Menag Nasaruddin Umar Gagas Masjid sebagai Pusat Pelayanan Umat

Menag Nasaruddin Umar Gagas Masjid sebagai Pusat Pelayanan Umat

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Senin, 10 Agu 2026 12:12 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar (dok. Kemenag)
Menteri Agama Nasaruddin Umar. Foto: dok. Kemenag
Jakarta -

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan masjid di Indonesia. Menurutnya, masjid pada masa kini perlu dikembangkan sebagai pusat pelayanan publik yang inklusif, ramah lingkungan, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan dalam acara Doa Keselamatan Bangsa, Zikir Kebangsaan, dan Haul Pendiri NKRI dalam rangka memperingati HUT ke-81 RI di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Menag menjelaskan, pengelolaan masjid modern perlu meninggalkan pola yang hanya menitikberatkan pada keindahan bangunan dan pengumpulan sumbangan. Masjid perlu memiliki fungsi sosial yang lebih luas sehingga keberadaannya dapat dirasakan langsung oleh umat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masjid Istiqlal, menurut Menag, dapat menjadi contoh pengelolaan rumah ibadah dengan fungsi yang luas. Selain dikenal sebagai masjid yang ramah lingkungan atau green mosque, Istiqlal juga menyediakan berbagai layanan pendidikan dan fasilitas publik secara gratis.

"Mari kita jadikan model-model pengelolaan masjid modern, misalnya seperti Masjid Istiqlal, sebagai contoh yang bisa ditiru oleh 800 ribu masjid di Indonesia. Insyaallah, bukan lagi kita (umat) yang memberdayakan masjid, tapi masjid yang memberdayakan umat," tegas Menag, dilansir dari laman Kemenag, Senin (10/8/2026).

ADVERTISEMENT

Menag mengatakan, masjid perlu menjadi ruang yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Masjid modern dituntut hadir menyelesaikan persoalan dasar umat melalui penyediaan program bantuan, layanan konsultasi keluarga dan hukum, hingga fasilitas pendidikan.

"Dari kita untuk kita. Siapapun yang punya kelebihan, berikanlah manfaatnya untuk dinikmati umat melalui masjid. Inilah esensi fungsi sosial rumah ibadah yang sebenarnya," jelasnya.

Lebih lanjut, Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan dalam pengelolaan rumah ibadah. Masjid Istiqlal telah menerapkan penggunaan energi surya dan mendaur ulang air wudu sebagai bagian dari upaya efisiensi energi.

"Pengelolaan rumah ibadah ke depan harus memiliki kepedulian ekologis. Misalnya, di Masjid Istiqlal sudah menggunakan solar system dan pemanfaatan daur ulang air wudhu dalam upaya efisiensi energinya," ucap Menag.

Di bidang pendidikan, Masjid Istiqlal menyediakan kursus bahasa asing secara gratis. Fasilitas lain berupa perpustakaan gratis juga tersedia.

"Ada kursus bahasa asing gratis, seperti bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Persia, Hebrew, Aramaik, hingga bahasa Indonesia untuk foreigner, semuanya gratis. Perpustakaan gratis juga lengkap, jurnal-jurnal paling baru bisa dibuka tanpa bayar, dan kita menyiapkan fasilitas untuk memberikan informasi beasiswa," ujar Menag.

Dengan berbagai layanan tersebut, Menag berharap pengelolaan Masjid Istiqlal dapat menjadi contoh bagi masjid-masjid lain di Indonesia.



(inf/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads