Hujan Deras Ubah Gurun Madinah Jadi Aliran Air

Hujan Deras Ubah Gurun Madinah Jadi Aliran Air

Devi Setya - detikHikmah
Minggu, 30 Agu 2026 11:00 WIB
Ilustrasi hujan petir
Foto: Getty Images/iStockphoto/Angelo F-
Jakarta -

Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang mengguyur sejumlah wilayah Madinah, Arab Saudi. Cuaca mendung disertai hujan susulan membuat beberapa kawasan mengalami banjir, sementara hamparan gurun yang biasanya kering berubah menjadi aliran air.

Peringatan Cuaca di Sejumlah Wilayah Arab Saudi

Di tengah hujan yang mengguyur Madinah, Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi juga mengeluarkan prakiraan mengenai potensi cuaca buruk di sejumlah wilayah.

Pusat Meteorologi Nasional memperkirakan terjadinya badai petir yang disertai hujan es di sebagian wilayah Jazan, Asir, Baha, Makkah, dan Madinah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, awan badai berpotensi terbentuk di beberapa wilayah lainnya, seperti Hail, Jouf, Wilayah Perbatasan Utara, Provinsi Timur, dan Najran.

Kondisi angin juga menjadi perhatian. Angin yang membawa debu dan pasir diperkirakan terjadi di sejumlah kawasan. Bahkan, jarak pandang horizontal di beberapa wilayah Tabuk berpotensi turun hingga mendekati nol.

ADVERTISEMENT

Di kawasan Laut Merah, kecepatan angin permukaan diperkirakan berada pada kisaran 15-35 kilometer per jam. Kecepatannya dapat meningkat hingga lebih dari 50 kilometer per jam di wilayah yang terdampak awan badai, khususnya bagian tengah dan selatan.

Tinggi gelombang diperkirakan berkisar antara 0,5 hingga 1,5 meter. Namun, gelombang dapat meningkat hingga lebih dari 2 meter ketika badai petir terjadi.

Kondisi laut di wilayah yang terdampak badai juga diperkirakan cukup ganas.

Sementara itu, kondisi di kawasan Teluk Arab relatif lebih tenang. Kecepatan angin diperkirakan berkisar 10-30 kilometer per jam dengan tinggi gelombang antara 0,5 hingga 1 meter.

Fenomena tersebut turut menarik perhatian para penggemar aktivitas lintas alam. Salah satunya Jawaher Shaheen yang bersama suaminya menjelajahi sejumlah kawasan di sekitar Madinah menggunakan kendaraan off-road.

Dilansir dari Arab News, Minggu (30/8/2026), keduanya melakukan perjalanan ke beberapa lokasi di sekitar Madinah pada pekan ini. Jarak antarlokasi yang mereka datangi berkisar 15-20 kilometer. Perjalanan dilakukan ketika hujan mulai turun dengan intensitas yang semakin tinggi.


Kepada Arab News, Shaheen menceritakan pengalaman mereka saat menyaksikan perubahan lanskap gurun setelah diguyur hujan.

"Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Al-Qaa di Afrah Al-Raddadi sekitar pukul 16.00, saat hujan mulai turun dengan deras," ujarnya.

Setelah dari lokasi pertama, Shaheen dan suaminya melanjutkan perjalanan menuju Al-Furaish. Di kawasan tersebut, hujan turun lebih lebat hingga membuat air mulai mengalir di sejumlah area.

"Lokasi kedua adalah Al-Furaish, tempat hujan turun lebih lebat. Karena intensitasnya yang tinggi, air banjir mulai mengalir."

Perjalanan antara kedua lokasi tersebut membutuhkan waktu sekitar satu jam. Menurut Shaheen, hujan dengan intensitas paling tinggi terjadi di sekitar Malaf Aar di Al-Sadarah.

"Hujan di lokasi pertama dan kedua berlangsung antara 15 hingga 30 menit; hujan sempat sangat deras sebelum akhirnya mereda menjelang matahari terbenam," katanya.

Ia juga menyebut hujan terus terjadi selama tiga hari. Curah hujan paling tinggi tercatat pada Jumat.

Gurun Berubah Jadi Aliran Air

Bagi Shaheen, hujan di kawasan gurun Madinah memberikan pengalaman tersendiri. Ia memang memiliki pengalaman dalam perjalanan lintas alam atau overlanding di berbagai wilayah Arab Saudi.

Bersama suaminya, ia tertarik menjelajahi kawasan Madinah karena wilayah tersebut memiliki lanskap alam yang beragam, termasuk medan gurun yang luas.

Menurutnya, perubahan kondisi gurun setelah hujan menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Hamparan pasir dan bebatuan yang sebelumnya kering dapat berubah menjadi jalur aliran air dalam waktu singkat.

"Masih ada kemungkinan hujan lagi," ujarnya. "Kami sangat antusias menyambut musim ini dan menantikan saat lanskap berubah dari gurun menjadi aliran air, sebelum akhirnya menghijau dan tampak seperti surga tersembunyi."

Fenomena tersebut memperlihatkan karakter alam Arab Saudi yang tidak selalu identik dengan kondisi kering dan panas. Pada musim tertentu, hujan dapat turun dengan intensitas cukup tinggi dan menyebabkan air mengalir di kawasan gurun.

Kemunculan Bintang Suhail Jadi Penanda Pergantian Musim

Selain fenomena hujan, perubahan musim di Arab Saudi juga dikaitkan dengan kemunculan bintang Suhail. Majed Al-Sahoubi, pakar astronomi dan studi mengenai hubungan antara bintang, musim, dan cuaca, menjelaskan bahwa waktu kemunculan bintang tersebut berbeda-beda berdasarkan wilayah.

"Bintang ini muncul di Jazan, wilayah selatan Kerajaan, sekitar tanggal 7 Agustus; di wilayah tengah Arab Saudi sekitar tanggal 24 Agustus; dan di wilayah paling utara antara tanggal 7 hingga 10 September," ujarnya.

Menurut Al-Sahoubi, awal musim Suhail tidak dapat ditentukan berdasarkan satu tanggal yang berlaku untuk seluruh wilayah Arab Saudi.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Arab telah lama mengenal bintang Suhail dan mengaitkannya dengan perubahan kondisi cuaca. Namun, kemunculan bintang tersebut bukan penyebab terjadinya hujan.

"Bangsa Arab telah mengenal dan mengagumi Suhail sejak zaman dahulu, namun kemunculannya tidak memiliki kaitan langsung dengan curah hujan."

"Sebaliknya, kemunculannya dikaitkan dengan membaiknya kondisi cuaca. Hubungan ini bersifat sebagai penanda, bukan hubungan sebab-akibat. Suhail merupakan pertanda bahwa kondisi mulai membaik, namun bintang itu sendiri tidak memengaruhi atau mengubah cuaca."

Dengan kata lain, kemunculan Suhail lebih berfungsi sebagai indikator perubahan musim berdasarkan pengamatan tradisional masyarakat Arab, bukan sebagai faktor yang menyebabkan perubahan cuaca.

Hujan di Gurun Masih Belum Konsisten

Al-Sahoubi juga menjelaskan bahwa curah hujan pada periode ini masih memiliki pola yang tidak menentu. Kondisi tersebut terutama terjadi di kawasan tengah Arab Saudi dan wilayah gurun.

Berbeda dengan wilayah selatan, seperti Abha dan Al-Baha, yang cenderung memiliki curah hujan lebih konsisten pada periode tertentu.

"Di kawasan gurun, curah hujan pada masa ini biasanya tidak menentu, sedangkan periode hujan yang lebih konsisten baru akan dimulai sekitar tanggal 16 Oktober, insya Allah."

Kondisi tersebut membuat hujan yang turun di kawasan gurun menjadi fenomena yang menarik perhatian. Dalam waktu singkat, air dapat mengalir melewati permukaan gurun dan menciptakan pemandangan berbeda dari kondisi biasanya.



(dvs/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads