Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap Sosok Pencetusnya

Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap Sosok Pencetusnya

Hanif Hawari - detikHikmah
Kamis, 20 Agu 2026 11:00 WIB
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW: Tradisi dan Maknanya
Foto: Getty Images/iStockphoto/Baramyou0708
Jakarta -

Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah menurut riwayat yang banyak diyakini. Setiap tahunnya, tanggal tersebut diperingati oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia sebagai Hari Maulid Nabi. Namun, bagaimana sebenarnya rekam jejak sejarah peringatan Maulid Nabi dari masa ke masa, serta bagaimana para ulama memandangnya?

Peringatan Maulid Nabi bukanlah tradisi yang muncul secara tiba-tiba. Berdasarkan literatur sejarah Islam, perayaan ini telah melintasi perjalanan kurun waktu ribuan tahun. Mengutip tulisan AM Waskito dalam karyanya 'Pro dan Kontra Maulid Nabi', terdapat tiga teori utama yang menjelaskan asal-usul mulanya peringatan kelahiran Sang Nabi:

1. Dinasti Ubaid (Fatimiyyah) di Mesir

Teori pertama menyebut peringatan Maulid Nabi dipelopori oleh kalangan Dinasti Ubaid (Fatimiyyah) yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidhah) saat menguasai Mesir pada 362-567 Hijriah. Dalam catatan sejarah, peringatan ini digelar sebagai salah satu dari serangkaian perayaan negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain Maulid Nabi, dinasti ini juga merayakan Hari Asyura, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Fatimah az-Zahra, Maulid Hasan, Maulid Husain, hingga maulid khalifah yang sedang berkuasa.

2. Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri (Ahlus Sunnah)

Teori kedua menyatakan peringatan Maulid Nabi berakar dari tradisi kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang diprakarsai oleh Gubernur Irbil di wilayah Irak, Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri.

ADVERTISEMENT

Dalam pelaksanaannya, Sultan Muzhaffar menggelar peringatan megah dengan mengundang para ulama, ahli tasawuf, cendekiawan, serta seluruh lapisan masyarakat. Momentum ini diisi dengan penyajian hidangan, pembagian hadiah, dan penyaluran sedekah secara masif kepada fakir miskin.

3. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi / Muhammad Al-Fatih

Teori ketiga mengemukakan perayaan Maulid Nabi dicetuskan oleh panglima perang legendaris Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (atau dalam beberapa riwayat dihubungkan dengan Sultan Muhammad Al-Fatih). Tujuan utamanya saat itu bersifat taktis dan spiritual, yakni membakar kembali semangat jihad umat Islam dalam menghadapi Perang Salib guna merebut kembali Yerusalem.

Perkembangan Tradisi Maulid di Nusantara

Di Indonesia, tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki akar sejarah yang kuat sejak zaman dakwah Wali Songo sekitar tahun 1404 Masehi. Para ulama penyebar Islam di Tanah Jawa memanfaatkan momentum ini sebagai sarana kultural untuk merangkul hati masyarakat lokal agar mengenal dan memeluk agama Islam secara damai.

Pendekatan persuasif ini melahirkan istilah Perayaan Syahadatin (atau Sekaten). Selain itu, tradisi ini juga dikenal luas dengan sebutan Gerebeg Maulud, di mana masyarakat mengekspresikan rasa syukur dan penghormatan kepada Nabi melalui prosesi adat berupa pengarakan tumpeng nasi gunungan.

Landasan dan hikmah di balik peringatan Maulid Nabi dijelaskan oleh H. Abdul Somad dalam bukunya '37 Masalah Populer: Untuk Ukhuwah Islamiyah'. Menurutnya, hakikat peringatan Maulid adalah sarana edukasi spiritual untuk menyegarkan kembali ingatan umat manusia akan risalah dan sirah nabawiyah (sejarah kehidupan Rasulullah SAW). Dengan memahami perjalanan hidup beliau, umat Islam ditegaskan kembali bahwa satu-satunya suri tauladan utama dalam hidup adalah Rasulullah SAW.

Adapun dalil yang menjadi pijakan keutamaan memuliakan Rasulullah SAW tertuang dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 157:

اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang beruntung."

Selain ayat Al-Qur'an, landasan ibadah terkait hari kelahiran Nabi juga merujuk pada hadits shahih. Sebagaimana dikutip Syekh Muhammad Hisyam Kabbani dalam karya Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi, Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai alasannya berpuasa pada hari Senin. Beliau bersabda:

"Itu adalah hari di mana aku dilahirkan." (HR Muslim dari Abu Qatadah RA)

Hadits ini dipandang sebagian ulama sebagai acuan pentingnya memperingati hari kelahiran Nabi SAW melalui bentuk peribadatan dan rasa syukur.

Pandangan Lain Perayaan Maulid Nabi

Di sisi lain, terdapat sudut pandang kritis dari sebagian ulama mengenai historisitas peringatan ini. Berdasarkan analisis Dr. K.H. Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. dalam karyanya yang berjudul 'Sejarah Kelam Maulid Nabi', penelusuran terhadap kitab-kitab tarikh (sejarah Islam) menunjukkan bahwa perayaan Maulid tidak ditemukan pada era awal Islam.

Praktik ini tidak pernah dilakukan oleh generasi sahabat Nabi, tabi'in, tabi'ut tabi'in, hingga empat imam mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal). Padahal, mereka adalah generasi terbaik yang paling mencintai, mengagungkan, serta memahamkan ajaran sunnah Rasulullah SAW.

Menurut pakar sejarah Al-Maqriziy dalam Al-Mawa'izh wal I'tibar, Dinasti Fatimiyyah (Ubaidiyyun) mengadakan hingga 25 jenis perayaan sepanjang tahun. Mufti Mesir Asy-Syaikh Bakhit Al-Muti'iy dalam Ahsanul Kalam menegaskan bahwa pelopor enam perayaan maulid pertama kali adalah Khalifah Al-Mu'izh Lidinillah dari Dinasti Fatimiyyah pada 362 H.

Para ulama klasik seperti Al-Qadhi Al-Baqillani, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, dan Al-Qadhi Abu Ya'la menilai perayaan-perayaan tersebut awalnya digunakan sebagai sarana politik untuk menarik massa ke dalam paham Batiniyyah/Rafidhah.

Dalam perspektif kelompok ulama yang mengkritisi peringatan Maulid, merayakan ritual yang tidak memiliki landasan dari generasi Salafush Shalih dikhawatirkan menyerupai tradisi kelompok yang menyimpang dari ajaran murni Al-Qur'an dan As-Sunnah. Hal ini merujuk pada hadits shahih riwayat Ahmad dan Abu Dawud:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya: "Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka." (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Wallahu a'lam.



(hnh/hnh)
Maulid Nabi

Maulid Nabi

135 konten
Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi satu hari besar Islam yang jatuh pada September 2024. Peristiwa penting dalam sejarah Islam ini dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads