Masjid Nabawi merupakan masjid paling istimewa bagi umat Islam. Setiap tahun, jutaan orang datang ke Madinah untuk beribadah di masjid ini.
Dalam buku Ensiklopedia Hadits Ibadah Shalat Sunnah dan Perkara Lain Mengenai Shalat susunan Syamsul Rijal Hamid, keistimewaan tersebut juga disebutkan dalam hadits. Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
"Salat di masjidku ini (Masjid Madinah) lebih baik dibandingkan dengan seribu salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal Pembangunan Masjid Nabawi
Masjid Nabawi dibangun oleh Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiulawal, setelah hijrah ke Madinah. Ukurannya pada masa awal sekitar 70 x 60 hasta, atau setara kurang lebih 35 x 30 meter.
Berdasarkan buku Sejarah Peradaban Islam karya Dr. Solihah Titin Sumanti, M.Ag., lahan yang digunakan sebelumnya memiliki beberapa bangunan milik Bani Najjar. Mereka menyerahkan tanah tersebut untuk pembangunan masjid. Area itu juga berisi kuburan orang musyrik, puing bangunan, serta pohon kurma. Rasulullah memerintahkan agar semua dibersihkan sebelum pembangunan dimulai.
Arsitektur Sederhana
Masjid Nabawi pada masa Rasulullah memiliki tampilan yang sederhana. Lantainya masih berupa tanah dan batu, bahkan pada awalnya belum memiliki lantai permanen.
Masih merujuk pada buku Sejarah Peradaban Islam karya Dr. Solihah Titin Sumanti, fondasi masjid dibuat dari batu keras. Dindingnya menggunakan batu bata tanah liat, sementara tiang penyangga berasal dari batang pohon kurma. Atapnya tersusun dari pelepah dan daun kurma.
Tinggi bangunan sekitar 2,5 meter. Setelah mengalami perluasan, tingginya mencapai sekitar 3 meter.
Baca juga: Kenapa Kubah Masjid Nabawi Berwarna Hijau? |
Pada masa awal, belum ada mimbar. Rasulullah menyampaikan khutbah di tempat yang sedikit lebih tinggi dari tanah. Para sahabat kemudian membuatkan mimbar dari batang kurma agar dapat digunakan sebagai sandaran.
Masjid Nabawi menjadi pusat berbagai aktivitas umat Islam pada masa Rasulullah. Selain digunakan untuk salat berjemaah, tempat ini juga dimanfaatkan untuk musyawarah dan urusan pemerintahan.
Pintu-Pintu Masjid Nabawi Zaman Dulu
Masjid Nabawi pada awalnya memiliki tiga pintu utama.
- Pertama, Bab Utsman atau Babun Nabi yang sering dilalui Rasulullah, kini dikenal sebagai Bab Jibril.
- Kedua, Bab Atikah di sisi barat yang sekarang disebut Babur Rahmah.
- Ketiga, Bab Umar di sisi selatan.
Saat arah kiblat dialihkan dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, pintu Bab Umar ditutup. Setelah itu dibuat pintu baru yang mengarah ke utara.
Seiring bertambahnya jumlah jemaah, Masjid Nabawi diperluas pada tahun ke-7 Hijriah atau sekitar 628 Masehi. Ukurannya kemudian menjadi sekitar 100 x 100 hasta, atau kurang lebih 45 x 45 meter.
Perluasan ini dilakukan untuk menampung jumlah jemaah yang semakin bertambah.
(inf/lus)












































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
Kenapa Air Zamzam Tak Pernah Habis Meski Diambil Jutaan Jemaah?