Bagi umat Islam, kumandang azan adalah suara yang paling akrab di telinga. Ia berfungsi sebagai pengingat lima waktu salat wajib sekaligus panggilan utama untuk menunaikannya secara berjamaah di masjid.
Di dalam lafal azan, terkandung makna akidah yang sangat mendalam-mulai dari takbir, syahadat (ikrar tauhid dan kenabian), seruan salat, hingga ajakan menuju kebahagiaan.
Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana cara umat Islam pada awal masa kenabian berkumpul untuk salat sebelum lafal azan disyariatkan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, ada kisah sejarah yang sangat menarik di balik terciptanya panggilan suci ini.
Cara Muslim Dulu Berkumpul untuk Salat
Pada zaman jahiliah, belum ada mekanisme khusus atau penanda seperti azan dan ikamah untuk mengumpulkan orang-orang. Azan baru mulai disyariatkan pada tahun pertama Hijriah.
Sebelum tahun tersebut, kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW hanya mengira-ngira waktu salat. Mereka akan datang ke tempat salat, berkumpul, dan saling menunggu satu sama lain tanpa ada seseorang yang memanggil.
Dalam kitab Fikih Sunnah - Jilid 1 karya Sayyid Sabiq, terdapat sebuah hadits dari Nafi' yang meriwayatkan perkataan Ibnu Umar RA:
"Dulu, kaum Muslimin berkumpul dan saling menunggu untuk melaksanakan salat dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengajak untuk melaksanakan salat."
Karena cara saling menunggu dirasa kurang efektif-terutama bagi mereka yang sedang tidur, berada di tempat jauh, atau mengalami keterbatasan penglihatan-para sahabat akhirnya berkumpul untuk bermusyawarah mencari solusi.
Ada yang mengusulkan mengibarkan bendera, membunyikan lonceng hingga meniup terompet sebagai tanda waktu salat tiba. Bahkan ada pula yang usul untuk menyalakan api di bukit.
Mendengar usulan-usulan tersebut, Rasulullah SAW kurang menyukainya. Beliau tidak setuju karena ada unsur peniruan terhadap tata cara ibadah umat lain. Di tengah diskusi tersebut, Ibnu Umar mengusulkan, "Kenapa kalian tidak meminta kepada seseorang agar mengumandangkan seruan untuk salat?"
Rasulullah SAW kemudian berkata, "Wahai Bilal, berdirilah dan panggillah mereka untuk salat." Namun saat itu, kalimat panggilan yang digunakan belum seperti lafal azan yang kita kenal sekarang.
Lahirnya Lafal Azan Melalui Mimpi Sahabat
Titik balik sejarah azan terjadi melalui petunjuk spiritual yang dialami oleh seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid bin Abdurabbih.
Berdasarkan riwayat dalam Fikih Sunnah, Abdullah bin Zaid berkisah bahwa suatu malam ia berada di antara kondisi bangun dan tidur. Ia bermimpi melihat seseorang membawa lonceng.
Ketika Abdullah berniat membeli lonceng tersebut untuk memanggil orang salat, si pembawa lonceng justru menawarkan sesuatu yang lebih baik, yaitu mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah.
Orang dalam mimpi tersebut lalu mengajarkan lafal azan:
اللَّهُ أَكْبرُ، اللَّهُ أَكْبرُ، اللَّهُ أَكْبرُ، اللَّهُ أَكْبرُ، أشهدُ أن لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، أشهدُ أن لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، أشهدُ أنَّ محمَّدًا رسولُ اللَّهِ، أشهدُ أنَّ محمَّدًا رسولُ اللَّهِ، حيَّ على الصَّلاةِ، حيَّ على الصَّلاةِ، حيَّ علَى الفلاحِ، حيَّ علَى الفلاحِ، اللَّهُ أَكْبرُ، اللَّهُ أَكْبرُ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ
Serta mengajarkan pula lafal ikamah setelahnya.
Keesokan harinya, Abdullah bin Zaid menghadap Nabi SAW dan menceritakan mimpinya. Rasulullah SAW langsung bersabda:
"Sungguh, mimpimu itu adalah mimpi yang benar, insyaallah. Temui Bilal dan ajarkan kepadanya apa yang engkau lihat (dalam mimpi), dan hendaknya dia mengumandangkan azan dengan kalimat tersebut karena suaranya lebih baik dan bagus darimu." (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dll).
Menariknya, ketika mendengar Bilal mengumandangkan lafal tersebut, Umar bin Khaththab bergegas keluar dari rumahnya sambil menyeret selendangnya dan berkata kepada Rasulullah bahwa ia juga mengalami mimpi yang sama persis. Rasulullah SAW pun memuji Allah atas keselarasan petunjuk tersebut.
Persetujuan dari Rasulullah SAW inilah yang kemudian mengangkat lafal azan tersebut menjadi syariat resmi dalam Islam berdasarkan wahyu Allah SWT.
Wallahu a'lam.
Baca juga: 13 Waktu Mustajab Berdoa agar Cepat Terkabul |
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Kenapa Air Zamzam Tak Pernah Habis Meski Diambil Jutaan Jemaah?
Mengapa Indonesia Tak Dapat Labbaytum Award, Penyelenggara Haji Terbaik 2026 dari Saudi?
Indonesia Tak Dapat Award Penyelenggara Haji Terbaik 2026, Begini Kata Wamenhaj