Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momen peringatan kelahiran Rasulullah SAW yang dirayakan umat Islam setiap tanggal 12 Rabiulawal, bulan ketiga dalam kalender Hijriah.
Maulid Nabi Muhammad SAW biasanya dirayakan dengan berbagai acara keagamaan, seperti membaca sholawat, pengajian, bersedekah, dan ibadah lain yang bernilai positif. Perayaan ini dilakukan dengan tujuan mengekspresikan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan mengenang jasa beliau dalam berdakwah menyebarkan ajaran Islam.
Pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW
Secara bahasa, kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Sementara Nabi dalam Maulid Nabi merujuk pada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Maulid Nabi merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Islam, Maulid Nabi menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa gembira dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
Disebutkan dalam buku Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Dadan Kurniawan, catatan sejarah mengenai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan secara resmi oleh otoritas negara antara lain merujuk pada masa Daulah Fatimiyah di Mesir.
Pada masa Dinasti Fatimiyah, peringatan Maulid Nabi menjadi bagian dari perayaan hari besar keagamaan yang mencakup peringatan kelahiran Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, serta Hasan dan Husain.
Pada masa ini, peringatan dilakukan oleh kalangan istana dengan pembagian sedekah dalam jumlah besar, pembagian manisan, dan pidato-pidato keagamaan yang bertujuan untuk memperkuat legitimasi politik dinasti sebagai keturunan langsung dari garis nasab Nabi Muhammad SAW melalui jalur Sayyidah Fatimah.
Dalam perkembangannya, perayaan Maulid Nabi juga dikenal pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Pada masa tersebut, peringatan Maulid diselenggarakan dalam bentuk kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat.
Dalil Maulid Nabi Muhammad SAW
Menurut buku Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi karya Syekh Muhammad Hisyam Kabbani yang diterjemahkan oleh A. Syamsu Rizal, berikut adalah dalil-dalil yang digunakan sebagai landasan dalam pembahasan mengenai Maulid Nabi Muhammad SAW:
Salah satu ayat yang menjadi landasan anjuran bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah Surah Al-Ahzab ayat 56.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
Melansir dari tafsir Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT memberi rahmat kepada Nabi Muhammad SAW dan para malaikat memohonkan ampunan untuknya. Oleh karena itu, Allah SWT menganjurkan kepada seluruh umat Islam untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW dan mengucapkan salam dengan penuh penghormatan.
Selanjutnya, dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu Qatadah menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin. Rasulullah SAW kemudian bersabda:
"Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkannya wahyu kepadaku." (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW memiliki makna penting dalam kehidupan beliau, yang ditunjukkan melalui amalan puasa pada hari Senin.

Komentar Terbanyak
Mengapa Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam?
Ramai Isu Larangan Hijab di Unhan, Ini Klarifikasi Kemhan
Makna Gunung Meletus dalam Islam, Benarkah Tanda Murka Allah?