Mengenal Bahtsul Masail dan Perannya dalam Pengambilan Keputusan NU

Mengenal Bahtsul Masail dan Perannya dalam Pengambilan Keputusan NU

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 26 Jul 2026 11:00 WIB
Nahdlatul Ulama tahun 2023 menginjak usia 1 abad.
Foto: NU Online Jawa Timur
Jakarta -

Nahdlatul Ulama (NU) memiliki forum khusus yang menjadi rujukan dalam menjawab berbagai persoalan keagamaan yang terus berkembang di tengah masyarakat. Forum tersebut dikenal sebagai Bahtsul Masail, sebuah tradisi intelektual yang telah hidup sejak sebelum NU berdiri dan hingga kini menjadi salah satu instrumen penting dalam proses pengambilan keputusan hukum di lingkungan organisasi.

Melalui forum ini, para ulama, kiai, akademisi, hingga pakar dari berbagai bidang duduk bersama untuk mengkaji persoalan keislaman, mulai dari masalah fikih hingga isu-isu kontemporer yang muncul seiring perkembangan zaman.

Apa Itu Bahtsul Masail?

Mengutip jurnal berjudul Istinbat Hukum oleh Lajnah Bahtsul Masa'il Nahdlatul Ulama (LBM-NU) dan Pengaruhnya Terhadap Hukum Islam di Indonesia oleh Muhammad Awwaludin, Bahtsul Masail merupakan forum musyawarah ilmiah yang bertugas merumuskan jawaban atas persoalan-persoalan keagamaan berdasarkan Al-Qur'an, hadis, kitab-kitab fikih klasik (kitab kuning), serta metode istinbath hukum yang diakui di kalangan ulama NU.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Forum ini berada di bawah koordinasi Syuriyah NU dan diikuti para ulama, pengasuh pesantren, serta kalangan intelektual Nahdliyin. Tidak hanya membahas persoalan fikih, Bahtsul Masail juga mengkaji persoalan akidah, tasawuf, hingga berbagai persoalan sosial yang membutuhkan pandangan hukum Islam.

Tradisi Bahtsul Masail sejatinya telah berkembang di lingkungan pesantren jauh sebelum Nahdlatul Ulama berdiri pada 1926. Setelah NU resmi berdiri, tradisi tersebut diadopsi menjadi bagian dari kegiatan organisasi.

ADVERTISEMENT

Bahtsul Masail pertama kali digelar secara resmi dalam Muktamar I NU pada 21-23 September 1926. Saat itu forum ini masih menjadi salah satu komisi dalam muktamar dan belum berdiri sebagai lembaga tersendiri.

Baru pada Muktamar NU ke-27 di Yogyakarta pada 1989 muncul rekomendasi pembentukan Lajnah Bahtsul Masail Diniyyah sebagai lembaga permanen yang secara khusus menangani persoalan-persoalan keagamaan. Rekomendasi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui Surat Keputusan PBNU Nomor 30/A.I.05/5/1990 sehingga Lajnah Bahtsul Masail resmi terbentuk.

Persoalan Apa Saja yang Dibahas Bahtsul Masail?

Bahtsul Masail tidak hanya membahas hukum ibadah. Berdasarkan keterangan KH Ahmad Asyhar Shofwan yang dikutip dalam penelitian tersebut, pembahasan Bahtsul Masail dibagi ke dalam tiga kategori.

Pertama, waqi'iyah, yakni persoalan nyata yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Kedua, maudhu'iyah, yaitu pembahasan tematik yang dikaji secara menyeluruh dari berbagai aspek. Ketiga, qanuniyah, yakni persoalan yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan yang dipandang perlu ditinjau dari perspektif hukum Islam.

Penelitian juga mencatat bahwa persoalan yang dibahas umumnya merupakan isu-isu kontemporer yang berkembang di masyarakat sehingga membutuhkan jawaban hukum yang relevan dengan kondisi zaman.

Bagaimana Mekanisme Pengambilan Keputusan?

Pelaksanaan Bahtsul Masail berlangsung melalui forum musyawarah atau rapat yang dipimpin seorang moderator. Sidang diawali dengan pembacaan deskripsi persoalan yang akan dibahas.

Apabila persoalan membutuhkan penjelasan teknis, panitia menghadirkan narasumber yang ahli pada bidang terkait, misalnya dokter untuk persoalan kesehatan atau pakar ekonomi untuk isu keuangan syariah. Setelah itu para peserta menyampaikan argumentasi berdasarkan Al-Qur'an, hadis, serta referensi kitab-kitab fikih klasik.

Diskusi berlangsung secara terbuka hingga seluruh argumentasi dikaji. Setelah dianggap cukup, musahhih atau tim pengarah memberikan penjelasan akhir sebelum kesimpulan dibacakan sebagai keputusan Bahtsul Masail. Seluruh proses diarahkan untuk mencari kemaslahatan bagi umat.

Mengapa Bahtsul Masail Penting?

Penelitian menyebutkan Bahtsul Masail memiliki peran besar karena persoalan kehidupan masyarakat terus berkembang, sementara sumber hukum Islam yang utama tetap sama. Karena itu, diperlukan ijtihad kolektif agar berbagai persoalan baru dapat memperoleh jawaban hukum yang sesuai dengan prinsip syariat.

Meski keputusan Bahtsul Masail tidak bersifat mengikat secara hukum negara, hasil forum ini memiliki pengaruh besar di kalangan warga NU. Keputusan tersebut menjadi pedoman bagi banyak Nahdliyin karena kuatnya hubungan keilmuan dan kepercayaan kepada para ulama.

Selain itu, keputusan Bahtsul Masail juga dinilai turut memperkaya khazanah pemikiran hukum Islam di Indonesia bersama fatwa MUI maupun keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Dalam proses pengambilan keputusan, Bahtsul Masail menempatkan kemaslahatan sebagai tujuan utama. Setiap keputusan diupayakan tidak hanya sesuai dengan dalil syariat, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang beragam.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa keputusan yang dihasilkan diharapkan mampu menghadirkan manfaat, menghindarkan mudarat, mudah diterapkan, serta tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.



(hnh/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads