Gandeng Pengasuh Pesantren, PBNU Susun Modul Kesehatan Reproduksi Santri

Gandeng Pengasuh Pesantren, PBNU Susun Modul Kesehatan Reproduksi Santri

Hanif Hawari - detikHikmah
Selasa, 21 Jul 2026 20:45 WIB
Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri yang digelar di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026).
Acara Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026). Foto: Dok. GKMNU
Jakarta -

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan membuat modul pendidikan kesehatan reproduksi bagi santri. Tujuannya untuk memberikan mereka pemahaman untuk membentengi diri di era digital.

Melalui Gerakan Maslahat Keluarga Nahdlatul Ulama (GKMNU), PBNU akan menggandeng pengasuh pesantren untuk menyusun modul tersebut. Mulai dari Pengasuh Ponpes di Jawa Barat hingga Jawa Tengah.

Penyusunan modul tersebut dirumuskan dalam acara Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri yang digelar di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Alissa Qatrunnada Wahid, mengungkapkan alasan utama merangkul para pengasuh pesantren. Menurutnya, para Gus dan Ning (sebutan pengasuh muda) merupakan sosok kunci yang paling paham mengenai kultur serta karakter para santri.

"Kalau kita mau membuat pendidikan kesehatan reproduksi untuk santri, mau tidak mau kita harus mulai dengan para pengasuh. Mereka yang punya wewenang terbesar untuk mendidik dan mengasuh para santri," tegas Alissa dalam keterangan persnya.

ADVERTISEMENT

Alissa menambahkan, setelah menghimpun masukan dari para pengasuh, PBNU juga akan bertandang ke para kiai dan nyai sepuh untuk meminta restu dan meluruskan persepsi mengenai materi ini.

"Kita juga akan sowan ke kiai-kiai, terutama kiai-kiai dan nyai-nyai sepuh untuk mendapatkan restu, mendapatkan dukungan dari beliau-beliau, dan juga menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi itu tidak seperti stigma yang selama ini ada," terangnya.

Modul yang tengah digodok ini dirancang secara menyeluruh. Pendidikan kesehatan reproduksi untuk santri nantinya tidak sekadar membahas hal-hal biologis, melainkan melatih kecakapan hidup (life skills) para santri agar tidak rentan terpengaruh lingkungan.

Beberapa poin materi utama dalam modul ini meliputi:

  • Pencegahan Masalah Kesehatan: Menghindari madharat kesehatan fisik pada remaja, seperti anemia.
  • Pengambilan Keputusan: Mengembangkan keterampilan mengambil keputusan agar santri teguh dan tidak mudah terpengaruh oleh tren media sosial maupun tekanan kawan sebaya.
  • Perkembangan Remaja Utuh: Mengedukasi perubahan biologis, psikologis, hingga pola membangun relasi yang sehat dan saling menghormati.

Penyusun Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri, Kiai Faqih Abdul Kadir, menambahkan bahwa materi ini tidak boleh dipersempit hanya sebatas pencegahan kekerasan seksual semata.

"Dari visi itu kemudian diterjemahkan dalam bentuk yang lebih operasional, seperti kurikulum, peraturan pesantren, ceramah, maupun materi pembelajaran yang membantu santri mengenali dirinya, menjaga kesehatan, memahami perkembangan psikologisnya, serta menghormati orang lain," kata Kiai Faqih.

Diharapkan Masuk Kurikulum Pesantren

Dengan besarnya pengaruh pengasuh pesantren terhadap sistem pengajaran hingga alumni, PBNU berharap kesadaran akan pentingnya kesehatan reproduksi ini dapat langsung masuk ke dalam kurikulum resmi pesantren.

Langkah GKMNU ini pun mendapat respons hangat dari Pimpinan Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Muhammad bin Ja'far (Kang Muhammad BJ). Ia menegaskan pentingnya dunia pesantren untuk terus terbuka terhadap inovasi tanpa kehilangan jati dirinya.

"Ini acara yang sangat bagus dan sangat positif untuk memberikan pencerahan kepada para pengambil kebijakan di pesantren. Pesantren perlu terus melakukan inovasi-inovasi tanpa menghilangkan karakteristik atau manhaj yang asasi bagi pesantren tersebut," tandas Kang Muhammad.

Rangkaian halaqah ini menjadi tahap awal dari komitmen PBNU yang nantinya akan ditindaklanjuti dengan penerbitan modul nasional dan penerapan langsung di berbagai pondok pesantren di Indonesia.



(hnh/erd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads