Sebelum Wali Songo, Sudah Ada Muslim di Tanah Jawa

Sebelum Wali Songo, Sudah Ada Muslim di Tanah Jawa

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Kamis, 27 Agu 2026 07:15 WIB
makam muslim tertua di Indonesia Fatimah binti Maimun
Pintu masuk makam muslim Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik. Foto: (Andik Setiawan/d'traveler)
Jakarta -

Selama ini, sejarah masuknya Islam di Tanah Jawa kerap dikaitkan dengan jasa para Wali Songo pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Sembilan tokoh ulama tersebut memang berjasa besar atas penyebaran Islam di Tanah Jawa. Namun, apabila ditilik dari kacamata arkeologi dan historiografi Islam di Nusantara, keberadaan umat Islam di Tanah Jawa telah ada jauh sebelum era dakwah para Wali Songo.

Sejumlah temuan sejarah berupa batu nisan bertuliskan huruf kufi dan catatan perjalanan seorang petualang China Muslim menjadi bukti bahwa kelompok muslim telah terbentuk mulai dari abad ke-11, abad ke-14, hingga awal abad ke-15 Masehi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jejak Muslim Telah Ada Sebelum Wali Songo

Makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik (Abad ke-11 M)

Bukti tertua mengenai eksistensi Muslim di Tanah Jawa tertoreh pada penemuan sebuah nisan kuno di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Mengutip dari buku Sejarah Islam di Jawa: Menelusuri Genealogi Islam di Jawa oleh Kamil Hamid Baidawi, J.P. Moquette berpendapat Islam telah hadir di Jawa setidaknya sejak tahun 1082 M yang didasarkan pada pembacaan inskripsi batu nisan. Keseluruhan karakter huruf di batu nisan tersebut adalah huruf kufi yang mencantumkan nama Fatimah binti Maimun dan tarikh wafat tahun 475 H atau bertepatan dengan 1082 Masehi.

ADVERTISEMENT

Sejarawan dan ahli purbakala Indonesia, Uka Tjandrasasmita dalam bukunya yang berjudul Arkeologi Islam Nusantara, menyimpulkan makam tersebut menjadi bukti yang menjelaskan bahwa pergerakan saudagar muslim yang melintasi Selat Malaka dan Semenanjung Malaya menuju Tiongkok menciptakan simpul kontak langsung dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa.

Makam Muslim Pribumi di Kompleks Trowulan dan Tralaya, Majapahit (Abad ke-14 M)

Mengutip analisis L-Ch. Damais dan sejumlah peneliti, Islam telah dikenal sekaligus dianut oleh masyarakat Jawa sekitar pertengahan abad ke-14 Masehi. Argumen ini berdasar pada penemuan kompleks pemakaman kuno yang terdapat nisan berukiran ayat suci Al-Qur'an di Trowulan dan Tralaya (Mojokerto), kawasan yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan Majapahit.

Pada nisan-nisan kuno di Trowulan dan Tralaya, para peneliti menyimpulkan bahwa nisan di Trowulan memuat angka Tahun Saka 1920 yang bertepatan dengan 1368 M, sedangkan nisan Tralaya memuat angka Tahun Saka 1298 atau bertepatan dengan 1376 M.

Para peneliti menyimpulkan penemuan ini menjadi bukti bahwa jasad yang dimakamkan adalah seorang muslim dari penduduk lokal atau Jawa pribumi, bukan warga pendatang. Sebab, apabila yang meninggal merupakan pendatang, khususnya warga Arab, kemungkinan tahun yang digunakan adalah tahun Hijriah, bukan tahun Saka.

Komunitas Muslim di Pesisir Gresik dalam Catatan Ma Huan (Abad ke-15 M)

Memasuki abad ke-15 Masehi, gambaran sosiologis keberadaan umat Islam di Tanah Jawa semakin terbaca melalui catatan seorang petualang, Ma Huan. Ia merupakan seorang petualang, juru bahasa, dan penulis muslim asal China yang ikut dalam ekspedisi maritim Laksamana Cheng Ho.

Dikemukakan oleh B.J.O Schrieke, Ma Huan pernah mengunjungi daerah pesisir Jawa dan menuliskan catatannya dalam sebuah buku berjudul Peninjauan tentang Pantai-pantai Samudra (Ying-yai Sheng-lan) yang diperkirakan ditulis pada 1451. Dalam buku tersebut, ia mencatat di suatu daerah pesisir di Gresik sudah terdapat komunitas masyarakat muslim. Menurut catatan itu, kelompok muslim yang hidup di daerah pesisir Gresik berasal dari Arab, Persia, Gujarat atau India, dan termasuk juga orang-orang China yang sebagian sudah menganut Islam.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads