasan masjid juga menjadi tempat berlindung bagi warga yang berhasil menyelamatkan diri dari terjangan tsunami.
Pemandangan Masjid Raya Baiturrahman yang tetap berdiri ketika sebagian besar kawasan di sekitarnya porak-poranda kemudian menjadi salah satu simbol keteguhan masyarakat Aceh.
Masjid Raya Baiturrahman kemudian mengalami pembenahan setelah tsunami. Salah satu revitalisasi besar dilakukan pada periode 2015-2017.
Area halaman masjid ditata kembali dengan penggunaan lantai marmer. Selain itu, dipasang 12 payung elektrik berukuran besar.
Keberadaan payung tersebut membuat halaman masjid terlihat semakin megah. Desainnya juga mengingatkan pada payung elektrik yang terdapat di kawasan Masjid Nabawi di Madinah.
